"Han... udah Han," guitarz
plot : junhan ngebelain pacarnya dari kakak kelas
# : bxb , bullying , homophobia , graphic violence
ib : twt
en ver : tba
a/n: first time writing a fic in another language, apologies for grammar/language mistakes
SMA X adalah sma terkenal dengan siswa-siswi yang pemberontak. Mayoritas siswanya adalah anggota geng, merokok, punya catatan kriminal, dan lain-lainnya. Guru-guru dan kepala sekolah sudah turun tangan, lebih gampang untuk mereka sekadar mematuhi mereka daripada disiplin mereka. Salah satu siswa ini adalah seseorang bernama Kwak Jiseok, dia anak yang relatif baik, kesalahan dia cuman rokok dan terlibat dalam beberapa tawuran di sana-sini, tetapi secara keseluruhan--dia anak pintar yang ke sekolah yang salah.
Namun demikian, dia punya rahasia gede. Dia gay, dia pacaran sama sahabat dekatnya, Han Hyeongjun. Mereka berdua sahabat dekat sebelum mereka pacaran jadi tidak ada yang mempermasalahkan kedekatan mereka. Namun sayangnya bagi mereka, hal itu akan segera berakhir. “Uang gua dimana?” Jungsu nanya ke adik kelas sambil dia rokok di gang kecil “Aku… Aku belum dapet… uang saku aku--” sebelum dia bisa bales, Seungmin sudah pukul mesin yang sedang di sandaran oleh adik kelasnya. "Lu lupa ya yang utang disini siapa?" dia nanya sambil menyolok adik kelasnya "Lu masih punya emak kan?" adik kelasnya mengangguk, gemetar dengan ketakutan "Yaudah, lu ambil uang gua dari dompetnya emak lu, kalo emak lu ga cukup yaudah bapak lu," Jungsu bales sebelum menarik kerah adik kelas dan menariknya mendekat "Gua kaga peduli kalo uang nya dari ortu lu... kakek lu... or whatever. Lu masih ada utang, sama kita," Jungsu melepas kerah adik kelasnya dan liat dia berlari ke arah ke jalan raya.
"Ayo," Jungsu bilang ke Seungmin sebelum mereka pergi dari gang kecil. Mereka berjalan, hendak berbelok di tikungan sebelum Seungmin tiba-tiba menarik Jungsu untuk mundur. Jungsu hampir marah tapi Seungmin kasih tanda untuk diem dulu, mereka mengintip dan melihat Jiseok memeluk seseorang laki-laki, dia juga cium Jiseok di jidat sebelum mereka jalan bergandengan tangan.
"Aku bersih2 dulu ya, nanti ketemu di warung sebelah warnet ya," Jiseok katakan kepada Hyeongjun, dia mengangguk sebelum mereka berdua pisah. Jungsu dan Seungmin kebetulan jalan-jalan di lorong tidak lama habis Hyeongjun pergi, mereka liat Jiseok sendirian di kelasnya dan masuk. Jiseok melihat mereka berdiri di pintu, dia tau mereka ga cuman kakak kelas, tapi mereka berdua anggota geng terkenal. "H-Hai kak," Jiseok said berdiri, bingung dan takut kenapa tiba-tiba Seungmin dan Jungsu di kelasnya dia "I-Ini kelas 10 IPA... lagi nyari Pak Taecyeon ya?" Jiseok nanya, "Straight to the point aja sih," Seungmin bilang "A little bird told me... kita ada siswa gay di sekolah kita ya 'su?" Seungmin kata kepada Jungsu yang lagi merokok. Jiseok pura-pura tidak tau apapun "S-Sumpah?... jorok banget sih," Jiseok bales sambil berusaha menekan rasa takutnya akan terbongkarnya identitasnya. "Gua denger sih... 1 in 3 orang gay sih,” Seungmin bilang sambil melihat buku jarinya “Gua ya… ga gay sih, gua punya banyak cewe… ‘Su lu gay ga?” dia nanya ke Jungsu “Ngak, gua kan lagi pacaran sama cewe di sekolah sebelah,” Jungsu bales sambil megang rokoknya yang masih menyala. Mereka berdua ngelirik ke Jiseok yang seputih tembok “Kayaknya… kita udah ketemu yang gay, gimana menurutmu ‘su?” Seungmin nanya. Jungsu cuman menghisap rokoknya dan liat Seungmin “Angkat bajunya,” dia bilang, matanya Jiseok membelalak, dia ga bisa berantem Seungmin, mana lagi Jungsu. Seungmin angkat bajunya Jiseok sebelum Jungsu matikan rokoknya di badannya Jiseok.
Jiseok teriak kesakitan, dia merasa rokoknya bakar badannya. Tiba-tiba dia di pukul Seungmin “HAJARIN ‘MIN,” Jungsu bilang bersorak kepada temennya yang menghajar Jiseok, Jiseok susah berantem balik, dia teriak-teriak--minta Seungmin dan Jungsu berhenti dan minta-minta maaf sangat banyak. Jiseok sudah berbatuk darah abis di tendang dan pukul oleh dua kakak kelasnya, habis sekian waktu--mereka berhenti dan lihat Jiseok di lantai. Mereka cuman ketawa dan tinggalkan dia.
“Jiseok dimana…” Hyeongjun bilang, khawatir sudah hampir dua jam belum ada kabar dari Jiseok “Rapat kali… kan dia osis,” Jooyeon bilang sambil makan porsi mie, lagi. “Ngak… dia pasti bilang ke aku kok…” Hyeongjun bilang, khawatir, Jiseok tiba-tiba WA Hyeongjun bilang dia udah pulang duluan. Hyeongjun nanya-nanya dia kenapa tapi Jiseok cuman baca, ga bales.
“Kamu mau apa…” Jiseok nanya kepada Seungmin dan Jungsu yang berdiri di ruangan kosong dengan dia “Ya gampang… pasti ga mau rahasia lu ketauan kan?” Seungmin nanya “Kita mau uang--100k tiap minggu buat kita diem dan ga bocor rahasiamu, bisa?” Jiseok liat kepada mereka “Mahal… banget kak… Aku ga ada uang gitu buat ini ka,” dia bilang hampir menangis. Jungsu dan Seungmin berbisik bentar sebelum bales “Yaudah, 50k seminggu tapi lu tiap tiap hari abis sekolah ketemu kita ya di belakang gimnasium,” “Ngapain belakang gimnasium?..” Jiseok nanya dengan gemeteran “Ya lu liat aja nanti,” Jungsu bales sebelum mereka berdua tinggalkan Jiseok di dalam ruangannya.
Jiseok tinggalkan ruangannya dan Hyeongjun berdiri di luar “Kamu ngapain di ruangan kosong sama kakak kelas?” dia nanya “Bukan… yang kamu mikir Han,” Jiseok bales “Cuman selesaikan masalah… gitu aja… aku disuruh tukeran narkoba ke sekolah sebelah,” Jiseok bohong, dia ga enak bohong ke pacarnya sendiri tapi dia tau Hyeongjun ga bisa tau kebenarannya. Hyeongjun percaya dengan Jiseok dan mereka jalan bersama ke kelas berikutnya, seharian berjalan seperti biasa tapi Jiseok bisa merasa matanya Jungsu dan Seungmin melihat dia.
“Mana uangnya?” Seungmin nanya ke Jiseok, tiba-tiba udah Senin dan Jiseok lagi di tegur Seungmin dan Jungsu buat uang nya. Jiseok buka dompetnya, tinggal 50k, dengan tangan gemetaran, dia kasih uangnya ke mereka “Lah kan janjinya 100k, mana sisa nya?” Seungmin nanya “Aku… belum dapet…” Jiseok bales, liatin lantai “Hey,” Jungsu bilang “Ini lagi ngomong ke kakel lu, lu malah liat ke lantai? Liat ke kita dong pinter,” dia bales.
Jiseok liat kepada dua kakak kelas “Jadi aku… ke gimnasium ya nanti?” dia nanya, dua-duanya mengangguk kepala “Awas ya lu ga ada nanti,” Seungmin katakan sebelum Jiseok sendirian lagi. Pas jam makan siang, Hyeongjun liat Jiseok ga makan “Kamu ga makan sayang?” dia nanya, Jiseok liat ke Hyeongjun dan menggelengkan kepalanya “Ga laper aku…” dia bales “Eh serius? Padahal lagi maknan favorit kamu loh… sini aku beliin deh,” Hyeongjun bilang, mau berdiri. Jiseok meraih tangannya dan Hyeongjun duduk lagi “Ga usah… makasih,”
“Lu ga panas Ji?” Jooyeon nanya, tiba-tiba udah duduk sama mereka “Lagi musim panas… lu yakin pake sweater?” Jiseok cuman bisa senyum “Ya gapapa… abis dari kelas Bu Jihyo… dingin,”. Hyeongjun liat Jiseok, dia tau Jiseok bukan tipe orang yang ga betah dingin, pasti ada sesuatu lain yang bikin Jiseok pake sweater tapi dia ga mau nanya, takutnya Jiseok emang lagi kedinginan.
Abis kelas, Jiseok ke tempat pertemuan dengan Jungsu and Seungmin, kagetnya, mereka ga sendirian. Ada anggota-anggota geng nya dengan mereka “Jadi, gini guys,” Jungsu bilang sambil merangkul Jiseok dan bawa dia ke tengah lingkaran “Adek kelas ini… ada utang sama gua dan Seungmin, kalian tau kan kita ngapain ke orang ga bisa balikin utang tepat waktu?” Jungsu menanyakan dengan nada retoris. Tiba-tiba, Jieok tertembak di tulang rusuk oleh satu satu anggota, mereka semua menghajar Jiseok sambil Seungmin dan Jungsu pegang Jiseok biar dia ga bisa berantem balik. Jiseok nangis, ia teriak, minta mereka berhenti tapi mereka tidak “Ini kan area kami… ga ada yang bakalan nolongin lu,” Seungmin bilang sebelum ia lepas Jiseok dan liat dia jatuh ke lantai.
Ini berlangsung selama berminggu-minggu, kalo Jiseok bisa bayar 100knya, mereka ga hajar tapi kalo ga bisa? Jiseok di hajar, dia menjadi asbak, dia disuruh lakukan hal-hal memalukan yang di rekam untuk menjadi pemerasan, dan lain-lainnya; meskipun dilakukan di tempat berbuka di sekolah, tidak ada orang yang berani menolong dia. Hyeongjun menyadar Jiseok berubah, Jiseok lebih diem, dia sering pake jaket dan suka tiba-tiba sibuk dengan hal-hal dia ga ceritakan. Hyeongjun khawatir dan satu hari, dia ke rumahnya Jiseok buat dapet jawaban “Oh halo Hyeongjun, udah lama kamu ga mampir,” Ibu nya Jiseok katakan “Halo tante,” dia senyum “Jiseok di rumah ga? Aku mau ngomong sama dia,” “Oh iya, dia di kamar. Masuk aja, tante lagi masak makan malem, kamu mau?” Ibunya senyum sambil bolehin Hyeongjun masuk “Boleh banget tante,”
Di kamarnya, Jiseok lagi obatin luka-lukanya, dia belakangan pintunya, ia ga nyadar Hyeongjun masuk dan melihat dia. “Jiseok.” Hyeongjun katakan liat badan pacarnya dipenuhi luka-luka “S-Sayang--” Jiseok bilang, kaget dan menutupi badannya pake selimut “I-Ini bukan yang kamu mikir… aku tadi ikut tawuran--” sebelum Jiseok bisa selesaikan penjelasannya, Hyeongjun udah jalan ke depannya dia. Dia perhatiin luka-lukanya “Jiseok Ini ga mungkin bekas satu tawuran… ini ada bekas bekas rokok loh,” Jiseok cuman bisa diem, perasaan ingin nangis “Jiseok… siapa lakuin ini ke kamu?...”
Jiseok nangis, pelukin Hyeongjun sambil minta maaf, dia cerita semua hal. Dia mulai dengan mereka ketahuan gay sama Seungmin dan Jungsu tapi cuman Jiseok yang ketauan, terus cerita mereka hajarin Jiseok abis kelas dan agreement mereka dimana Jiseok bayar 100k seminggu ke mereka, kalo ga bisa Jiseok di hajarin di belakang gimnasium.
Hyeongjun cuman bisa diem, dia marah, tapi dia harus berpikiran rencana untuk ngapain--untuk sekarang, dia cuman pelukin Jiseok dan merawat luka-lukanya. Dia malam itu nginep di rumahnya Jiseok, keesokan hari dia ke sekolah bareng Jiseok, seperti biasa, mereka sempet pisah tetapi Hyeongjun diem-diem ikuti Jiseok dari belakang. Dia lihat Jiseok ditegur beberapa kali dengan kakak kelas, terutama sahabatnya Jungsu dan Seungmin. Ini berlangsung selama berhari-hari sambil dia lihat Jiseok masuk ke kelas rekat, pake tongkat penyangga.
Hyeongjun udah bikin rencana, dia esok hari ikuti Jiseok sampai ke belakang gimnasium dan lihat Seungmin, Jungsu dan anggota-anggotanya “Jadi mana uang gua?” Seungmin nanya “Ka aku… aku beneran udah ga ada uang lagi… please deh kak, ibu aku sakit dan--” “Oh lu ga punya bapak?” Jiseok diem sanbil Jungsu ketawa “Ya gua juga ga mau punya anak homo kyk elu,” ia bilang sebelum tendang Jiseok, Jiseok berguling dan memegangi tulang rusuknya, dia merasakan sesuatu retak.
“HEY,” ada orang tiba-tiba teriak, satu geng nengok kepala dan lihat Hyeongjun berdiri, Jooyeon juga sih belakangnya dia tapi anaknya keliatan takut. “Lu apain cowo gua?!” Hyeongjun teriak, matanya Jiseok membelalak “Han… U-Udah Han… Ini kan masalah gua sama mereka,” Jiseok bilang “Ohh jadi ini cowoknya kamu ya Ji?” Seungmin ketawa “Hyeongjun… please… gapapa biarin aku aja yang kena, Ka please ka… jangan sakitin dia kak,” Jiseok bilang sambil nangis.
“DIEM,” Jungsu teriak kepada Jiseok “Lu nangis-nangis buat apaan sih? Ga ada yang bakal tolong elu,” ia katakan “Geng gua aja puluhan orang, lu cuman tiga,” “Empat sih,”. Tiba-tiba ada orang muncul, sekarang Jungsu dan Seungmin yang mulai takut. Yang muncul adalah kakak kelasnya mereka, Gunil, dia atlet Taekwondo terkenal, ia tidak pernah ikutan berantem di sekolah tapi sekarang muncul.
Jooyeon langsung lari untuk tolongin Jiseok dan bawa dia untuk rebahan di tembok jauh dari Seungmin, Jungsu dan anggotanya. Hyeongjun dan Gunil berdiri di depan mereka, Hyeongjun pegang pemukul logam dan Gunil udah siap berantem “Kalian ngapain sama dia?” Gunil nanya, mereka cuman diem “Aku nanya satu kali lagi ya… kalian… ngapain… sama dia.” ia bertanya “K-Kita cuman main kak…” salah satu anggota berkata “Woi ini parah,” Seungmin bisik “Iya gua tau!” Jungsu bisik balik sambil ada anggota yang menjawab kepada Gunil “Terus mau apain? Kabu-” Jungsu tiba-tiba dipukul Gunil “Kakak kelas kalo ngomong denger… bukan bacot,” ia katakan. Gunil tidak ada nada tinggi, tidak marah, dia kalem.
“Kak kok… belain dia sih!?” Seungmin bilang “Kakak mau belain orang jorok kayak gitu?!” ia teriak, Gunil cuman angkat tangan buat dia diem sebelum manggil Jooyeon, merangkul dia dan cium pipinya. Seungmin kaget, Jungsu kaget, semua orang kaget “Aku juga, di dalem katamu, orang jorok, jadi, ya bersikap adil aja ya. Kamu memperlakukan saya seperti kamu memperlakukannya kepada Jiseok?” Gunil nanya. “N…ngak ka, ga usah ka,” Seungmin bales “Lah, ga adil dong artinya. Apa bedanya aku sama Jiseok?” Gunil nanya, mereka ga bales. Gunil menghela nafas sebelum ia bergumam “Gua benci banget berantem sama anak kurang ajar kayak kalian,”
Seungmin mencoba mukul Gunil, kesalahan besar, karena Gunil menghindar dan mukul Seungmin. Hyeongjun, Jooyeon dan Gunil mulai berantem dengan gengnya Seungmin dan Jungsu, Jiseok cuman bisa lihat dari jauh, ia terlalu lemah buat ikut berantem.
Tau-tau, Jiseok bangun di rumah sakit, ibunya menangis ke salah satu suster dan Hyeongjun lagi duduk, cuman liatin Jiseok. Hyeongjun liat Jiseok bangun dan ngelirik ke Ibu dan suster buat liat. Ibunya sangat gembira sambil nangis, dia bilang Hyeongjun sudah cerita semuanya dan dia nanya kok Jiseok ga bilang apapun, susternya memanggil dokter buat priksa Jiseok dan kasih tau apa yang terjadi. “Menurut temanmu, kalian bertengkar di lingkungan sekolah tapi abis aku observasi cedera anda, kelihatan ini lebih ke hasil akibat bully dan saya kasih tau ke ibumu. Kamu dalam keadaan koma hampir dua minggu, aku sudah ada beberapa obat buat kamu minum untuk mengatasi cenderamu dan mendaftarkan kamu ke fisioterapi. Apakah ada pertanyaan?” dokternya nanya, Jiseok cuman liat ke ibunya “Nanti dulu doc… aku mau ngomong dengan Ibu dulu ya,” dia bales. Dokternya meminta izin sebelum dia keluar dengan susternya, Jiseok liat kepada ibunya dan nangis “Ma… mama jangan marah… please ma,” dia katakan, Ibunya cuman peluk Jiseok “Shh, nak… gapapa nak… ada mama kok… mama ga marah, mam cuman ingin kalo ada gitu kamu bilang ke mama…” “T-tapi aku curi dari mama…” Jiseok nangis “Nak… gapapa nak.. Mama udah ngerti kok… mama ga marah sama kamu, uang bisa balik… kamu cuman ada satu Jiseok,”
Hyeongjun nonton mereka menangis sambil berpelukan, dia dengan lembut membelai punggung Jiseok. “Jungsu dan Seungmin udah ga di sekolah… mereka sama gengnya udah dikirim ke penjara anak, sekolah aman sekarang, ga ada yang bakal menyakiti kamu lagi,” Hyeongjun ngomong dengan tenang “Gunil dan Jooyeon gimana? Mereka gapapa?” Jiseok nanya “Mereka tidak punya peluang melawan kemampuan Gunil, Jooyeon ya biasa, bagus distraksi orang, mereka aman kok,” Hyeongjun bales “Kamu sekarang istirahat ya… aku sama ibumu disini kok,” Jiseok senyum sebelum tidur, merasa tenang karena mimpi buruknya sudah berakhir