pengennya hidup kayak di anime shoujo romantis, tiap pagi commute bareng gebetan yang adalah tetanggaku sendiri, atau gebetan yang secara sengaja menunggu di depan pintu tiap pagi biar bisa berangkat bareng. pulang siang–sore sambil bercengkrama sama teman-teman. pulang ke rumah disambut rasa hangat kekeluargaan dan ayah yang tidak takut menanyakan kabar anak perempuan satu-satunya itu. ganti baju, mandi, telponan dengan teman bahas pekerjaan rumah hari itu. nangis-nangis karena gak paham materinya, tapi gak apa, gak sendirian dan hidup tetap berjalan bersama gebetan, keluarga, dan teman-teman. gak apa. kamu gak sendirian dan besok masih dapat pergi ke sekolah lagi. di series ini kamu tidak berhenti sekolah. kamu tidak harus meninggalkan kehidupan anak sekolah yang kamu impi-impikan. kamu tertidur lelap tiap malam persis sebelum pergantian hari. dingin kamarmu pas, tidak terlalu dingin, tidak terlalu hangat. kamarmu tidak berdebu, alergi debumu pun senang. ada cukup ruang di dinding untuk taruh foto-fotomu bersama yang tersayang. dan esok hari, kamu akan pergi sekolah lagi, ke kantin bersama teman-teman dan pacar mungil kesayanganmu itu, saling menjalin tangan dan risol mayo 3rb jadi saksi kisah cinta kalian yang jalannya tidak semulus jalan di depan sekolah yang baru saja di aspal—sebab kalian berdua dilahirkan sebagai perempuan. tapi tidak apa. cinta dan premis romantis ala shoujo anime ini sudah cukup. tidak ada mimpi buruk karena hal buruk tidak eksis di series ini. semuanya dapat dilihat dengan baik. kamu tertidur lelap, nyenyak sekali. aku iri setengah mati.
kamu bangun tepat waktu, di atas tempat tidur busukmu yang di awal. ini bukan tontonan jejepangan bergenre shoujo, ini hidup. ini bukan kisah klise yang anak perempuan damba-dambakan. ini hidup. yang selalu kamu hindari. yang selalu kamu anggap menjijikan. setidaknya kamu bangun tepat waktu dan tidak tidur 16 jam seperti hari-hari biasa. kamu yakin ada sesuatu dalam kehidupan ini yang tidak bisa kamu raih, banyak, bahkan. kamu bukan perempuan berumur 30-an tahun dengan satu orang anak perempuan yang hidup di jepang, kamu bukan protagonis buku Territory of Light milik Yuko Tsushima, tapi ada sesuatu dalam hatimu. ada cinta yang tidak kunjung disiram dan disinari, ada cinta yang terus-menerus terpaksa ditutup, tidak dirangkul namun dikubur, cinta tersebut berubah jadi sesuatu yang sebaik-baiknya jangan diberi nama, manifestasinya terbagi dalam dua bentuk: 1) tangis menjerit berkaok-kaok mengutuk segala hal yang ada, yang disaksikan oleh kedua mata anak perempuanmu; dan 2) tangis tersoak-soak saat telepon tidak tersambung, yang terdengar hanya nada dering untuk meninggalkan pesan nanti, kamu menangis. kamu terduduk, seperti duduk bukanlah pilihan dan gravitasi menarikmu turun, kamu tidak ada tenaga untuk mengutuk siapa-siapa, tidak ada tenaga untuk menjerit seperti biasa—sepertinya ini adalah keuntungan sebab hari sudah malam dan anakmu tidak perlu tidurnya diganggu oleh tangisanmu. kamu menangis. sudah satu jam kamu menangis. masih terduduk. kamu menelepon nomor yang tadi, masih sama, tinggalkan pesan di telepon. masih menangis, tapi ada yang berubah sekarang. kamu berpesan: jangan. jangan... jangan. jangan lakukan ini. sudah tidak ada cinta di antara kita tapi jangan begini. satu hari lagi, beri satu hari lagi lalu hakimi aku di depan semua orang, satu hari lagi. jangan pergi.
tidak akan ada balasan untuk pesan yang satu ini, aku tahu itu. tidak peduli betapa kerasnya kamu menangis saat malam, hari esok akan datang tanpa belas kasihan, wajah anakmu masih terlihat seperti milik ayahnya. hari esok akan datang dan tidak ada yang berubah. kecuali cinta yang kaukubur makin jauh masuk dalam tanah. cinta akan kehilangan konsep awal dalam kepalamu, cinta akan mulai mengambil bentuk dalam hal-hal yang kamu sumpahi tak akan pernah lakukan, cinta tidak akan bernama cinta lagi. ngeri. ngeri sekali. tapi sudah sejauh ini. kamu sudah sejauh ini. penutup dan penghiburan terakhirku: semua buruk yang kamu dendami adalah cinta pada mulanya.