Setahun ini berkutat dengan bacaan-bacaan untuk penelitianku untuk bisa memahami bagaimana mendukung perkembangan pemuda untuk menjadi aktor kewarganegaraan yang mampu membentuk, memperbaiki dan mengubah negaranya menjadi aset perkembangan yang positif untuk mendukung perkembangan positif pada pemuda itu sendiri maupun generasi mendatang. Banyak juga membaca bacaan kenapa di negara demokrasi, keterlibatan warga negara itu syarat mutlakndari kerja kerja pengawasan da kontrol dari masyarakat untuk memastikan akuntabilitas pemerintahan yang berjalan. Banyak literatur menyebutkan, keterlibatan sebagai warga negara itu bukan lagi kewajiban, tapi adalah HAK. HAK artinya sesuatu yang perlu diberikan ruang amannya.
Warga negara yang berisik itu justru adalah sinyal demokrasi kita berjalan, sinyal pendidikan kewarganegaraan kita berhasil. Bayangin, ada jutaan orang yang sama sekali tidak terdampak dari bencana itu, punya kerumitan kehidupan personalnya masing masing, tapi mereka memilih turut menyuarakan suara warga satu kebangsaannya. Kerja kerja mengawasi pemerintahan yang berjalan ini jujur melelahkan secara emosional.
Beberapa hari yg lalu, seorang psikolog share cerita bahwa di ruang praktiknya, klien datang bukan karena masalah personalnya, tapi karena kerumitan emosional yg klien rasakan melihat bagaimana pemerintahan ini berjalan. Aku pun agustus lalu berakhir di ruang konseling dengan psikologku untuk melakukan kerja pemulihan emosional karena peristiwa demonstrasi waktu itu. Hal ini terjadi karena ada koneksi emosional di sana. Sense of belonging atas bangsa ini. Keberisikan itu shows sense of community dari warga kita, hal yang paling diharapkan dari capaian warga negara kita. "Keberisikan" warga negara adalah representasi dari nilai, keyakinan, sikap, perasaan, pengetahuan, kemampuan dan perilaku yang diarahkan pada kepedulian terhadap kondisi yang berdampak pada warga negara kita. Sinyal bahwa "aku turut merasakan kepedihan yang kamu rasakan". Sinyal bahwa identitasnya sebagai warga negara Indonesia masih aktif. Sinyal bahwa ada nilai yang jadi penggerak dari apa yang disuarakan. Itu adalah panggilan moral.
Diam terkadang justru bentuk paling pesimis dari warga negara. Tapi itu justru jadi mimpi buruk yang menjadi ruang pembiaran atas pemerintahan yang berjalan. You do you bukan hal yang diharapkan dari warga negara di negara demokrasi. Titik.
Meski kemudian ada yang mengekspresikan kritik dengan cara cara yang tidak tepat, maka itu adalah tanggungjawab pemerintah untuk memberikan edukasi kehidupan berdemokrasi yang sehat itu seperti apa. Tidak bisa dipungkiri, edukasi praktik praktik kewarganegaraan kita masih banyak PR. Warga kita tidak cukup dididik dengan benar dalam berdemokrasi itu sendiri, baik dalam partisipasi elektoral seperti pilkada dan pemilu, maupun dalam prakti praktik kewarganegaraan keseharian seperti sekarang ini. Literatur ilmiah banyak sekali membahas, pemerintahan yang menerima banyak kritik dan tuntutan, jadi pihak yang paling bertanggungjawab untuk melakukan kerja kerja sosialisasi norma norma kewarganegaraan di luar pendidikan formal di sekolah.
Kemarahan publik hari ini pun sudah aku prediksi dari bahan bacaanku. Real-life incidents boost interest waraga negara untuk "bersuara" dapam berbagai bentuk. Itu adalah bentuk ekspresi dari pengalaman kolektif yang begitu masif dialami selama setahun ini. Itu adalah reaksi otomatis terhadap krisis yang besar dan kompleks. Kabar baiknya, krisis besar seperti ini jadi mendorong warga negara mengaktifkan nilai nilai moral dan kewarganegaraan yang telah mereka internalisasi dan keluar dalam bentuk yang macam macam. Tidak terhitung warga negara kita yang hari ini memberikan donasi, turut terlibat menjadi relawan, dan melakukan pengawasan, kritik, dan masukan ke pemerintahan.
Sebenarnya, keberisikan yang teruss berkembang dengan kemudahan sosial media yang mendukung percepatan informasi, justru dapat memudahkan kerja kerja pemerintah supaya dapat melihat, mendengar dan menyelesaikan isu isu yang terjadi di akar rumput. Yang barangkali "terlewat" dari pengetahuan pemerintah. Andai saja pemerintah mau melakukan itu. Adaptif merespon kemajuan teknologi sebagai ruang untuk lebih dekat dengan masyarakat, bukan justru merasa terancam dan mencoba mengendalikan keberisikan itu.
Sekian tulisan dari seorang warga negara yang sebenarnya sudah lelah sekali, tapi tidak bisa menahan diri untuk diam.