Memulai Lagi, Menulis Lagi
Seorang kenalan yang belakangan lumayan kerap mengobrol denganku baru-baru ini berbagi arsip tulisannya yang sudah lama menumpuk di catatan ponselnya.
Ia bersikeras bilang kalau dirinya tidak bisa menulis, sementara aku merasa sangat menyayangkan kalau tulisan-tulisannya hanya dibaca ia sendirian [andai ia tahu seberapa besar keinginanku melempar sandal ke kepalanya supaya sadar tulisannya lebih daripada disebut bisa].
Sambil membaca satu persatu tulisan kenalanku ini, aku dihantui banyak pertanyaan yang datang dari belakang kepala.
Sebagian besarnya menanyakan kemana perginya hobi menulisku yang satu ini, kok seperti ditinggalkan begitu saja sekarang.
Aku berusaha mengurai alasan-alasan sok logis yang datang lebih cepat daripada isi hati [yang bermunculan untuk membuat pembelaan terhadap diri sendiri], mengelaborasi keduanya, pelan-pelan.
Salah satu dari ketiganya barangkali sama dengan yang dihadapi orang-orang yang menulis lainnya, yakni minder. Bahkan meski menulis buatku sering ditujukan untuk menyembuhkan dan melegakan semata, kenyataan akan dibaca, diraba, dipertanyakan, dan kemungkinan dinilai orang lain saat nanti mempublikasikannya sering kali jadi kendala.
Alasan lainnya dijamin pernah dialami setiap orang, yakni malas. Yang ini no excuses, jadi memang sebaiknya tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, ya. Sudah minder, malas pula. Kurang apa, coba.
Penerimaan bahwa hidup begini adanya, adalah alasan terakhir yang meski kedengaran kurang masuk akal, kuyakini sebagai alasan yang paling sering membuatku tidak lagi menulis belakangan.
Dulu, setiap mengalami sedih sedikit, pahit sedikit, senang sedikit, aku merasa bahwa ini adalah hari luar biasa; maka aku harus mengingatnya di luar kepala; dan membagikannya pada dunia.
Beberapa bulan terakhir, aku mulai berpikir bahwa menangis di atas motor, berjalan di tengah keramaian, berhenti bekerja, tidak kunjung bisa menyelesaikan skripsi, gagal dalam percintaan, dan merasa kehilangan teman adalah kejadian-kejadian medioker yang pasti dialami siapa saja.
Hidup begini adanya. Apa yang kualami adalah hal yang terlalu biasa, tidak pernah lagi cukup istimewa buat dibekukan dalam ingatan kata.
Dalam lawatan ke laman berisi tulisan-tulisan kenalanku, aku seperti diingatkan kembali bahwa nalar pikiranku ada yang keliru.
Caranya menceritakan sebuah hari sial, merindukan kampus dan koleksi tempat makan siangnya, perjalanan menyelesaikan skripsi, dan hari-hari kasmaran, mengingatkanku pada kejadian-kejadian lalu yang tidak jadi kutulis karena terlalu banyak pertimbangan. Meski pernah mengalami hal-hal yang kedengarannya sama dengannya, aku tahu betul cerita kita tidak akan sama satu dengan yang lain.
Sebab, tidak peduli seberapa banyak orang yang mengalami kejadian yang sama, tidak peduli seberapa sering kita mengulang hal yang sama, perasaan yang sama, masing-masing peristiwa, sekecil apapun, punya kotak ingatan yang tidak pernah benar-benar bisa diwakili yang lain.
Menulis, bagai kendil yang siap menampung kotak-kotak ingatan itu. Ia bisa dikubur di halaman belakang rumah untuk digali 30 tahun kemudian, atau ditaruh di dapur untuk dibuka setiap akan memasak sesuatu. Ia bisa jadi mesin waktu suatu saat nanti, atau dering alarm yang bisa jadi pengingat setiap hari.
Ia pasti, dan akan, menjadi sesuatu yang menjagaku untuk tetap waras. Dan kupikir ini adalah ide yang perlu senantiasa aku jaga. Untuk mencoba hidup kembali, menulis kembali.
Terima kasih banyak buat kenalanku satu itu. Semoga sebagaimana aku jadi ingin lebih giat menulis, ia pun begitu.