hello vonnie
occasionally subtle
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
𓃗
Misplaced Lens Cap
TVSTRANGERTHINGS
Sade Olutola
Today's Document

Discoholic 🪩
YOU ARE THE REASON

roma★

Love Begins
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Cosimo Galluzzi
Jules of Nature
🩵 avery cochrane 🩵
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
noise dept.

seen from Germany
seen from Spain

seen from United Kingdom

seen from Finland
seen from Canada
seen from Uzbekistan

seen from United States
seen from Bangladesh
seen from United States

seen from United States
seen from Mexico
seen from Mexico

seen from United States

seen from Mexico

seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@sleepyheadsquirrel

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Hari yang Berganti Begitu Cepat
Rasanya, menulis di halaman ini seperti baru kemarin sore. Ternyata sudah seminggu yang lalu. Sama cepatnya dengan kehidupan rumah tangga. Rasanya baru kemarin malam menidurkan anak, sekarang sudah malam lagi. Begitu seterusnya, waktu berjalan begitu cepat.
Tak terasa, usia juga beranjak. Tanggungjawab semakin bertambah. Segala sesuatunya terasa semakin cepat. Yang melambat mungkin hanya langkah kita, kita kalah cepat dengan waktu.
Kita masih memikirkan begitu banyak kekhawatiran. Begitu cemas pada kemiskinan, kesendirian, dan hal-hal lainnya yang terasa menghabiskan begitu banyak waktu. Waktu yang terbuang hanya untuk memandangi semua kekhawatiran itu tanpa berbuat apa-apa.
©kurniawangunadi | 6 November 2019
Exactly, this
Sedang sesensitif itu, sampai menangis tanpa terisak selama nonton video ini. Isi videonya adalah tentang perjalanan mereka berdua, tentu saja, yang sebenarnya diakhiri dengan pemberitahuan kehamilan sang istri setelah penantian sekian lama. Video sederhana, tapi entah kenapa sukses buat aku bubar jalan.
Terlebih tadi sore, mamaku mengutarakan bahwa beliau ingin melihat aku segera menikah. Ingin lihat aku punya seseorang yang selalu bisa aku andalkan, dan mendapat banyak keberkahan setelah menikah. Dari semua masalah yang sedang menimpa beliau, beban yang menghampiri secara bersamaan, yang beliau utarakan malah hal tersebut. Mungkin yang beliau lihat sekarang adalah, aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri, terlalu berhati hati dengan kejadian di masa lalu, sehingga tidak mempunyai progress apapun dalam perjalanan asmaraku sendiri. Ya.. nggak salah juga sih.
Entahlah, kadang merasa aku tidak cukup untuk dicintai. Melihat bagaimana sang suami sangat mencintai istrinya di video tersebut dengan caranya sendiri, aku jadi berpikir.. apa akan ada orang yang melakukan hal itu nantinya buatku? Am i deserve that kind of love? Karena aku sangat—sangat takut sekali untuk berharap. Semua hal yang sudah terjadi berhasil memupuk rasa insekuritas yang tinggi dalam diriku. Tidak terlalu ingin memikirkan karena aku tau hal ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat, tapi aku sendiri tidak yakin apa aku bisa 🙂 semua keraguan selalu muncul, tapi tidak dengan percaya diriku.
Jadi, aku harus apa, ya?
begini lagi
Ketika kamu dihadapkan ragu,
Pada ekspektasi seorang individu,
Lantas, apakah kamu terus maju,
Atau biarkan ia asyik dengan dunianya dahulu?
Ketika dihadapkan pada semu,
Pada cinta yang pernah menggebu,
Dengan usaha yang tidak sehangat dulu,
Apa harus menunggu, atau mundur dengan kelu?
Ketika harapan dan mimpi yang dibuat,
Tidak sesuai dengan yang kini terlihat,
Apa aku masih bisa berharap dan berkutat,
Dengan gelisah, meski terasa berat?
Ketika katamu dua menjadi satu,
Namun kini, satu hanyalah satu,
Tidak ragu untuk melaju, tapi ia tetaplah satu,
Maka bolehkah aku, untuk masih peduli atasmu?
Walau mungkin, mungkin kamu juga begitu,
Tapi tidak sebanyak aku.
Ketika cinta yang pernah hangat dan lugu,
Hingga terkenang, setidaknya dalam sewindu
Bisakah kita mengulang momen seperti dulu,
Menemui dan ditemui, hanya karena rindu,
Atau sekedar bertukar suara di telepon, jika terlalu malu?
Karena malam sudah tiba,
Dan alam tidak lagi bercengkrama,
Maka, bolehkah aku yang sedang gulana,
Untuk sedikit bercerita?

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Biar
Tidak apa-apa. Mungkin kini waktunya aku menunggu.
Tidak apa-apa. Lebih baik menunggu, mungkin sebentar lagi kamu bicara, daripada kamu terluka akan apa yang ku pertanyakan.
Tidak apa-apa. Mungkin kamu punya alasanmu sendiri.
Aku tidak apa-apa.
:)
Membangun visi misi keluarga itu berangkat dari memilih pasangan hidup.
Libatkan Allah terus, minta Allah untuk menuntun. Bersegera, tapi jangan tergesa. Pilihlah yang memiliki nilai dan prinsip yang tak berseberangan secara fundamental denganmu, apapun itu, yang menjadi peganganmu.
Sholeh/ah itu luas. Peranan yang mau diambil untuk berusaha menjadi alim atau takwa itu banyak. Yang wajib adalah wajib. Sisanya soal pemikiran, kedewasaan, karakter, keluarga besarnya, pekerjaan, dan lain-lain takarlah di takaran yang sekiranya bisa kita tolerir. Sesuai kemampuanmu menerima.
Bertanyalah saat proses, pelajari dirinya dari caranya memerlakukan keluarganya atau anak kecil, periksa hubungannya dengan teman dekatnya. Ikhtiar ini, bisa kita optimalkan.
Ini nasihat, buat teman-teman yang sedang berproses. Selanjutnya, sejak awal hingga akhir bertawakkallah kepada Allah..
Ingat, jangan dicari kesempurnaan itu. Tak bakal kamu temukan pun sampai habis daya kamu mencarinya.
Ingat-ingatlah, menikah ini ajang beribadah. Kalaupun kamu punya sedikit petunjuk tentang dia dari usahamu mencari, mengorek, sedang sudah istikharah, direstui, dan memiliki kemantapan hati, maka…selama kamu libatkan Allah dan restu kedua orangtuamu, Allah nanti yang akan menuntunmu dengan caraNya.
Berumahtangga itu tak mudah, tapi dengan kuasaNya, pasti kita sanggup melaluinya.
Jawaban Al Qur'an Atas Resahmu
@edgarhamas
Ketika kamu merasakan kesedihan, melihat kebenaran tak kunjung menang dan bahkan semakin hari semakin membuatmu bergeleng kepala menyaksikan kecurangan-kecurangan yang tiada putus,
“Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (Al Baqarah 214)
Ketika kamu dipertontonkan laga manusia berlomba-lomba mencari dunia demi dunia. Duduklah dan dinginkan matamu dengan,
“Dan kehidupan dunia ini hanya senda-gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (Al Ankabut 64)
Ketika kamu mengira bahwa dunia itu tujuan utama sehingga kamu harus banting tulang mengumpulkannya, dan ketika ada yang membisikkan bahwa akhirat bukanlah segalanya, ternyata terbalik,
“Dan carilah negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia..” (Al Qashash 77)
Ketika kamu gemetar menyangka orang-orang zalim akan berhasil membuatmu tak berdaya, kamu mengira bahwa mereka begitu rapi menciptakan tipu daya, ternyata kenyataannya adalah,
“padahal Allah mengepung dari belakang mereka” (Al Buruj 20)
Lalu mereka mengira bahwa dusta-dusta dan makar mereka akan terlupakan. Mereka yakin orang-orang beriman mudah melupakan kejahatan dan tak akan menuntut apa yang telah mereka lakukan, nyatanya
“dan Tuhanmu tidak lupa.” (Maryam 64)
“Tapi, kita kan lemah, kita tak ada apa-apanya dibandingkan kehebatan mereka menguasai sumber-sumber kekuatan”, begitu kamu bergumam. Tapi Al Qur'an sudah bilang,
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi.” (Al Qashash 5)
Al Qur'an memberikan energinya pada siapa yang mau datang padanya. Semakin kau dekat, semakin kau kuat. Itulah yang membuat mereka selalu mencari cara menjauhkanmu dari energi Qur'ani,
“Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur'an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (mereka).” (Fusshilat 26)
Tiga Minggu
“Gimana rasanya, Yan? Nggak kebayang gue!”
“Sumpah lo? Boong banget sih. Gausah bercanda, gila!”
“Gue nggak nyangka kejadian ini beneran nyata adanya, apalagi sama temen gue sendiri!”
Begitulah ungkapan isi hati teman-teman terdekatku ketika kuceritakan apa yang terjadi, sekitar 3 minggu lalu, dan masih banyak sumpah serapah serta teriakan yang diucapkan oleh mereka.
Oke, aku udah nahan banget untuk nggak nulis ini. Aku ngerasa ini bukan hal yang perlu untuk diceritakan lah. Tapi karena spekulasi netizen-netizen budiman yang merasa aku nggak pernah nulis apapun di medsos tentang kejadian ini sehingga aku di-judge aneh-aneh, maka keluarlah sedikit isi hatiku disini.
Pertama,
Aku sedih setiap dinilai orang-orang karena aku nggak pernah post apapun terkait batalnya pernikahanku, yang harusnya diselenggarakan seminggu lagi. Mereka bilang, “Dian nggak update apa2, berarti nggak sedih2 banget tuh. Padahal cewek biasanya banyak update kalo lagi sedih.”
Menurutku, cerita kurang menyenangkan aku ini nggak perlu diketahui oleh orang-orang yang hanya ingin kepo, tapi nggak peduli-peduli amat sama aku sebenarnya. Selama proses penangguhan sampai setelah pembatalan, hampir setiap hari setelah pulang kerja aku nangis sesenggukan, kena maag, sampai Eczema-ku yang sudah hampir 2 tahun hilang kini datang kembali. Aku merasa, aku yang paling sedih disini, di hubungan ini, karena sudah banyak mengecewakan orang banyak, merugikan baik moral maupun materi khususnya keluarga, dan sebagainya. Jadi tolong, teman-temanku yang baik hati.. kalau memang nggak deket-deket banget sama aku, nggak peduli sama aku, tapi kalian ingin tahu ceritaku, tolong nggak usah berkomentar apapun yang kalian nggak tahu.. tanya teman-teman terdekatku saja. Rasanya sakit sekali kalau ada teman-teman yang tidak dekat denganku tiba-tiba chat bertanya ada apa denganku, namun setelah tau semuanya merekapun bereaksi biasa saja, karena mereka memang hanya ingin tahu, bukan benar-benar peduli.
Kedua,
Sedikit curahan hati ini kutulis karena dia, orang itu, sudah mempublikasikan bahwa dia sudah memiliki pujaan hati yang baru, dalam kurun waktu 3 minggu.
Aku tidak marah, tidak akan bertanya, apalagi menuntut apapun, karena memang aku tidak lagi memiliki hak untuk itu. Aku merasa bersyukur, dan berpikir, ah.. ini jawaban dari keraguanku selama ini. Mungkin ini jawaban dari doa siang dan malamku selama ini.
Memang apa jawabannya? Mari kembali mengingat sebuah film yang memiliki judul dengan situasi yang cukup bisa menggambarkan kondisiku saat ini. Film yang tayang 10 tahun lalu, dibintangi oleh sejumlah aktor dan aktris Hollywood papan atas, yang berjudul,
He Just Not That Into You.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
The Man Who I Love the Most
Dalam sebulan terakhir ini, banyak sekali kejadian yang buat aku sangat bimbang setiap kali ingin membuat keputusan, terlebih keputusan yang sangat besar.
Dan dari kejadian-kejadian tersebut, Qadarullah, Allah seperti menunjukkan kalau aku masih sangat jauh dari kata berbakti kepada orang tuaku sendiri.
Terlebih, kepada papa.
Aku anak perempuan pertama, dan satu-satunya anak perempuan di keluarga, sudah sangat jelas kalau aku menjadi anak yang sangat diandalkan oleh mama.
Apa-apa maunya sama mama. Mama beli baju, aku yang pakai. Mama mau belanja, minta pertimbangan sama aku. Sampai mamaku pernah nangis subuh-subuh ketika aku ingin berangkat kerja, katanya karena aku seharian kemarin nggak senyum sama mama.
Iya, sedekat itu aku dengan mama. Sampai aku lupa, apa aku pernah memikirkan perasaan papa ketika aku bermanja-manja sama mama? Apa papa juga ingin aku andalkan ketika aku kesulitan? Apa aku memikirkan papa sesering aku memikirkan mama?
Padahal seharusnya aku bersyukur, masih punya papa yang alhamdulillah sehat dan bisa dirasakan kehadirannya di rumah setiap hari. Masih dibiayai papa sampai aku bisa seperti sekarang. Masih punya papa yang terus berusaha mengantarkan aku hingga ke jenjang pernikahan, di kondisinya yang mungkin tidak cukup mudah untuk beliau lalui.
Karena kejadian yang diingatkan oleh Allah tersebut, aku jadi lebih banyak memikirkan orangtuaku, terlebih papa, yang seringkali tidak aku perhatikan perasaannya, tidak aku pertanyakan banyak pendapatnya.
Papa,
Doakan aku, agar kelak bisa memiliki suami yang mencintai papa seperti mencintai ayahnya sendiri
Doakan aku, agar baktiku kepada papa tidak akan berkurang walau nanti aku sudah menikah
Doakan aku, agar bisa bahagia dengan suamiku kelak, dengan keluarga dan keluarga besarnya, dalam susah maupun senang, seperti kehidupan pernikahan papa dan mama
Dan tolong, doakan aku agar bisa menjadi anak perempuan solehah kebanggaan papa, agar aku selalu bisa mengingat betapa inginnya aku menempati surga bersama papa dan keluarga kita..
Papa,
Aku berdoa, semoga papa selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, semoga selalu diselamatkan dalam perkara dunia dan akhiratmu
Aku berdoa, semoga papa diberkahi kesehatan serta umur yang panjang, agar kelak papa bisa menyaksikan buah hatiku tumbuh dan memberinya pelajaran tentang dunia
Dan aku berdoa, semoga papa selalu berbahagia, di dunia dan di akhirat :)
Rasanya gak akan pernah cukup anak cengeng ini berterima kasih kepada papa karena telah membesarkan aku sampai seperti sekarang, hehehe.
Sampai ketemu di rumah yaa, Pah!!!
Ditulis ketika sedang perjalanan pulang dari kantor,
Pada hari Jumat, 28 Desember 2018
Pukul 17.43 WIB
di Tol Cikunir yang lancar lalu lintasnya.
🖤🖤🖤
Himalaya-ku, bahagialah kamu selalu.
Coba khayalkan sejenak
Sepuluh tahun nanti hidupmu
Coba bayangkan sejenak
Misalkan ada aku
Yang menemani hari demi hari yang tak terhitung
Misalkan itu aku yang terakhir untukmu
Untuk itu kan kupersembahkan
Himalaya..
Bahkan akan aku taklukkan
Tanpa cahaya di kegelapan
Berbalutkan pelita hatimu
Di aku, di aku dan kamu
Pastikan kau melihat aku
Saat kugapai puncak tertinggi
Bersama tujuh warna pelangi
Misalkan semua terjadi meski belum terjadi
Sekarang kita renungkan sejenak cara agar semua
Bisa terjadi walau ku tahu tak semudah itu
Tapi coba sekali lagi bayangkan aku
Untuk itu kan kupersembahkan
Himalaya..
Bahkan akan aku taklukkan
Tanpa cahaya di kegelapan
Berbalutkan pelita hatimu
Di aku, di aku dan kamu
Pastikan kau melihat aku
Saat kugapai puncak tertinggi
Bersama tujuh warna pelangi
- Maliq & D’essentials
Tentang Memilih dan Dipilih
Banyak quotes jaman sekarang yang bilangnya begini, “leave someone who makes you their choices and stay with the one that makes you their priority”. Well, menurutku nggak salah, tapi nggak bener juga sih.
Prioritas kita hidup di dunia ini apa sih? Pastilah beribadah untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jadi menurutku, selalu pilih prioritas untuk Allah dalam hidup. Terus, untuk hal lain selain kewajiban kita beribadah gimana? Misalkan nih, ada makanan pilihan sayur kangkung atau sayur kailan. Lebih baik pilih yang mana?
Bro, namanye juga idup, pasti apa-apa harus milih. Sekolah dari TK harus milih. Beli sepatu sekolah harus milih. Punya temen di sekolah juga harus milih. Selagi statusnya sama, pasti kita harus milih. Dan di setiap pilihan kita, pasti kita punya alasan kenapa akhirnya kita memilih hal tersebut.
Jadi misalkan nih, ada orang yang bilang, “gue ngga suka dijadiin pilihan”. Assalamu’alaikum Pak Haji, semua orang itu adalah pilihan, sebelum kalian punya ikatan resmi secara agama. Padahal kita juga semuanya pilihan. Kamu juga berhak milih, nggak hanya punya kesempatan untuk dipilih. Semua yang dipilih nanti juga hasil finalnya Allah yang nentuin. Mau kehendak kita kayak gimana juga penentu skenario akhirnya tetep Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Terus gimana sikap paling bijaksananya perihal soal pilih-memilih ini? Gimana rasanya sakit hati jadi orang yang belum dipilih dambaan diri? Gimana rasanya sakit hati jadi orang yang belum terpilih oleh perusahaan impian? Gimana rasanya kebingungan karena harus memilih fulan A atau fulan B? Gimana rasanya kebingungan karena harus memilih dateng ke interview perusahaan X atau perusahaan Y? Gimana sikap paling bijaksananya? Gimana biar tau harus menunggu atau ngga? Gimana caranya biar nggak salah?
Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu punya jalan buat kita, masyaa Allah. Coba yuk solat istikharah. Dulu waktu kajian, ustadzah di tempat pernah menyarankan untuk membiasakan solat istikharah setelah solat dhuha (agar mudah memilih waktunya). Namun sebenarnya solat istikharah bisa dilakukan kapan saja. Insya Allah, kalau kamu istiqomah untuk istikharah nya, kamu akan lebih tercerahkan dalam mengambil keputusan, karena kamu sudah membiarkan Allah ikut andil dalam pengambilan keputusan kamu :)
Jadi apa hubungannya sama quote di atas tadi? Hubungannya adalah, kamu berhak untuk menunggu atau meninggalkan pilihan apapun dalam hidup kamu, asalkan kamu terus membiarkan Allah ikut andil dalam setiap langkahmu. Bukan berarti kalau ada sesuatu yang tidak menjadikanmu prioritas, hal itu menjadi buruk bagimu. Kalian pernah dengar juga kan tentang seorang karyawan yang gagal tes kerja di perusahaan tempat ia bekerja, tapi ia tetap gigih untuk mencoba dan akhirnya berhasil? Apakah dia dijadikan prioritas dari awal? Tentu tidak. Jadi, jangan jadikan quote sebagai pedoman hidup deh. He he he.
Hai kamu, sang mutiara bagi seseorang dalam hidupmu nanti. Percayalah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala lebih tau mana yang lebih baik bagimu. Ia lebih tau kapan sesuatu yang kamu inginkan bisa terwujud di waktu yang tepat. Ia lebih mengerti apa yang kamu butuhkan.
Hai kamu, sang pejuang dalam hidup seseorang nantinya. Semoga setelah segala ikhtiar terbaik darimu dilakukan, kamu bisa bersyukur atas segala yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala takdirkan kepadamu. Semoga kamu bisa mendapat hikmah dan pengertian atas segala kebingunganmu selama ini.
Dan hai, kamu, sang cahaya hatiku kelak. Semoga kamu bahagia selalu.
tanya hatikuuu
Sadar ngga sih, semakin kita berekspektasi sama seseorang, semakin gampang banget perasaan kita dinaikkan, atau dijatuhkan. We could be very happy over little things, yet super sad instead. Kesedihan dan kesenangan kita bisa bergantung banget sama bagaimana sikap seseorang yang kita harapkan. Wow, nggak oke banget sih sebenernya kayak gitu. Tapi namanya hati nggak bisa boong :))
Terus, cara mengendalikannya gimana ya? Biar gak gampang terlalu senang atau gampang banget sedih tiba-tiba. Setau aku, caranya sih dengan menjaga jarak dari orang itu sendiri. Atau menurunkan level kepedulian kita lah sama orang itu.
Tapi, kalo sama orang yang hidup sama kita nantinya setiap hari, gimana? Atau sederhananya sama orangtua dulu deh. Gimana? Kan nggak bisa jaga jarak juga. Masa mau main tahan-tahanan ego kayak anak SD? :(
Coba kalo ada yang punya saran deh yah. Aku tipe orang yang seperti itu soalnya. Hehe. Hypersensitive. Huft.
Mayoritas orang-orang bahagia justru tidak mengumbar kebahagiaan di sosial media. Sebab, mereka yang benar-benar berbahagia, tidak lagi butuh pengakuan, pencitraan atau pembuktian akan kebahagiaan mereka itu—apatah lagi dari manusia-manusia maya?

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Jika kamu lelah, galau, dan hampir putus asa. Kamu larinya kemana? Ke Allah? Benar? Mengadunya ke Allah saja? Lantas mengapa kamu masih galau dan tidak yakin atas permasalahan yang kau hadapi? Jika memang tujuan dan pelarianmu adalah Allah yang pertama. Maka tidak akan pernah kau rasakan pedihnya pengharalan dan tidak terselesainya masalahmu. Masalahnya tujuan pertama dan terakhirmu bukan Allah. Itu saja permasalahannya.
Ibn Syams (via quraners)
Pesek Yang Menjelaskan Saya tak hendak membahas tentang “Pesek” yang disampaikan Ust. Somad berkaitan Muslimah saudari kita yang melepas hijab dan kontroversinya Sebab bagi saya penjelasan Ust. Somad sudah lebih dari cukup, dalilnya lengkap, hujjahnya kuat. Siapa yang tak punya kecemburuan dalam agama, aneh dia Apalagi, yang mengenal dan mencintai Ust. Somad, pasti tahu gaya bahasa, penyampaian beliau, saya yakin yang memprotes pasti jarang menyimak beliau Belum lagi yang mengenal keseharian beliau, tutur, perilaku dan akhlak beliau saat tidak di mimbar dengan mic, justru akan tersenyum dengan paparan itu Yang ingin saya sampaikan, bahwa betapa isu “Pesek”, ini telah menunjukkan pada kita, mana yang haq dan mana yabg bathil, mana yang mukmin mana munafik Sebab isu ini bukan lagi pada bahasan etika, apalagi hukum, tapi sudah masuk ranah stigmatisasi dan penjelekkan terhadap ulama, ust. Somad mulai dibidik Kita paham bahwa zaman now, ulama manapun yang tegas dalam ke-Islam-an senantiasa dicarikan kasus, dihancurkan kepercayaan ummat pada mereka Begitupun Ust. Somad, ketegasan beliau tak berkurang saat tenar, tak luntur walau diatas angin, dakwahnya disambut ummat, dan ini mengkhawatirkan bagi munafik Maka dengan isu ini, mereka seolah mendapat angin menjatuhkan Ust. Somad, liberalis, syiah dan wahabi-takfiri angkat bicara, kompak menjatuhkan Ust. Somad Anehnya, mereka yang sibuk menjatuhkan wibawa ust. Somad punya kesamaan, mereka sama-sama diam saat terjadi penistaan agama, mereka satu barisan Saat terjadi penistaan agama, bahkan mereka anggap aksi bela Islam adalah aksi sia-sia, yang bermulut kotor dan menista agama malah diberi gelar sunan Lucu, saat ada yang bermaksiat lalu diingatkan, lantas dijadikan alasan menghasut kebencian. Tapi agama dinistakan, lantas malah dikatakan dimaafkan bahkan dipuji Inilah hikmahnya, alhamdulilah saya yakin Muslim di Indonesia tetap memerlukan Ust. Somad, sebab Muslim Indonesia rindu akan ulama yang benar ikhlas dalam Islam
Ustadz Felix Siauw (via felixsiauw)