ADIML: operasi di Belanda
Hari ini, 19 Maret 2026 alias H-1 lebaran di Belanda, aku dioperasi RdG Delft. Tujuannya untuk mengeluarkan 2 kista di rahim yg cukup besar. Operasi ini sudah direncanakan berbulan2 lalu. Alhamdulillah prosesnya lancar.
Malas membaca? Ini rangkumannya: mulai jam 8 pagi. Selesai jam 10. Siuman jam 11. Disuguhi eskrim sambil lihat 4 luka jahitan. Jam 6 sore di hari yg sama langsung pulang.
Aku ini kadang pelupa. Tapi aku ingin ingat hari ini secara menyeluruh. Soalnya.. kapan lagi gitu a day in my life nya operasi besar di Belanda. Aku dulu juga pernah operasi gigi geraham yg kompleks di Belanda. Sayangnya lupa didokumentasikan. Dulu pengalamannya juga cukup traumatis sih alias sakit bgt! Ini beda..
Jadi baiklah ini catatan dariku dan juga untukku di masa depan.
Cerita dimulai di hari sebelumnya sekitar 22:30 malam di mana aku harus puasa/stop makan, tapi masih boleh minum. Mulai puasa minum jam 3 pagi.
06:15 Berangkat dari rumah ke RS RdG Delft pakai mobil tetangga. Alhamdulillah bgt punya tetangga2 baik yg nawarin mobil (kebetulan mereka lg mudik). Padahal kami gak request pinjam lho. Thanks a lottt.
06:31 Sampai RS. Ibu, bapak, aku turun di lobi dan langsung cari mesin registrasi. Harusnya setelah scan Verblijfsvergunning (KTP), bisa langsung dapat QR code. Tapi kok gagal. Jadi minta bantuan resepsionis dan berhasil.
06:45 Ke bloedafdeling. Scan QR code, nunggu sekitar 20 menit untuk ambil darah.
07:05 Ke lantai 4E ruang tunggu operasi. Scan QR code lagi.
07:07 Panggilan alam alias ke toilet dulu hehe.
Keluar toilet langsung disambut suster & Tom. Diajak ke kamar setelah operasi. Ibu bapak diminta keluar agar tidak terlalu penuh di kamar. Ibu cium keningku huhu. Kirain bakal ketemu lagi, ternyata nanti setelah operasi. Aku disuruh minum 2 tablet paracetamol & painkiller. Lalu diminta ganti baju gaun operasi.
Setelah itu, aku diminta tiduran di kasur yg kemudian kasurnya didorong suster (& Tom). Setelah sampai di suatu hall, susternya bilang “jullie kunnen nu afscheid nemen” alias Tom dan aku disuruh perpisahan. Huhu dramatis abis. Airmataku ngembeng dikit haha 🥺
Kasurku terus didorong dan sampailah aku di ruangan persiapan operasi. Banyak pasien2 lain yg jg akan operasi di sini. Beberapa suster dgn sigap mempersiapkan semuanya. Mereka ramah dan mengajakku mengobrol, mungkin supaya aku ga deg2an. Tangan kananku ditusuk jarum IV, tangan kiriku dipasang alat ukur tensi. Aku diberi 2 selimut, satu selimut hangat dan satu selimut biasa. Mereka juga memasang banyak alat2 observasi yg aku tidak tahu namanya apa ke dekat leher/dada dan perut ku. Di sekeliling kasurku banyak kabel2 dan monitor2 yg berbunyi beep-beep-beep. Saat itu aku merasa sendirian dan canggung. Gaada hp yg biasanya kupakai di situasi asing ini. Jadi aku memutuskan utk mengobservasi orang seperti pasien2 di kanan dan depan, juga suster2 yg berlalu-lalang. Aku people watching sambil baca apa saja yg kuingat. Al-Fatihah, ayat kursi, zikir, dan triple qul. Aku lihat pasien di depanku mulai digeret ke ruangan selanjutnya. Selanjutnya pasien di sisi kiriku.. Di sini aku merasa seperti sapi qurban yg hendak disembelih. Was2 dan takut haha. Tapi tetap Bismillah.
Akhirnya giliranku tiba. Aku ingat betul jam dinding menunjukkan waktu pukul 8:00 saat 2 suster mulai mendorong kasurku ke ruangan selanjutnya. Dzr wong londo.. selalu tepat waktu, lekker op tijd! “We’ll get you to the operation room. And each room and hall we’ll pass through might feel a little bit colder and colder for you. Oh look, there’s a lot of sunshine today!” Haha suster yg ramah. Setidaknya aku bisa melihat langit biru hari itu.
Di ruangan selanjutnya, aku disambut Dr Fenna, dokter spesialis endometriosisku, dokter anestesi (yg kulupa namanya), dan sejumlah tenaga medis lain. Ruangannya terlihat canggih dengan monitor yg jauuh lbh besar, alat2 operasi (yg aku ga berani melirik), juga lampu2 besar dan terang. Lalu aku disuruh pindah ke meja operasi di tengah ruangan berwarna hijau. Aku diberi oksigen dan diajak ngobrol oleh dokter anestesi..
👩⚕️: gimana, apakah kamu sudah pilih mau mimpi apa? Atau mau jalan2 ke mana?
🧕: belum, memang harus ya?
👩⚕️: iya itu akan membantumu
🧕: yaudah aku mau ke Swiss aja deh
👩⚕️: oh bukan Indonesia? Kamu ga kangen indonesia?
🧕: Indonesia jg bole sih. Tapi ortuku lagi di sini. Jadi ga terlalu kangen. Sekarang pengen ke Swiss aja liat gunung dan danau di Oeschinensee
👩⚕️: pergi nya summer atau winter utk ski?
🧕: summer aja, mau hiking
👩⚕️: mau pergi sm siapa?
🧕: suami, 4 orang tua, sisters
👩⚕️: oke ini anestesinya sudah masuk. Tenang aja kita di sini. Selamat jalan2 di Swiss!
Aku masih dengar sayup2 suara dokter dan suster yg semakin lama semakin ga jelas. Lalu.. gelap dan sunyi. Di situ kayanya aku sempat takut mati huhu.
…
Aku bangun dengan kepala yg berat. Aku berusaha membuka mata dan beradaptasi melihat sekeliling. Sepertinya aku di ruangan persiapan operasi tadi. Mungkin digunakan juga sebagai ruangan observasi pasca operasi. Saat mataku mulai terbiasa dgn cahaya, seorang suster menawarkan apakah aku mau es krim rasa persik atau es krim roket. Kubilang mau persik saja. Lucu juga langsung makan es krim setelah operasi. Mimpi jalan2 ke Swiss nya ga terlalu jelas lagi, haha. Aku makan es krim sambil lihat perutku yg sudah ada 4 jahitan. Belum terasa nyeri saat itu. Sekilas aku lihat jam dinding.. waktu menunjukkan jam 11 kurang.
10:56 Kembali ke kamar sendiri. Bapak, Ibu, Tom sudah menunggu. Aku diajak bercakap2 dgn suster. Ditanya terasa sakit kah dan mau makan siang apa? Aku pilih menu yg agak menyerupai brunch ala2 cafe: yoghurt muesli, broodje kaas & pindakaas, bouillon vegan, dan teh hangat.
13:00 Makanan datang. Ternyata mereka melupakanku huhu gmn sih.
Antara 13:00-17:00 kegiatanku lunch, nonton kartun, ngabarin keluarga & temen di WA, coba pipis di pispot (ga berhasil), coba pipis di toilet dgn dituntun suster (berhasil yeay), banyak tidur. Awalnya aku ditemani Tom karena Bapak Ibu ke masjid dekat RS. Lalu Tom solat dan aku ditemani Bapak Ibu. Gantian hehe.
16:52 Dr Fenna visit. Dia menjelaskan bahwa operasi berjalan sangat lancar. Dua kista besarnya diambil. Untungnya tidak lengket ke organ2 lain. Organ tunggal jg engga (lucu lu jeung). Ada kista2 kecil di sekitarnya. Tapi ga membahayakan jd dibiarkan dan ini normal. Tuba falopiku tetap ada dan tidak diambil. Aku masih harus selalu minum obat hormon. Luka boleh kena air (boleh mandi), tapi tidak boleh pakai sabun. Aku makan apa aja boleh. Masalah susah pipis memang umum terjadi setelah operasi seperti ini. Dr Fenna jg memeriksa semua luka dan mengambil benang dari salah satu jahitanku.
18:00 Suntik trombosit oleh suster.
18:20 Otw pulang. Aku pakai gamis ibu soalnya lbh loose mirip gaun operasi.
18:44 Sampai rumah. Semua orang buka puasa dulu. Makasih banyak yaa Ibu, Bapak, Tom udah temenin.
Walau luka jahitan masih terasa nyeri, hati terasa hangat berada di antara orang2 kesayangan. Aku yg sudah jadi manusia dewasa berumur 30 tahun ternyata tetap bahagia ditungguin ortu (+suami yg satset bgt). Makasih ya Bapak Ibu, udah mau dateng ke sini, menempuh perjalanan super lama dan jauh. Makasih keluarga & sanak saudara yg turut mendoakan. Makasih teman2 yg perhatian chat, bikin makanan, dan minjemin mobil.
Your love & kindness never goes unnoticed! Love banyak2 ❤️❤️❤️















