saya boleh mengutuk september tahun lalu dan oktober tahun ini?
ada yang lebih pantas mengutuk daripada saya.
saya jadi menyalahi takdir. kalau memang inginnya seperti itu, bagaimana?
saya kehilangan dua dari lima orang yang paling saya sayang di bumi ini.
iya, tulisan ini akan jadi banyak sedihnya. bukan mengemis rasa kasihan, saya hanya ingin menuntaskan sedikit keluh saya. dan ada hikmah yang saya rasa akan lebih melegakan jika ditulis.
september tahun lalu menjadi kali pertama saya menaiki mobil ambulans yang mengangkut jenazah.
oktober tahun ini menjadi kali pertama saya menjadi saksi awal dan memberikan diagnosis: kematian. saya masih berandai jika saat itu saya tahu eyang henti jantung, saya masih bisa mengusahakan? astaga, mata ini berair lagi. dan saya berandai-andai (lagi).
ada terlalu banyak kecewa.
tulisan ini mengendap di draft lama sekali.
https://www.youtube.com/watch?v=1JskEYFuUpA
ditulis, dihapus, ditulis, dihapus.
kemudian mendengarkan lagu ini dua pekan lalu. saya tidak pernah menyangka lagu lawas (di telinga saya) ini lantas begitu bermakna.
masih banyak yang belum sempat aku sampaikan padamu.
lama tidak pulang akhir pekan. jumat siang itu, saya tiba-tiba ingin pulang. belum sempat berbincang. niatnya istirahat dulu, mandi, beberes, baru ngobrol. sampai sesaat setelah adzan isya saya mendengar mama memanggil: “kakkk kenapa mbah kakung dipanggil ga jawab.”
akral sudah dingin. padahal saya masih mendengar suara eyang saat maghrib....
mama bilang, “kak mbah kakung seneng banget kamu udah seminar hasil skripsi selasa kemarin. dari tadi pagi nanyain kapan kamu nyampe rumah.”
iya, posisi saya saat itu beberapa hari setelah seminar hasil dan beberapa hari sebelum sidang skripsi.
hilang. saya kehilangan lagi satu orang yang selalu mendoakan saya tanpa pamrih. yang selalu berpesan semoga ilmu saya berkah dan bisa bantu banyak orang... yang selalu mendukung saya ketika yang lain sangsi saya mau jadi dokter.
“mbah kakung belakangan ini tidurnya malem banget. dzikirnya laa ilaaha illallaah. pertanda mungkin ya, kak”
hidup dan segala teka-tekinya yang tidak pernah bisa ditebak, saya dapat pukulan pelajaran
kita akan dimatikan dalam kondisi kebiasaan kita
berbuat baik tidak perlu dalam riuh. saya menjadi terpukul saat tiba-tiba ada yang menyampaikan pesan baik tentang eyang, bahkan tidak ada yang mengenal dan menyangka kapan hal baik itu dilakukan
doa... adalah hubungan paling kuat
sombong sekali kamu bahkan mengira bisa mati dalam kondisi yang baik? lahir pertama kali dimandikan orang lain, hari terakhir juga dimandikan orang lain. berhak sombong seujung jari pun tidak bisa.
cicil amal jariyah dari sekarang, Ki.
dan di atas itu semua, ada hal yang lebih manis:
ketika saya bilang eyang sudah tidak ada, hal yang pertama mama tangisi dan khawatirkan: tadi eyang sudah shalat belum, ya? dan memastikan tidak ada lagi salah yang mengendap di hati orang lain.
di titik ini, saya menjadi paham bahwa menyayangi adalah menjadi sadar sepenuhnya bahwa kita tidak pernah menjadi egois atas rasa yang kita punya. kita berusaha sebaik-baiknya untuk menjadi “mediator” kebaikan orang itu, memastikannya melakukan hal yang baik hingga nadi terakhir.
akhirnya menjadi momen diam setiap berdoa,
semoga bisa dikumpulkan kembali di surga Allah.
sedikit kurasi percakapan terakhir kami:
“mbah, kula pamit rumiyin nggih mau ke Jogja. Bentar lagi mau seminar hasil skripsi”
“Alhamdulillaah. (berdoa dalam bahasa arab) semoga Allah ridhai, semoga Allah bantu, semoga sukses. Jadi dokter yang baik, yo nduk.”