Long time No see you, Tumblr! :}
h
TVSTRANGERTHINGS
Claire Keane
Lint Roller? I Barely Know Her
hello vonnie
trying on a metaphor
Xuebing Du
I'd rather be in outer space 🛸
Game of Thrones Daily
$LAYYYTER

★

tannertan36

祝日 / Permanent Vacation
art blog(derogatory)
almost home
will byers stan first human second

Andulka

Discoholic 🪩
seen from Chile
seen from Brazil
seen from Brazil
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from T1
seen from Lithuania

seen from Singapore
seen from T1

seen from Ireland
seen from Türkiye
seen from Germany
seen from Israel

seen from Ireland
@sagumanis
Long time No see you, Tumblr! :}

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Menggalau dengan tumblr...
Seharusnya anak dan istri itu adalah tempat kamu pulang ketika sudah banyak beban di pundak, bukan kau anggap beban atau hambatan untuk menghancurkan rencana mu,,
-unknow
tumblr memang setenang itu..
disaat seperti ini aku membutuhkan kaka untuk menjadi pendengar

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Apapun taqdir yang Engkau berikan, mampukan diri ini untuk menerimanya dengan penuh keridhoan.
POV : Beruntung
Sebagai seorang muslim, kalau kita bisa menggunakan sudut pandang valuenya dengan baik di tengah kondisi saat ini menurutku adalah sebuah anugrah. Kita memang mungkin hidup dengan namanya, tapi apakah hidup dengan valuenya? Nah itu bahan evaluasinya. Kenapa beruntung? Coba renungi baik-baik, saat cara pandang di sekitar kita (bahkan diri kita sendiri) menilai keberhasilan diri itu dari jenis pekerjaan, jumlah pendapatan, status pernikahan, punya anak apa engga, dsb.
Keberhasilan kita sebagai seorang muslim, enggak diukur dari semua itu. Tapi dari iman dan takwa. Kalau diturunkan dalam beberapa parameter turunan, ya menjadi manusia yang bermanfaat. Dan definisi bermanfaat itu luas banget. Udah.
Kamu tetap valueable dgn apapun kerjaan kamu sekarang (yg halal ya), kamu tetap valueable meski kamu belum nikah, kamu tetap valueable meski belum bisa jadi orang tua, kamu tetap valueable mau lairan normal - SC dsb, kamu tetap valueable jadi ibu rumah tangga, kamu tetap valueable mau tinggal di kota kek di desa kek. Bener-bener keberhasilan serta keberhargaan diri kita enggak diukur dari parameter2 yang selama ini memenuhi isi pikiran kita sampai bikin kita stres dan depresi. Dan puncak dari keberhasilan hidup di dunia yang menurutku membuatku sangat menginginkannya dan bisa dilihat dengan kasat mata adalah kematian yang baik.
Pernah nggak kamu iri sama orang (yang mungkin enggak kamu kenal), dia meninggal dalam keadaan yang baik. Semua orang membicarakan kebaikannya. Yang melayat - serta menyalatkan jenazahnya mashaAllah banyak banget. Setiap orang posting di sosial medianya, bersaksi bahwa dia orang baik. Padahal dalam paramater dunia yang selama ini mau kita raih, dia biasa-biasa aja. Enggak terkenal, bahkan kita baru kenal ya pas dia meninggal.
Kematiannya pun menggerakkan banyak langkah kaki orang meski jauh untuk datang dan shalat jenazah. Orang-orang yang tahu dia meninggal, merasa kehilangan seseorang yang berharga.
Sungguh, kalau sudut pandang kita bisa selaras sama value yang seharusnya kita ambil dari perspektif muslim. Kita nggak akan khawatir sama urusan dunia kita. Kamu tetap berharga, apapun takdir yang lagi kamu jalani.
Tinggal gimana kita memastikan kita berharga di mata-Nya dengan amalan-amalan :) (c)kurniawangunadi
Hari ini saya di ingatkan kembali oleh Allah bahwa suatu saat kita akan kembali.
12 April 2025 hari dimana Allah memanggil teman yang sangat saya cintai, dia orang nya lembut ga pernah marah sedikitpun, kami sudah beberapa tahun tidak komunikasi bahkan sampe dia menikah sah punya 2 anak.. Suatu hari dibulan November 2025 di mengirimkan pesan kepadaku di jam 10 malam, isi pesan itu menanyakan kabar dan dia ingin sekali melihat wajah ku walaupun hanya 10 menit, tapi aku menolaknya karena aku juga sudah punya suami dan harus menjaga jangan sampai ada kesalahpahaman... Beberapa kali mengirimkan pesan aku bahkan tak mengganggap itu pesan yang terakhir kali dari nya,
Tepat hari ini aku mendengar dia di panggil oleh Allah...
Ya Allah ampuni dosa nya, lapangkan kuburnya, dia sudah berusaha menjadi seorang ayah yg baik untuk anaknya... Semoga Allah mendengar doa ku aamiin ya Allah
ya Allah di sore hari yang hikmat ini...jangan sampai orang kafir yang memimpin negeri jazirah Al--Mulk ini ya Allah..sesungguhnya engkau yang maha merajai Aamiin....
Allah ku terimakasih sudah mendatangkan laki-laki yang sabar mengahadpi perempuan yang keras kepala ini ya Allah..di pundaknya ada beban maka kuatkanlah dia..sehatkan lah dia..jadi kan dia orang sholih...

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Di Balik Keshalihan Pemuda Ismail, ada Ayah dan Bunda yang Tangguh
(Poin-poin Khutbah Idul Adha yang disampaikan @edgarhamas di Masjid Al Jihad Kranggan, Kota Bekasi 10 Dzulhijjah 1444 H)
Ibrahim, nama mulia itu terulang 69 kali dalam lembar suci Al Qur'an. Beliau, kisahnya menjadi inspirasi bagi milyaran umat manusia. Namun kali ini aku akan mengajakmu lebih dekat dengan sosok istimewa yang tak kalah hebatnya: sang putra, Ismail alaihissalam. Tadabbur tentang beliau akan ku mulai dengan sebuah pertanyaan: di usia berapakah Ismail kecil saat beliau ditinggal di lembah Bakkah bersama ibunya?
Dalam Kitab Umdatul Qari karya Al Ainiy, kala itu usia Nabi Ismail baru 2 tahun; sedang banyak butuh bonding dengan ayah dan ibunya, sedang saat itu sang ayah pergi ke medan juang di Palestina. Namun lihatlah; sang Ismail bertumbuh menjadi manusia hebat yang lurus pembawaannya, santun akhlaqnya dan lembut budi pakertinya. "Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar..." (QS Ash Shaffat 101)
Betapa takjubnya kalau kita peka, ada fakta penting ketika Ismail mendengarkan perintah Allah lewat lisan ayahnya untuk menyembelihnya. Ayat 102 surat Ash Shaffat mengabadikan momen itu, ketika Nabi Ibrahim berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!”
Apa jawaban Ismail? Apakah beliau berkilah? Kabur? Lari tunggang-langgang? Menganggap orangtuanya sebagai toxic?
Ternyata jawaban Ismail begitu tulus sekaligus berhati besar menyambut perintah Allah itu, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” Jawaban yang hanya datang dari lisan manusia yang keyakinannya utuh dan murni, akidahnya kokoh tanpa banyak basa-basi. Aku semakin bergetar ketika membaca tafsiran ulama, berapa usia nabi Ismail saat ada di momen berat itu?
Ya, para mufassir mengatakan bahwa kala itu usia nabi Ismail sekitar 13-16 tahun!
Muda, tapi cara pandangnya bijaksana, bahkan melebihi orang-orang yang lebih tua dari beliau. Itulah yang membuatku ingin mengajakmu untuk mentadabburi: apa faktor-faktor yang mampu menciptakan mentalitas seperti yang dimiliki oleh Nabi Ismail muda?
1. Kemurnian Akidah jadi faktor penentu lingkungan sebelum yang lain.
Simak apa yang didoakan oleh Nabi Ibrahim ketika pertama kali menempatkan istri dan anaknya di lembah Makkah, "Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat..." (QS Ibrahim 37)
Yang jadi faktor utama yang membuat Nabi Ibrahim tenang menempatkan keluarga di lembah Makkah, bukan karena fasilitas, bukan karena resource melimpah; tapi karena di situ ada Baitullah! Dan visi Nabi Ibrahim begitu murni: agar anak keturunannya melaksanakan shalat. Barulah kemudian Nabi Ibrahim melanjutkan doanya sebagai pelengkap, "maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur..." (QS Ibrahim 37)
2. Ayah dan Ibu yang Shalih Shalihah
Ismail muda mendapat contoh terbaik tentang keyakinan total pada Allah sekaligus mentalitas ikhtiar yang terbaik dari ibunya: Ibunda Hajar. Kala Nabi Ibrahim meninggalkan keduanya di lembah Makkah yang tandus tak bertanaman itu, Ibunda Hajar bertanya pada suaminya, "apakah yang engkau lakukan ini adalah perintah Allah?"
Ketika Nabi Ibrahim menjawab, "ya", respon Ibunda Hajar begitu dahsyat, "jika memang begitu, maka Allah sekali-kali tak akan meninggalkan kami!"
3. Kedekatan emosional antara orangtua dan sang anak.
Jika kita memerhatikan, saat Nabi Ibrahim mendapatkan perintah untuk menyembelih Ismail, beliau tidak langsung melakukannya dengan tergesa dan kasar. Tidak. Justru, Nabi Ibrahim dengan bijaknya mengabarkan lebih dulu pada anaknya dengan panggilan yang sangat baik, "yaa bunayya!" Wahai anakku sayang. Dan setelah Nabi Ibrahim selesai menyampaikan perintah Allah itu, beliau mengakhirinya dengan sebuah kalimat dialogis, "Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu..." (QS Ash Shaffat 102)
Seorang anak akan tumbuh mencintai model hidup orangtuanya jika memang terjadi dialog yang hangat dan kedekatan yang baik. Moga kita bisa mengambil inspirasinya!
Di Balik Keshalihan Pemuda Ismail, ada Ayah dan Bunda yang Tangguh
(Poin-poin Khutbah Idul Adha yang disampaikan @edgarhamas di Masjid Al Jihad Kranggan, Kota Bekasi 10 Dzulhijjah 1444 H)
Ibrahim, nama mulia itu terulang 69 kali dalam lembar suci Al Qur'an. Beliau, kisahnya menjadi inspirasi bagi milyaran umat manusia. Namun kali ini aku akan mengajakmu lebih dekat dengan sosok istimewa yang tak kalah hebatnya: sang putra, Ismail alaihissalam. Tadabbur tentang beliau akan ku mulai dengan sebuah pertanyaan: di usia berapakah Ismail kecil saat beliau ditinggal di lembah Bakkah bersama ibunya?
Dalam Kitab Umdatul Qari karya Al Ainiy, kala itu usia Nabi Ismail baru 2 tahun; sedang banyak butuh bonding dengan ayah dan ibunya, sedang saat itu sang ayah pergi ke medan juang di Palestina. Namun lihatlah; sang Ismail bertumbuh menjadi manusia hebat yang lurus pembawaannya, santun akhlaqnya dan lembut budi pakertinya. "Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar..." (QS Ash Shaffat 101)
Betapa takjubnya kalau kita peka, ada fakta penting ketika Ismail mendengarkan perintah Allah lewat lisan ayahnya untuk menyembelihnya. Ayat 102 surat Ash Shaffat mengabadikan momen itu, ketika Nabi Ibrahim berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!”
Apa jawaban Ismail? Apakah beliau berkilah? Kabur? Lari tunggang-langgang? Menganggap orangtuanya sebagai toxic?
Ternyata jawaban Ismail begitu tulus sekaligus berhati besar menyambut perintah Allah itu, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” Jawaban yang hanya datang dari lisan manusia yang keyakinannya utuh dan murni, akidahnya kokoh tanpa banyak basa-basi. Aku semakin bergetar ketika membaca tafsiran ulama, berapa usia nabi Ismail saat ada di momen berat itu?
Ya, para mufassir mengatakan bahwa kala itu usia nabi Ismail sekitar 13-16 tahun!
Muda, tapi cara pandangnya bijaksana, bahkan melebihi orang-orang yang lebih tua dari beliau. Itulah yang membuatku ingin mengajakmu untuk mentadabburi: apa faktor-faktor yang mampu menciptakan mentalitas seperti yang dimiliki oleh Nabi Ismail muda?
1. Kemurnian Akidah jadi faktor penentu lingkungan sebelum yang lain.
Simak apa yang didoakan oleh Nabi Ibrahim ketika pertama kali menempatkan istri dan anaknya di lembah Makkah, "Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat..." (QS Ibrahim 37)
Yang jadi faktor utama yang membuat Nabi Ibrahim tenang menempatkan keluarga di lembah Makkah, bukan karena fasilitas, bukan karena resource melimpah; tapi karena di situ ada Baitullah! Dan visi Nabi Ibrahim begitu murni: agar anak keturunannya melaksanakan shalat. Barulah kemudian Nabi Ibrahim melanjutkan doanya sebagai pelengkap, "maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur..." (QS Ibrahim 37)
2. Ayah dan Ibu yang Shalih Shalihah
Ismail muda mendapat contoh terbaik tentang keyakinan total pada Allah sekaligus mentalitas ikhtiar yang terbaik dari ibunya: Ibunda Hajar. Kala Nabi Ibrahim meninggalkan keduanya di lembah Makkah yang tandus tak bertanaman itu, Ibunda Hajar bertanya pada suaminya, "apakah yang engkau lakukan ini adalah perintah Allah?"
Ketika Nabi Ibrahim menjawab, "ya", respon Ibunda Hajar begitu dahsyat, "jika memang begitu, maka Allah sekali-kali tak akan meninggalkan kami!"
3. Kedekatan emosional antara orangtua dan sang anak.
Jika kita memerhatikan, saat Nabi Ibrahim mendapatkan perintah untuk menyembelih Ismail, beliau tidak langsung melakukannya dengan tergesa dan kasar. Tidak. Justru, Nabi Ibrahim dengan bijaknya mengabarkan lebih dulu pada anaknya dengan panggilan yang sangat baik, "yaa bunayya!" Wahai anakku sayang. Dan setelah Nabi Ibrahim selesai menyampaikan perintah Allah itu, beliau mengakhirinya dengan sebuah kalimat dialogis, "Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu..." (QS Ash Shaffat 102)
Seorang anak akan tumbuh mencintai model hidup orangtuanya jika memang terjadi dialog yang hangat dan kedekatan yang baik. Moga kita bisa mengambil inspirasinya!
Jika Kamu Ingin Menikah
Belajarlah untuk mau dipimpin, oleh siapapun yang bertanggungjawab atasmu. Turunkan ego, agar mudah bagimu untuk patuh.
Belajar untuk tidak mudah menceritakan masalah kepada siapapun. Karena nanti akan ada aib-aib rumahtangga, yang sedikitpun tak boleh keluar dari pintu rumahmu.
Belajar menjaga hatimu terlebih dahulu. Karena nanti, kau harus menjaga hati orang yang kau cintai dan mencintaimu, sehebat apapapun ujian kalian hadapi.
Belajar mendidik keinginan. Mensyukuri segala yang telah kau miliki dalam lapang dan sempitmu, agar sesedikit apapun pemberian suami, mampu menggenapkan rasa cukup. Sehingga kau pun mudah jatuh cinta, pada hal-hal yang sederhana.
Belajar tersenyum, pada kepahitan. Karena nanti kamu akan menjadi peneduh dari kelelahan, pembasuh luka dan ketakutan.
Belajar memaknai bahwa kelembutan yang kau miliki, bukanlah kelemahan. Namun sebagai hiasan kecantikan. Jagalah rasa malu, karena rasa malu adalah mahkota bagi seorang perempuan.
Belajarlah menegakkan ibadah dan mencari ilmu, secara mandiri. Karena segala ketetapan memiliki masa, dan tak selamanya imammu dapat mendampingi.
Belajar bahwa hanya Allah yang kuasa menggenggam hati manusia. Agar ketika suatu saat cintamu padanya mulai berkurang, kau yakin bahwa Dialah yang akan menambahkannya, dengan keberkahan yang selalu kalian jaga, dalam kehidupan pernikahan.
Jika kamu ingin menikah, tidak ada syarat apapun yang harus kamu persiapkan, kecuali, keinginan untuk terus belajar.
Kairo, 22 Mei 2023 II 13.15 Clt
*ditulis berdasarkan perenungan,
bukan pengalaman :)
Kita boleh saja melangitkan harapan-harapan kita, tapi sungguh Allah yang Maha Mengetahui mana jawaban terbaik untuk setiap harapan yang kita langitkan.
Boleh jadi Allah langsung mengabulkannya saat ini juga, mengabulkannya pada waktu yang akan datang, menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik, atau bahkan menyimpannya untuk kita terima di akhirat kelak.
Apa yang kita kira baik belum tentu baik menurut Allah, dan apa yang kita kira buruk belum tentu buruk menurut Allah.
Tetaplah berbaik sangka kepada Allah. Tetaplah melangitkan doa dan harapan.
Karena tidak akan ada doa yang sia-sia.
-rekamdiksi
Usia semakin tua, tinggalkan orang yang toxic, kebanyakan drama, dan bikin ribet, kamu berhak bahagia tanpa peduli dengan mereka yang iri dengki, hasad hasud, tidak suka padamu dan berniat menghancurkan mentalmu, hidup mu tanggungjawab mu... 🤍🤍🤍

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Desta club 80's menggugat cerai istrinya..
Hiks..
Segitu susahnya emang mempertahankan pernikahan tuh.
Banyak fase dalam pernikahan yang harus kita lewati semua, terlepas umur berapapun kita menikah.
Ketika fase honeymoon itu usai,
Dimulailah kehidupan rumah tangga sesungguhnya.
Ketika kita mulai melihat kekurangan pasangan,
Ketika rasa cinta tidak lagi menggebu2 seperti awal bertemu.
Ketika perbedaan demi perbedaan menjadi hal yang harus terus kita cari titik temu nya.
Perbedaan latar belakang, perbedaan pola pikir, perbedaan kebiasaan yang terbentuk sejak kecil.
It's such a hardwork..
But believe me...
Semakin lama, it will get easier..
Rasa cinta yang seperti nya hilang ketika fase honeymoon usai,
Nanti akan kembali dalam bentuk rasa sayang dan respect satu sama lain.
Perbedaan itu akan semakin mengecil karena masing2 belajar untuk beradaptasi.
Menikah itu pembuktian cinta..
Karena disitu cinta kita betul2 diuji.
Dengan semua masalah dan ujian yang datang.
Dan semua bentuk cinta memang harus diuji dan dibuktikan.
Seperti sholat..
Sholat itu kan tanda kita cinta sama Allah yah.
Lagi sakit, lagi sehat, susah, senang, iman naik, iman turun, suci atau penuh dosa, tetep harus sholat.
Sepanjang hidup sampai maut menjemput.
Sama kayak menikah.
Easy or not, you both just have to never give up on each other.
Sing sabar, sing kuat, sing ikhlas..
Kata mama papa aku,
Niat menikah itu harus karena ibadah,
Kalau ibadah, harus ikhlas
Kalau ngga, nanti berat kerasanya..
So true!
Karena pasca menikah, dinding-dinding rumahmu bersama lelaki asing yang kau setujui hidup dengannya adalah rahasia.
02.09 a.m || 12 Mei 2023