DI ANTARA KITA TIDAK BOLEH ADA CINTA
"Kamu sangka aku menulisnya biasa-biasa saja? Tidak. Dadaku sesak, jiwaku sempit. Tapi aku sudah berjanji untuk tidak mengeluh."
Ada perpisahan yang tidak lahir karena hilangnya rasa, tetapi karena kesadaran bahwa tidak semua yang dicintai boleh dimiliki. Betapa pun hati masih menyebut namamu dalam diam, ada batas yang tidak pantas dilangkahi. Sebab cinta yang baik bukan hanya bertanya, "Apa yang kuinginkan?", tetapi juga, "Apakah ini diridhai Allah?" Maka hari itu aku memilih mundur, bukan karena berhenti mencintai, melainkan karena takut mencintai dengan cara yang salah.
Jangan mencari kabarku, jangan pula menitipkan salam yang hanya akan membangunkan luka yang sedang kupaksa belajar sembuh. Biarkan waktu mengajarkan hati untuk menerima apa yang tidak sempat menjadi takdir. Ada rindu yang lebih mulia jika dipendam daripada diumbar. Ada air mata yang lebih bernilai ketika menjadi saksi bahwa seseorang sedang berjuang menaati Rabbnya, meski harus mengorbankan keinginan terdalamnya.
Percayalah, melupakan bukan berarti menghapus semua kenangan. Aku hanya sedang memindahkan tempatmu; dari ruang yang ingin memiliki, menjadi doa yang tidak lagi berharap. Jika suatu malam namamu masih terlintas, semoga itu tidak lagi mengikat langkahku, tetapi menjadi pengingat bahwa Allah pernah menguji hati ini dengan sesuatu yang sangat dicintainya. Dan setiap ujian akan terasa ringan ketika ridha-Nya menjadi tujuan.
Maka bila suatu hari kita bertemu sebagai dua orang asing, cukuplah saling mendoakan dalam hati. Tidak perlu isyarat, tidak perlu cerita tentang masa lalu. Sebab di antara kita memang tidak boleh ada cinta yang dipelihara. Yang boleh tersisa hanyalah adab, keikhlasan, dan harapan agar Allah mengganti setiap kehilangan dengan ketenangan yang jauh lebih indah daripada segala angan yang pernah kita perjuangkan.
Magelang semilyar kenangan, 14 Juli 2026
















