sebagian
Menjadi bagian yang tak utuh di bumi. Penyesalan akibat sebuah jari yang tidak tahan akan perlakuan manisnya dan tertipu oleh pesonanya. Sebuah kebodohan yang dimulai saat bangkit dari jurang dan kembali terjatuh setelah didorong oleh kemunafikkan seorang bedebah. Berharap kepada sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi. Habisnya harga diri setelah terkirimnya suatu dokumentasi. Menyadari bahwa tidak semua akan berjalan dengan baik. Tiga jam menunggu bagaimana bisa tahu arti tersapu. Â Disaat membutuhkan selalu ada disana. Pergi dan kembali seakan persimpangan. Seandainya tahu arti moya tak akan jadi seperti ini. Bisa menghitung detik jam penghargaan sebagai wanita. Memanusiakan manusia. Penundaan kebahagiaan. Buatlah ini menjadi utuh. Ingat semua kalimat dan perkataan dini hari. Mempertahankan segala gengsi. Dua bola mata saksi mencapai kebahagiaan oleh sentuhan. Ditengah kursi mobil kedua kaki menempel. Kehilangan jam tidur. Kehilangan semua akal ku. Buat ini menjadi janji yang diingkari. Cinta yang dirasakan hanya rahasia. Semua ini kacau. Tidak tahan lagi untuk berhenti bernapas. Datang. Bedebah itu datang dan memeluk jiwa tidak utuh ini. Maaf katanya. Air mata turun secara tidak sopan. Sialan. Hati ini besorak gembira. Tidak terima hati bahagia, pusat pengendali tubuh ini meneriaki dengan kalimat bahwa lelaki itu bajingan. Racauan dari mulut itu membuat tangan ini ikut memeluknya. Matahari terbit memakai kacamata seakan dunia bahagia. Kembali itulah kata terakhir. Jiwa ini tersenyum dan berlari mencari kepingan dalam tubuhnya. Awan beserta petir pergi menjauhi dua jiwa dengan wajah marah. Hari esok membangunkan bahwa ini hanya mimpi. Terbangun dengan bodoh. Tidak menerima kebahagiaan yang dimiliki. Sulit mencintai diri sendiri. Menyendiri tidak selalu berakhir baik. Kopi dingin yang terganti oleh teh panas menjadi kebiasaan. Ini bukan terakhir kali bibir bertemu. Pergi atau menduri. Berdiri di balkon dengan suara hujan diluar. Rokok yang berhembus menghangatkan diri. Â Blokir menjadi pilihan utama. Bahkan air mata sudah mengering. Merindukan yang lain saat mata bertemu. Tidak membuat ini lebih baik. Kalimat bualan yang justru menjebak. Bertumbuh besar di lingkungan ini. Menjadi milikku esok. Kadang tidak tahu apa yang mau dilihat. Matahari kembali bersinar dibelakang punggung. Membakar kulit bersama asap kendaraan. Tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Terlihat seperti umur lima puluh tiga. Mengerut dan menua. Padahal hanya dua puluh dua. Â Bunga dan kumbang menjadi sahabat setiap pagi. Tapi sudah tidak lagi. Jarang menyirami menjadi layu. Secangkir teh jahe mengebul. Tetangga menyuruh masuk karena udara semakin dingin. Hanya tersenyum menjawabnya. Tidak ada yang tahu kekosongan ini. Bertahan hanya sia-sia. Menyerah dengan mudahnya. Hati ini harus hidup walau kosong. Berantakan bukan kosong. Masih tidak bisa mengerti arti kata cinta setelah pergi begitu saja. Sakit rasanya mengetahui kenyataan tidak mencintaiku. Melihat dengan mata kepala sendiri. Tuxedo hitam dan gaun putih diatas panggung. Keluar dan berjalan menyusur daerah kota. Â Sampai tepat dipintu merah bertuliskan angka enam nol tujuh. Â Tersenyumnya diri ini. Ditaruh pot bunga matahari diatas keset bertuliskan selamat datang. Semoga bahagia. Lalu kembali melanjutkan hidup.
















