DOKUMENTASI | PIRN XVIII Banyuwangi
Alisa U Zemlji Chuda
almost home
KIROKAZE
trying on a metaphor

blake kathryn

祝日 / Permanent Vacation

JBB: An Artblog!
we're not kids anymore.
AnasAbdin
Cosmic Funnies
One Nice Bug Per Day
h
dirt enthusiast
Jules of Nature
TVSTRANGERTHINGS


Janaina Medeiros
NASA

⁂

Discoholic 🪩

seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands

seen from Singapore

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from T1
seen from Bulgaria

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Singapore
seen from Bulgaria

seen from Italy

seen from United States
seen from United States
seen from Poland

seen from United States
@spacekantor
DOKUMENTASI | PIRN XVIII Banyuwangi

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Menjadi Ayah
Setiap ayah pasti ingin selalu dekat dengan keluarganya. Menghabiskan waktu sepanjang akhir pekan bergumul dengan anak dan istrinya. Bercanda tiada henti penuh tawa bahagia dan suka cita. Setiap ayah pasti selalu bahagia jika bersama keluarganya. Namun, mereka terkadang harus menyisihkan perasaan dan menjalankan kewajiban. Ada hal - hal yang tidak bisa kita pahami hanya melalui perkataan dan pandangan. Ada hal - hal lebih dalam yang tidak bisa kita selami bahkan setelah bertahun kita merasa dekat dengannya.
Itulah yang terjadi pada banyak sosok ayah di dunia ini mungkin. Mereka bekerja ketika akhir pekan tiba. Mereka berkendara ratusan kilometer untuk memenuhi tugas negara demi kesejahteraan rumah tangga. Pilu terasa semakin sendu ketika kita sadar bahwa orang terdekat kita bahkan tidak mampu memahaminya. Mereka malah menyangka kita asyik di luar, bersenang - senang dengan keadaan dan meninggalkan keluarga yang murung karena terkunci di dalam rumah.
Sosok ayah tidak akan marah, ia sudah kepalang lelah dengan ratusan kilometer perjalanan penuh kemacetan dan debu jalanan.
Sosok ayah tidak akan gusar, ia sudah terlalu jengah dengan pekik suara knalpot dan dentuman klakson kendaraan.
Sosok ayah hanya sedih tapi tidak bisa mengungkapkan karena ia bisa melihat rasa kesal dan amarah mendalam dari mata orang yang ia kasihi.
Sosok ayah hanya pasrah dan menerima tanpa perlu banyak menjelaskan.
Football isn't always about scoring goals, is about fraternity
ME
Muntaber Pada Anak (Bagian kedua)
Sebuah Pengalaman
Satu hari berlalu setelah muntah dan mencret terakhir Si Kucrit. Hati kami masih waswas meskipun frekuensi mencretnya juga sudah berkurang. Ya sebagai “new fathers” kami masih belum memiliki ketenangan dan kebijaksaan layaknya para orang tua yang sudah berpengalaman dengan kondisi anak mereka yang sakit. Hari itu pun, melihat kondisi Si Kucrit yang lunglai rencana untuk ke dokter esok tetap ada.
Ajaibnya, alhamdulilah! Besok kondisi kucrit sudah jauh lebih baik. Makanan masuk, minuman juga tidak masalah. Berangsur - angsur perkembangan kondisi dia hari itu sangat positif.Saya pun tidak jadi membawanya ke RS. Alhamdulilah. Pasokan oralit dan juga makan (tidak perlu memaksakan banyak) tetap berlangsung. Dengan sabar kami bergantian menyuapi Si Kucrit. Capek juga sih jalan - jalan gendong bayi sambil keliling kampung hahaha.
Berangsur - angsur kondisi Kucrit sudah semakin sehat. Melewatkan akhir pekan dengan fokus sepenuhnya kepada pemulihan anak yang sakit cukup menguras tenaga tapi tidak sebanding dengan kebahagiaan yang diterima. Kami bersyukur karena fase diare dan muntahnya sudah berlalu. Sejak itu juga setiap subuh di akhir pekan minimal; saya ngepel hahaha
Kebiasan menjaga kebersihan lingkungan dan personal semakin kuat diantara keluarga kecil kami. Sekarang sanitizer a.k.a desinfektan cair sudah harus tersedia setiap saat, mainan senantiasa dibersihkan secara berkala, begitu juga peralatan - peralatan keperluan Si Kucrit. Kami harus menjaganya bebas dari penyebab penyakit. Ada beberapa hal penting yang menjadi perhatian jika seseorang terkena muntaber yakni:
1. Selau perhatikan asupan cairannya
Karena musuh utama muntaber adalah dehidrasi. Meskipun asupan makan sulit suplai oralit atau cairan harus tetap terjaga. Hidrasi adalah nomer satu.
2. Selalu jaga kebersihan.
Cuci tangan setelah mengganti popok atau beraktivitas di luar. Dan tetap menggunakan pembersih instan seperti hand’s sanitizer jika diperlukan. Tidak lupa untuk mengganti seprei yang kotor atau juga baju - baju yang terkena muntahan.
3. Perhatikan asupan makanan dan minuman selama muntaber.
Ada beberapa makanan yang sebaiknya dihindari selama seseorang muntaber. Ini yang harus dipatuhi. Supaya lebih cepat sembuhnya.
Sekarang, anak kami sudah sehat seperti sedia kala. Senang rasanya melihat dia kembali aktif dan ceria. Pelajaran berharga bagi saya dan istri saya.
Muntaber Pada Anak
Sebuah Pengalaman
Hari minggu pagi sekitar jam setengah tiba - tiba “Si Kucrit” bayi kami berusia 11 bulan terbangun dalam keadaan mencret. Kaget dan masih linglung bundanya langsung membersihkan badannya dengan air dingin, makin menjeritlah dia. Selang beberapa saat, kucrit yang masih rewel muntah. Duh rasanya langsung dagdigdug gak karuan. Sedih lihatnya kepayahan. Meski ini bukan pengalaman pertama melihat dan mengalami perawatan anak yang sakit tapi ini yang kurasa paling berat.
Siang menjelang kami memutuskan membawa kucrit ke RS. Salamun. Langsung ke bagian IGD. Setelah melalui pemeriksaan yang singkat mereka memberikan opsi untuk dirawat atau dibawa pulang (Rawat jalan). Dokter jaganya juga nampaknya lebih condong mempersilakan kami melakukan rawat jalan karena kucrit masih terhidrasi dengan baik. Memang sih, meski dia nangis dan pup (terhitung sudah lebih dari 5 kali pada saat itu) selera minumnya tetap bagus. Yaudah, kami bawa pulang.
Siang menjelang sore, kondisi kucrit sudah mulai susah makan. Makin sedih. Walau minumnya tetap jalan (kami kasih oralit) tetap saja terlihat perutnya semakin kembung. Dokter meresepkan obat anti mual dan juga antibiotik. Diagnosa awalnya sih waktu itu terkena GER.
Malam menjelang, kucrit rewel. Beberapa kali juga mencret. Kami berdua sedih bukan kepalang bukan karena kami capek atau bosan tapi lebih karena sedih melihat kondisi kucrit yang kepayahan karena muntaber. I’m so sorry dear. Malam itu kami menghabiskan dengan bobo sambil tetap waspada memperhatikan kondisi si kucrit.
Hari kedua
Pagi hari setelah dicek, ternyata kucrit masih mencret semaleman. Kondisi feses menunjukan dia emang sedang diare. Walhasil oralit selalu saya berikan sedikit demi sedikit agar tetap terhidrasi. Hanya makanan yang amat sulit masuk. Bundanya juga mulai frustasi karena dia ingin kucrit makan lebih banyak padahal dengan kondisi mual - mual tentu sulit yah gaes.
Seperti rencana kami kemarin, kami berencana membawa kucrit untuk cek dan ricek kondisi terkininya di Polii Anak. Meluncurlah kami ke RS Salamun eih ternyata aku lupa bahwa untuk mendapatkan pelayanan via BPJS mesti mendapatkan rujukan terlebih dahulu dari puskesmas. Balik lagi deh ke puskesmas.
Puskesmas tempat kami periksa ialah Puskesmas Lembang. Khusus polii anaknya saya harus mengacungkan jempol! Pelayanannya memuaskan dokternya baiiik banget. Perhatian dan meyakinkan seperti benar - benar mengetahui seluk beluk permasalahan pada bayi which is something you need to take as assertive prevention care as well. Karena kalau meyakinkan berarti kan kita juga lebih lega dong. Percaya dokternya/bidannya paham yang dia lakukan.
Setelah diperiksa karena ini adalah kali kedua dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan kucrit terkena diare, Si Ibu Bidan mencak - mencak (dengan baik hati tentunya) bahwa kami sebagai orang tua harus lebih fokus dalam menjaga higienitas tempat kami tinggal. Terutama segala peralatan yang bersinggungan langsung dengan kucrit. Dalam hati sambil melihat kucrit saya turut mengamini.
Bu Bidan hanya memberi tambahan obat kembung dan tidak lupa menekankan harus bahwa antibiotik harus dihabiskan serta jangan lupa pemberian zinc dan juga oralit. Kami pun pulang dengan sedikit kecamukan dalam pikiran tentang perawatan kucrit. Bundanya sepertinya paling bingung dan frustasi karena memikirkan gimana makanan bisa masuk. Hemmm....
Sore berganti malam, saya yang sempat ngantor segera pulang dengan perasaan cemas bukan kepalang. Saya bawa motor sambil sesekali berakselerasi supaya lebih cepat sampai di rumah. Bahaya sih, apalagi dengan kondisi fokus yang justru tertuju pada bayi di rumah. Sesampainya di rumah, saya cek kondisi kucrit sudah dibalur bawang oleh bundanya. Dia pun sudah bisa bersendawa dan sedang asyik bermain. Bahagia melihatnya.
Tidak berapa lama, kucrit kembali rewel ternyata dia sudah agak susah minum terutama oralit (Mungkin karena oralitnya berasa manis) walhasil saya menjadi amat cemas. Karena takut dia dehidrasi apalagi hanya mengandalkan asupan cairan asi aja. Hemmm... belum selesai drama gak makan sekarang drama gak mau minum. Dalam hati saya dan bundanya mungkin selalu berdoa semoga penyakitnya segera Alloh angkat.
Sudah malam, kucrit juga sudah mulai mengantuk capek mungkin yah badannya kesiaan banget. Tubuh kedjil semakin kedtjil. Setelah disusi dia langsung terlelap. Oralit yang sudah saya buat pun masih tersisa banyak di botol. Saya hanya berharap tubuhnya segera semakin kuat melawan patogen di badannya.
Kejutan menyenangkan
Sekitar jam setengah 12 jendela kaca tidur kami digedor seseorang. Kami kaget, saya yang belum sadar penuh mengira itu adalah tetangga yang membutuhkan pertolongan urgen. Eh ternyata setelah pintu dibuka. Neneknya kucrit datang! Ia datang langsung dari Depok.
Saya kaget dan setelah bertanya neneknya memang tidak memberitahukan kedatangan karena takut nanti merepotkan makanya langsung pergi dan hanya menggunakan Go - Jek dari Pool Travel di baltos untuk sampai di rumah kontrakan kami di Lembang.
Kucrit juga terbangun dan menangis lagi karena tidurnya terganggu. Drama malam itu berlalu setelah badannya dibalur bawang dan dikerokin sama neneknya. Kurang dari 1 jam semua terlelap.
Pagi harinya, kondisi perut kembung kucrit berkurang. Alhamdulilah. Meski masih khawatir karena dia belum cukup minum oralit, saya memutuskan untuk berangkat kerja karena keberadaan neneknya cukup membuat kami yakin bahwa kucrit akan mendapatkan cukup atensi hari ini. Sebelum berangkat saya melihat sekilas Umi (Nenek kucrit) sudah menyuapi dia bubur. Sedikit lega dan semoga nanti pas pulang tidak ada kabar yang saya dengar selain kabar baik mengenai kondisi kucrit.
Bersambung...

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Saya membuka kembali lembaran - lembaran halaman silam di fb. Banyak teman lama yang rupanya sudah sama sekali berubah ^_^ sebagian terlihat menjadi lebih tua sebagian yang lain malah kelihatan tambah muda.
Ada kisah - kisah yang terpantul dari setiap muka. Saya mengingat sebagiannya, tentang cinta tentang persahabatan bahkan ada pula kepongahan masa silam.
Mereka yang tidak pernah tidur dalam do’anya selalu menemukan kebahagiaanya. Sebagian langgeng mungkin akan sampai senja. Sebagian lain masih mencari bahkan hingga kini. Jomblo ehehehe
Sebagian masih hidup dan sebagian sudah menjadi memori dalam ingatan kita semua. RIP #ayusinaga. Hidup dan mati adalah rahasia dan menjadi tugas kita untuk menjalaninya saja.
Perangai - perangi dan tingkah konyol kalian terkadang masih terbayang. Saya masih ingat bagaimana kita urunan membeli mi ayam sari raos yang rasanya teramat lezat itu. Saya juga masih ingat ritual makan baso setelah jumatan.
Praktek TKJ atau RPL atau bahkan APK sama saja. Kita begadang terkadang kebanyakan dihabiskan malah dengan adu strategi catur, atau lebih keren dikit yaa pb hehehe.
Saya rindu masa itu. Saya rindu kawan - kawan TKJ, kawan - kawan APK, dan tentu kawan - kawan RPL. Saya rindu #smkwikrama. Namun bukan seperti lagu, saya rindu tidak untuk kembali namun merenungi apa yang sudah dilewati. Terima kasih.
Harga diri kita tidak datang dari barang yang kita pakai
Sabtu Bersama Bapak
Panut Kepala Diukur
Sudah bilang saja tak mau! atau lebih jelasnya tidak peduli. Kubanting pintu baru tahu. Sajak ini tidak akan lekang karena waktu. Siapa saja bisa membacanya tanpa perlu untuk ragu. Kami bilang ini kamu bilang itu! “Siapa yang perlu dengan kalian,” pongahmu. Kujawab keras tetapi lembut. Hanya Tuhan yang mendengar dan seluruh hati yang gundah gelisah. Kebijakan yang tak tentu menambah semrawut kecemasan. Kita tidak berpeluh hanya saja sering mengeluh, terduduk.
Sampai kapan ketidakjuntrungan ini berlalu. Belum apa - apa sudah mengetok palu. Kau pelindung apa pengusung? bicaramu tidak segagah perbuatanmu. Tidak ada yang akan mengenang hari ini. Apalagi jasamu bagi kami. Hanya tenunan - tenunan waktu yang kunjung bosan. Maju saja susah, mundur akan lebih singkat. Sudahlah, jangan suruh kami manut, kami hanya ingin memarkir kendaraan di sini. Tidak dimana - mana. Apalagi belantara ibukota.
Jagoanku
Sudah kutimang berapa kalipun tidak ada bedanya,
Tawanya tetap menjerat dan air liurnya selalu terciprat, aku ciuuum.
aku uselusel aku peluk dan baui seluruh badannya...
Tidak usahlah cepat besar
Sudah kucium berapa kalipun wanginya tetap sama,
Tawanya keras menjerit, bahagia, aku ciuuum.
aku uselusel aku peluk dan baui seluruh badannya...
Tidak usahlah berpikir tentang nanti besar
Sudah kutempeli pipinya dengan pipiku tetap diam,
Tawanya berganti senyum sesekali terkekeh tetap lucu,
aku uselusel aku peluk dan baui seluruh badannya...
Kesayangan daddy, jagoan daddy tidak usahlah memikirkan nanti
I'm a father now, and I'm still a boy
Me

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Membeli Rumah Bagian Ke-Dua
Siang hari yang agak mendung kuajak Ibu Mertua lihat - lihat beberapa lahan pengembang. Satu diantaranya berlokasi di Jatihandap, kesanalah kami menuju. Sesampainya di sana, kutunjakan seluas pandangan tanah lapang berundak landai memanjang hingga ke bawah. Selepasnya pemandangan kota terhampar tertiup kabut. “Di sini Mi, perumahan yang tahap 3 mau Aa beli,” ucapku setengah hati. “Loh tahap 1 - 2 emang abis A?” tanyanya. “Iyah Mi,” jawabku singkat.
Tidak terlalu lama, 3 motor datang beriringan. 2 orang wanita dan 4 orang pria menggerombol dan mendekati area tanah. “Nah ini salah Pak, jadi yang cancel itu posisinya di sini,“ seloroh salah seorang bapak setengah baya. Nampaknya dia adalah tenaga marketing perumahan ini. Tak diduga, Umi menghampirinya “Mas marketingnya? tahap 1-2 sudah abis yah mas?” sergah umi tak sabar. “Iyah bu sudah tapi ada yang cancel, sebentar yah bu saya jelaskan ke client saya dulu ini,” cakap Si Marketer berbusa - busa. Umi pun kembali menghampiriku. Ia duduk di bangku kayu panjang yang ada di situ.
“Maaf yah bu, tadi itu client saya juga mau lihat lokasi yang dicancel,” seru Si Marketer mendekat. Wajah Si Marketer terlihat penuh peluh, logat bicaranya menandakan jika ia dari Padang. “Mungkin ini jodoh Aa dan ibu ini ada pembeli yang cancel,” cerocosnya. Mulailah Pak Iwan, nama marketer tersebut menjelaskan panjang lebar prospek perumahan hingga sebab musabab pembeli sebelumnya cancel. “Begitu bu, jadi Aa dan ibu ada kesempatan tapi saya tidak bisa janjikan karena sebelum Aa dan ibu juga masih ada 2 orang lagi. Karenanya, saya minta mohon ibu dan Aa bersabar. Kalau 2 orang ini tidak jadi berarti mungkin memang rumah di sini jodohnya Aa,” ucapnya.
--bersambung--
Membeli Rumah?
Sudah 2 tahun domisili di Kota Kembang. Awalnya sih cuma cerita - cerita bahagia dan merana. Lambat laun malah masa depan semakin nyata. Terutama setelah tinggal se-atap dengan Si Dia. Sisa cerita untuk tahun ini rasanya sudah ada di tangan. Yaitu tentang Rumah Baru.
Membeli rumah di sini susah, susah sulit! hahaha bukan cuma karena lahan yang terbatas tapi terutama harga yang kian muahaal. Apalagi untuk mereka yang berpenghasilan pas - pasan. Sempat berpikir untuk cicil apartemen tapi setelah dipikir dan dipertimbangkan masak - masak rasanya rugi. Sekarang, harapan dan desakan untuk memiliki rumah sendiri makin besar. Apalagi setelah nanti bayi pertama keluarga kecil ini lahir.
Awal Tahun Bermula
Menginjak kaki di 2018 seakan menemukan rumah baru untuk bernaung. Aku percaya setiap waktu yang terlewati sejatinya adalah perjalanan diri untuk menemukan apa yang telah terlampaui sebelumnya. Tahun 2018, semestinya, aku percaya... merupakan tahun dimana bahagianya hidup dan cerahnya hati dapat menjadi bagian dari sehari - hari. Prestasi yang mengalir, cerita dan derai tawa yang teruntai serta kebersamaan dengan semua orang yang kita cintai dan sayangi. Tahun 2018, seharusnya, aku percaya... merupakan tahun dimana aku bisa belajar dan bertumbuh lebih hebat. Lebih hebat dari perkiraan sendiri.
2018 Rek Nanaonan!
Kata Ustadz Evie Effendie mah, 2018 so what gitu loh?! yes. Saya setuju dengannya. Tahun 2018 seperti tidak berbeda dengan tahun - tahun lainnya. Kecuali kita sendiri yang memberikan perbedaan tersebut. Perbedaan yang membuat diri kita lebih hidup, lebih bahagia dan lebih bersyukur untuk segalanya. Selamat datang di 2018! Rek nanaonan?!
Sekilas 2017, tahun yang penuh jawaban. Tahun dimana aku menjelma menjadi seorang yang rasanya tidak akan pernah aku bayangkan. Menjadi seorang suami. Sosok yang kuat sekaligus lemah. Sosok yang tegas sekaligus lembut. Dan sosok yang menggetarkan sekaligus dirindukan.
Diriku baru sadar, menjadi suami tidak semudah yang kubayangkan. Tidak juga sesulit yang kukira. Semuanya mengalir begitu saja. Satu dua tiga bulan pertama, hingga menginjak hampir satu tahun bersama. Aku semakin kenal dengan diriku sendiri melalui prilaku istriku... kami seperti cermin. Hanya saja berada pada sisi yang berbeda. Namun tetap satu jua.
Tahun 2017 mengajarkanku banyak hal, terutama pengorbanan dan penerimaan. Hidup bisa menjadi pelajaran tiada akhir yang amat menyakitkan. Jika engkau memang tidak bisa menerima kenyataan. Diriku cukup beruntung untuk dapat mempelajarinya lebih dulu sehingga bersiap dan berdamai dengan semua penyesalan dan harapan.Aku juga belajar banyak tentang rasa ikhlas. Memahami bahwa hidup memang milik kita tapi juga mutlak kehendak-Nya. Jadi sudah sepantanya jika sebagian dan seluruh pengorbanan yang direlakan akan menjadi keyakinan kebahagiaan di masa mendatang. Aku percaya... semua akan berubah lebih baik jika kita merelakannya.
Sekarang 2018 dan resolusinya masih tetap sama.
LEBIH BAHAGIA, LEBIH BERSYUKUR dan LEBIH BERUSAHA.
The Day is comin' you better be ready when it hits!
Me

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Menggantung Resah
Hari Selasa ini layaknya Hari Senin. Tanggal pertama masuk kerja yang jatuh pada hari kedua. Membuatnya sedikit tidak nyaman. Terutama ketika kamu telah berlibur dan menghabiskan waktumu dengan sangat bahagia bersama karib atau keluarga. Hari pertama bekerja selalu menjadi kendala.
Namun bukan itu yang menjadi penanda hariku. Penanda hariku adalah rasa khawatir yang membuncah. Pagi yang lelah menjadi awal rupanya. Semula aku rasa dia baik - baik saja, setelah ditinggal dengan kecupan dahi dan lambaian tangan. Aku baru saja tiba di kantor kala menerima pesan singkatnya. “Aku pendarahan,“ aduh.... bergegaslah sesegera mungkin menuruni tangga, meraih gagang motor, dan melaju secepat mungkin. Berharap tidak ada kejutan buruk hari ini.
Rasa resah berganti gelisah ketika mendapatinya baik - baik saja tapi dengan pucat di wajahnya. Tidak butuh waktu lama. Aku membawanya menitipkannya pada Tuhan melalui perantara dokter kandungan. Semoga dedebayiutun baik - baik saja.
Resah yang menggantung pagi ini masih tersisa, bahkan ketika hari beranjak siang dan tugas pekerjaan datang mengantre...
Resah yang menggantung pagi ini nyatanya belum sepenuhnya tuntas karena Sang Dokter pun belum tiba dari tindakan...
semoga Resah yang menggantung pagi ini segera sirna oleh kabar bahagia....
Kereta Yang Tertunda
Sudah kubayangkan senja itu datang
hari dimana aku, kamu dan seisi kereta berjumpa tuk tak saling menyapa
pikiran kita tertuju pada Jakarta dan beberapa prasangka
gelisah melihat dan membayangkan orang - orang tidak disuka
bahkan sebelum kita mengenal mereka
Aku suka kereta. Perjalanannya melambat kala peron mendekat. Memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk menengok atau sekedar tersenyum menyapa
Aku suka kereta. Jendelanya kuning kemerahan terkena semburat mentari senja. Menyilaukan mata tapi tidak sedikitpun menyakiti hati di dalamnya
Sudah kubayangkan sendja itu datang
hari dimana kita semua menjadi perenung sejati.
Hanya memaknai diri dan orang lain tanpa memahami apa yang berada di baliknya
Bahkan sebelum kita sadar kereta ini sudah sampai di Jakarta
Sayangnya, hariku berganti dan namaku di Gambir 28 pun tidak menjadi