Seperti disleksia yang lucu.
Aku sering belanja di toko kelontong, dalam seminggu bisa 4 sampai 5 kali. Bahkan lebih atau malah kurang?
Karyawannya semua pria, hanya satu wanita itu pun istri pemilik toko kelontong menjadi kasir kedua setelah pemilik toko. Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi di toko itu, hanya menunggu pesananku selesai di kemas, bayar dan langsung pulang.
Bicaraku seperlunya, "bang beli ini" sambil menyodorkan buku nota, "iya, boleh" dan "terima kasih bang". Cukup itu saja, hanya dia melihat aktivitas semua orang di toko kelontong itu.
Suatu hari, aku geram mendengar perbincangan pelayan dengan pemilik toko yang mencari mentega pesananku, aku pesan tiga sementara yang ada hanya satu, tidak maslah juga kalau ada merek lain. "Iya satu aja gapapa, taro sini. Itu punyaku" celetukku pada pelayan toko. Dia hanya diam dan melihat ke arahku sambil mengangkat mentega itu. Beberapa detik kemudian istri pemilik toko bilang "hemm matanya matanya" lagi lagi aku tidak menghiraukan itu. Aku tidak peduli.
Beberapa hari kemudian aku membeli pewarna makanan di toko itu, space pewarna makanan itu sangat berantakan, apa salahnya kalau ku rapihkan sekalian mencari warna hijau muda. Semua ku susun rapih sesuai warna, agar mudah untuk dicari. Berkat menyusun itu aku mendapatkan satu warna hijau muda diantara banyaknya warna merah dan hijau tua.
"tambah pewarna makanan hijau muda" pemilik toko memerintah pelayan toko untuk mengambil pesananku, karna warna itu sudah di tanganku langsung saja kuberikan. "ini" kataku sambil menyodorkan pewarna itu, "ohh, ini pesanan kamu?" "iya" kataku. Stop hanya disitu percakapan kami.
Hari ini aku datang lagi untuk membeli beberapa bahan kue, dan lagi lagi pewarna makanan, merah muda dan ungu. Karna aku sudah tau dimana tempat pewarna makanan dan kupikir untuk menghemat waktu pencarian warna oleh pelayan itu. Benar saja, pewarnanya sudah mulai acak acakan lagi, tentu saja ku rapihkan lagi, sambil mencari warna ungu. Aku bicara pada salah satu pelayan toko "yang kayak gini, warna ungu ada ga?" "Itu warna merah" katanya "iya ini warna merah, saya mau yang warna ungu juga". "ya, coba cariin yang warna ungu" katanya kepada pelayan lain. "Yang kaya gini, tapi warna ungu" "itu warna merah" kata pelayan lain (ternyata dia yang menyiapkan pesananku kemarin) namanya arya, "iya, saya mau beli yang warna ungu juga" dia sempat bingung karna kasir hanya menyuruh ambil yang warna merah. Sedang aku langsung meminta dua warna sekaligus.
Dia bawa satu pak pewarna, tapi warna merah yang dibawanya. "Bukan yang merah bang, yang warna ungu" kataku. Dia datang lagi membawa satu pak warna ungu, "ini warna ungu, tapi kebalik" sambil melihatkan kepadaku. Aku heran apa yang kebalik, perasaan warnanya jelas ungu dan tulisan di botolnya juga warna ungu. Dia bawa ke kasir, mengucapkan kata yang sama "ini warna ungu, tapi kebalik" "apanya yang kebalik?" Kata kasir "ini tulisannya.." sambil meneruskan "ugnu" tentu saja aku ingin tertawa lepas mendengar itu. Tapi karna bakatku pandai menyembunyikan emosi jadi aku tidak bereaksi apa apa, padahal sangat ingin tertawa. "Uuu, ngantuk ya, arya ngantuk" kata kasir dua dan sahutan tawa dari pelayan lain. Udah sampai disini saja, akhirnya barangku sudah dikemas dan sudah pula dibayar. Aku ingin cepat pulang, karna sudah terlalu sore.
Entah apa yang orang orang toko bicarakan, aku tidak memperhatikan karna aku tidak peduli. Yang kudengar "....masih SMA ya" ntah mereka membahas apa "iya,masih sekolah" kata Arya menjawab. Arya menyelipkan pertanyaan padaku "kamu masih sekolah?" "Enggak" jawabku.
"sini saya aja yang bawa" kataku untuk membawa barang ke motor. "Gausah, gapapa biar saya aja" katanya, padahal tanganku hampir mengangkat satu pak garam kasar. Karna mendengan perkataannya, jadi kulepaskan dan agak sedikit mundur. "Hemm, arya..arya..." Kata kasir dan pelayan toko lainnya. Karna sudah sore dan toko sudah mau tutup, hanya ada aku sendiri pembeli disana. Perasaanku seperti semua mata hanya tertuju pada kamu berdua.
Pelayan toko itu keluar duluan, sementara aku menyusul di belakangnya. Orang orang toko itu samih ceng cengin arya, lagi lagi aku pandai berbohong dengan memasang muka datar. Tapi sebenarnya aku menahan malu..
Dia mengantarkan barang sampai ke motorku dan menaruhnya di tempat injakan kaki motor metik, "eh, dikunci stang" kataku sambil membuka kunci stang. Sambil menaruh barang dia bergumam "masa pembeli ngangkut barang keluar" aku hanya dia tidak menjawab. "Terima kasih ya" katanya tanpa menatapku, sementara aku hanya mengatakan "iya". Aku bingung bukan sebaliknya, harunya aku yang mengucapkan terima kasih?
Sampai disini saja interaksi kami, dia balik ke dalam dan aku pulang.
Entah sejak kapan, aku mulai senang belanja ditoko itu.






