“Ah, sebenarnya aku sudah sangat malas untuk bercerita. Menuangkan pikiran dan hati untuk kembali mengingat hal yang terlalu menyakitkan. Tapi tak apa, toh tak ada rugi nya bagi ku”
Malam itu, tepatnya sehari sebelum aku memutuskan untuk keluar dari rumah yang ku temui 31 Januari 2017 lalu, aku mendengar suara gemuruh ombak yang tak kunjung henti berbicara. Ketika aku memutuskan untuk keluar dan mendengarkan cerita ombak itu, lantas betapa terkejutnya aku karena menemukan hal-hal yang selama ini disembunyikan oleh rumah peristirahatan ku saat itu.
Rupanya selama ini ombak itu selalu berusaha memberi tahu ku, bahwa rumah itu tidak pantas untuk aku tinggali. Ya, benar, karena terlalu banyak sihir di dalam rumah tersebut sehingga aku tidak sadar bahwa sebenarnya rumah itu menyembunyikan banyak hal dari ku.
“Rumah itu palsu”, begitulah ucap ombak kepadaku.
Dan ketika aku memejamkan mata—sekali, dua kali—kemudian membukanya secara perlahan, barulah ku temui wujud asli rumah itu.
Rumah itu, ternyata ia sungguh rapuh. Sudah banyak sekali noda hitam di tembok lusuhnya. Sudah banyak sekali celah di atap nya sehingga air hujan pun ku kira dapat mengguyur rumah itu hanya dalam waktu 5 menit saja. Daun kering yang selama ini tertutupi oleh sihir nya, kemudian terpampang jelas berserakan mengisi lantai nya. Debu, meja dan kursi yang tidak tertata, bahkan ku lihat di pojok sana terdapat lemari usang yang sudah tidak berpintu telah di huni oleh sekelompok binatang melata. Ah, bodoh sekali. Kemana saja diri ku? Hingga mata batin ku pun tertutup oleh sihir rumah itu.
Tak kuat menahan tangis, aku pun berlari, berlari menuju ruang itu. Aku masih berharap ruang itu benar-benar sama seperti yang aku tahu selama ini.
Dan.. Ah, ya ruang itu! Aku terdiam terpaku di depan pintu ruang itu. Tak cukup kuat aku melangkahkan kaki ku untuk masuk ke dalamnya. Aku terhentak kaget dibuat oleh nya, bagaimana tidak? Ruang yang selama ini ku cintai, ruang yang selama ini menjadi satu-satu nya pelindung di kala aku takut akan ancaman yang ada di luar sana, ruang yang selama ini ku yakini hanya menjadi milik ku.. Ternyata pun ia juga palsu. Sungguh. Ruang hangat itu..... tidak, ia tidak hangat. Ruang itu dingin, bahkan dinginnya cukup untuk membekukan dan mematikan aku jika aku terlalu lama terbuai oleh keindahan palsu nya.
Bagaimana tidak? Nyatanya, ruang itu tega sekali menyakiti tubuh ku. Menyanyat-nyayat dalam kondisi ku yang sedang terjaga. Memberikan luka yang bahkan lebih besar dan tajam daripada duri yang aku dapatkan dari dinding rumah nya.
Kau tahu apa yang lebih parahnya lagi? Ku temui wanita pencuri sedang terlelap dengan nyaman di tempat tidur yang juga selama ini menjadi tempat istirahat untuk ku!
“Baru satu minggu yang lalu”, ujar ruang itu memberi penjelasan kepada ku.
Jangan gila! Bagaimana bisa selama ini nyatanya aku dan wanita pencuri itu berbagi ruangan yang sama? Ruang yang selama ini ku jaga dari wanita pencuri. Ruang yang selama ini ku cintai. Ruang yang selama ini ku yakini juga menyayangi ku, hanya aku.
Tega sekali kamu! Bisa-bisanya kepalsuan ini kau tutup rapi dan kau butakan juga mata batin ku. Benar-benar palsu! Semua yang ada, kamu, rumah mu, dan wanita pencuri itu benar-benar pintar memainkan peran nya masing-masing.
Lantas aku memilih untuk pergi dan kembali mengayunkan perahu ku menuju luas nya samudra. Tak apa, aku memilih mati dimakan laut daripada harus mati tidak berdarah oleh rumah itu.
🖋 Sekali lagi, aku putuskan untuk melangkah pergi (19 Agustus 2017)