Sebenar-benarnya rumah
I write this on the train, in my way back to my hometown, Serang.
Finally I decided to going back to home for a while. Setelah setahun kabur melanglangbuana, mencoba mandiri, namun berakhir kembali.
I know I still have nothing to be proud of.
I know my life was very troubled these days..dan salah satu penyebab terbesarnya adalah, I haven’t financially stable, dan manajemen keuanganku belum terlalu baik. At least i learn to survive before, menghargai setiap rupiah, menghargai setiap detik waktu, menghargai setiap usaha.
Uang memang bukan segalanya. Namun segalanya butuh uang. Pepatah terbaik yang kudengar selama ini. Kondisi finansial seseorang menentukan harganya di keluarga, teman, hingga masyarakat. Kondisi finansial seseorang menentukan bagaimana respon ia terhadap masalah. Kondisi finansial menentukan sejauh apa daya juang seseorang. Meski pada akhirnya tangan Tuhan jauh lebih berhak menentukan.
Drama pulang kali ini cukup emosional, mulai dari vaksin, ppkm hingga perkara bis atau kereta. Perjalananku malam ini adalah hasil dari pemikiran panjang. I went home to a not really call home, its only a hometown.
Saat ini, sebenar-benarnya rumah bagiku adalah Jogja, dan segala isinya.















