Perempuan-perempuan dalam Cerita Calon Arang
Budaya menjadikan Calon Arang sebagai salah satu dongeng sejarah masyarakat Hindu-Jawa. Naskah asli dongen ini berasal dari Jawa dan Bali, berkisah tentang kehidupan seorang penyihir yang gemar membuat onar dan menebar kutukan masayarakat. Sedangkan adalah Empu Baradah, seorang pendeta yang mampu meruntuhkan kutukan Calon Arang  dengan kesaktiannya yang suci.
Dalam Cerita Calon Arang, Pramoedya Ananta Toer, yang kemudian akan disebut Pram, menuturkan kisah Calon Arang dengan menggambarkannya sebagai seorang perempuan dari desa Girah, bengis dan memiliki kemampuan untuk meneluh siapa pun yang dianggap bertentangan dengan keinginannya. Ia banyak menciptakan kehancuran dan ketakutan di negara Daha, negara yang ia tinggali. Calon Arang memiliki seorang anak gadis perempuan bernama Ratna Manggali yang belum menikah, teman-teman Ratna Manggali baik laki-laki dan perempuan enggan bermain dengannya karna takut menjadi korban kebengisan sang ibu. Kondisi anaknya yang belum dipersunting membuat Calon Arang marah dan menciptakan kehancuran di negeri Daha, banyak orang mati karna perbuatannya. Dalam rangka menghalangi perbuatan keji Calon Arang, seorang pendeta bernama Empu Baradah diminta oleh pimpinan negara, Raja Erlangga, untuk memimpin operasi dalam meruntuhkan kutukan Calon Arang. Dalam operasinya, Empu Baradah mengutus seorang muridnya yang bernama Empu Bahula untuk menikahi Ratna Manggali. Pernikahan ini dinilai sebagai langkah awal untuk menghancurkan Calon Arang. Menikahlah mereka dengan perayaan yang meriah. Dalam pernikahannya, Empu Bahula yang telah menjadi suami Ratna Manggali meminta sang istri untuk mencuri kitab milik sang ibu, Calon Arang, untuk diserahkan kepada sang guru, Empu Baradah. Setelah didapat kitab tersebut, Empu Baradah membaca dan mempelajarinya dengan bijaksana demi mengalahkan ilmu hitam yang akan menjadi lawannya kelak.
Tibalah saatnya Empu Baradah menemui Calon Arang di bawah pohon beringin di antara makam-makam tua sesaat setelah ia menemui Dewi Durga. Perdebatan calonArang dan Empu Baradah membuat Calon Arang murka, berapi-apilah ia seluruh tubuh, mengancam akan membakar Empu Baradah namun sang Empu tak tersentuh api sedikit pun. Setelah cukup lama menyaksikan Calon Arang menunjukkan seluruh kemampuannya, barulah Empu Bardah berkata, âCalon Arang mesti mati!â, maka matilah ia. Karena kebaikan dan kebijasanaan Empu Bardah, dibangkitkanlah Calon Arang dari kematiannya dan disucikan jiwanya barulah kemudian ia dibunuh kembali. Matilah Calon Arang di tangan Empu Baradah.
Empu baradah memiliki seorang anak perempuan bernama Wedawati yang ditinggal mati ibu kandungnya. Beberapa lama setelah kepergian sang istri, Empu Baradah memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang perempuan yang menjadi ibu tiri bagi Wedawati. Sehari-hari tanpa Empu Baradah di rumah, Wedawati kerap menerima perlakuan ibu tirinya yang berusaha menyingkirkannya dari rumah. Pada suatu hari, ia begitu sedih atas perlakuan ibu tiri terhadapnya sehingga ia memutuskan untuk pergi ke makam ibunda untuk menangis sendirian, di sana ia merasa tentram dan damai seakan berdekatan dengan sang ibunda. Wedawati tak mau lagi pulang ke rumah bersama ayah dan istri barunya. Di usianya yang masih belia ia memutuskan untuk tinggal di sekitar makam sang ibunda sehingga didirikanlah oleh sang ayah sebuah rumah untuk Wedawati tinggal.
Tiga perempuan dalam novel; Calon Arang, Ratna Manggali, dan Wedawati adalah sebuah keresahan patriarkat dari status sosial yang berbeda-beda. Penggambaran ketiganya seolah buruk, kasihan, dan menyedihkan.
Sebagai tokoh sentral, Calon Arang seolah dimunculkan sebagai wujud seorang perempuan yang menginginkan pengakuan dari masyarakat atas status sosialnya. Pengakuan itu lantas ia dapatkan dengan kemampuannya dalam menggunakan ilmu sihirnya untuk ditakuti dan diakui kehebatannya. Motif Calon Arang dalam mendapatkan pengakuan pada CCA berangkat dari berita yang didapatinya tentang Ratna Manggali, yang menjadi buah percakapan masyarakat lantaran tak juga diperistri orang. Sehingga pergulatan emosi yang muncul bukan semata-mata terjadi pada hubungan Calon Arang dan masyarakat negeri Daha, melainkan hubungan antara dirinya sendiri yang tidak bisa menerima kondisi Ratna Manggali, anak kesayangan satu-satunya yang belum dipersunting laki-laki. Desakan budaya sekitar menyinggung emosi pribadinya sehingga kemudian memunculkan konflik lain selain konflik pribadi yaitu konflik eksternal dengan lingkungan yang melanggengkan budaya perihal pernikahan seorang gadis desa yang cantik, dalam cerita ini diperankan oleh anaknya sendiri, yaitu Ratna Manggali.
Meski Ratna Manggali akhirnya dipersunting oleh seorang laki-laki bernama Empu Bahula, dasar pernikahan yang terjadi bukan bertujuan untuk mencapai keharmonisan dan mahligai rumah tangga melainkan sebuat siasat dalam menghancurkan Calon Arang sang ibu. Empu Bahula yang berperan sebagai seorang suami dari Ratna Manggali meminta agar istrinya mencuri kitab sakti milik ibunya sendiri. Dalam sistem sosial patriarki, laki-laki dianggap memegang kuasa dan dominasi dalam berperan pada suatu status sosial. Kedudukan Empu Bahula sebagai suami dianggap lebih superior dan memiliki otoritas terhadap Ratna Manggali sehingga sebagai seorang istri yang kedudukannya dianggap lebih rendah, ia harus tunduk pada perintah suaminya. Pada diri Ratna Manggali, patriarki terlihat begitu kontras sebagaimana terlihat gamblang bahwa otoritas dan kekuasaan berada di pihak laki-laki di samping menjadikan pernikahan sebagai modus dalam menghancurkan kutukan sihir sehingga konsep pernikahan menjadi bias karna niat dan tujuannya.
Pram seolah tak hanya memunculkan korban-korban dan sistem patriarki sebagaimana ia memunculkan Calon Arang dan Ratna Manggali. Dalam diri Wedawati, nilai patriarki dicabut dengan memunculkan keberanian Wedawati dalam mengambil keputusan besar di usianya yang belia. Ajakan sang ayah untuk kembali pulang ke rumah ia tolak tanpa ada pengaruh sosial lainnya. Penolakan yang dilakukan Wedawati merupakan bentuk pembebasan dirinya terhadap pergolakan batin atas kesedihan yang dialaminya setelah kepergian sang ibunda dan konflik antara ibu tiri dan anak tirinya sehingga ia memilih untuk menyendiri dan menjadi petapa di makam sang bunda. Wedawati adalah wujud kebebasan dalam menentukan tujuan hidup yang mengesampingkan status sosial sang ayah di dalam keluarga yaitu sebuah otoritas dan superioritas dalam mengembalikannya pulang ke rumah, serta kebebasan untuk memilih nilai-nilai yang dianggap sebagai suatu keberhasilan, yaitu mencapai tujuan ketenangan batin.
Pengakuan-pengakuan yang didambakan okoh Calon Arang merupakan salah satu contoh keresahan yang terjadi pada korban-korban patriarki serta gambaran dari perempuan yang takut akan ketakutannya sendiri. Begitu pula Wedawati yang berada di bawah dominasi sang suami, adalah wujud perempuan yang berada di dalam pinggiran kebudayaan sebagai seseorang yang tidak menguasai tetapi justru dikuasai. Kedua tokoh tersebut seolah digambarkan sebagai korban-korban sistem sosial yang menyedihkan sebagaimana kemenangan dan kekuasaan hanya dimiliki oleh kaum laki-laki. Meski demikian, sembari mengesampingkan kesedihan, keberanian Wedawati perlu mendapatkan sanjungan dalam mendobrak sistem status sosial, dalam hal ini menyangkut status sosial di keluarga sebagai seorang anak perempuan belia.
Terlepas dari teknik membaca mendalam dengan melihat konflik terhadap kesenjangan status sosial, Cerita Calon Arang merupakan dongeng yang menarik untuk dibaca dengan aksen-aksen drama yang menegangkan. Selain itu, Pram berhasil membangun kembali ingatan masyarakat tentang dongeng Calon Arang dengan penggunaan bahasa dan cerita yang lebih mudah dipahami, yaitu bukan dengan bahasa sansakerta dan folklor.