Maaf, karena tidak bisa meyakinkan diriku sendiri. Aku tahu, atau boleh dibilang sok tahu. Secapek dan selelah apa kamu selama ini. Hingga pada akhirnya kamu sepasrah itu. Aku sebegitu terlenanya, sebab sejauh apapun kamu bertualang, dengan PD-nya kepadaku kamu akan pulang . Namun tidak untuk saat ini, aku benar-benar kehilangan. Aku harus kehilanganmu, teman baikku, atau bahkan lebih dari sekadar teman.
Mungkin ini memang sudah takdir untuk kita berdua. Tidak diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang bersama oleh semesta. Kebersamaan kita selama ini begitu rumit, cukup membingungkan. Atau memang sebagai laki-laki aku yang mestinya harus disalahkan. Tidak ada kepastian yang bisa kuberikan yang mungkin saja selama ini kamu harapkan, sekali lagi maaf.
Tak hanya aku, kamu juga mungkin paham. Ini hanya sebentar, cepat atau lambat dengan yang membahagiakan kamu akan bisa menerimanya dengan hati yang lapang. Tidak usah merasa ingkar janji, tidak usah merasa bersalah atas hati yang patah. Memang ini sudah resikonya. Aku juga sudah tahu bahwa pada akhirnya akan seperti ini.
Terima kasih sudah menjadi teman yang baik selama ini, terima kasih untuk setiap baik dan burukku yang selalu kamu maklumi. Terima kasih sudah berusaha semaksimal mungkin untuk berbagi semua hal denganku. Maaf, atas ketakutanku untuk memberikan kepastian, yang pada akhirnya membuatmu dipaksa pindah haluan oleh keadaan. Kamu pasti juga bisa merasakan, bahwa sebenarnya meski tanpa kejelasan, kepadamu aku sangat sayang.
Sekarang aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu dari kejauhan. Sebentar lagi kamu akan dimiliki seseorang. Semoga dia selalu siap dan bersedia memberikan apapun yang tak bisa kuberikan. Jaga dirimu baik-baik ya. Aku mencintaimu. Aku menyayangimu.












