Fail to plan = plan to fail
Tau sih..
tapi tetep aja aku menunda-nunda.
Xuebing Du

@theartofmadeline
KIROKAZE
NASA
Misplaced Lens Cap

⁂
tumblr dot com
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

titsay
Keni
Peter Solarz

Andulka

Kiana Khansmith

izzy's playlists!
YOU ARE THE REASON
he wasn't even looking at me and he found me
One Nice Bug Per Day

Product Placement
will byers stan first human second
seen from Brazil
seen from Tunisia

seen from Malaysia
seen from Austria

seen from Bangladesh

seen from Indonesia

seen from United States
seen from Belgium
seen from Lebanon

seen from Malaysia

seen from Saudi Arabia
seen from United States
seen from Saudi Arabia
seen from United States
seen from France

seen from United States

seen from United States
seen from Portugal

seen from Algeria
seen from Gabon
@ruangica
Fail to plan = plan to fail
Tau sih..
tapi tetep aja aku menunda-nunda.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Tapi tumblr saya cuma bisa dibuka di bawah jaringan wifi kantor 😂
Assalamu'alaikum tumblr 🙏
Lately been so moody yet anxious. Worrying about a thing I don't know what 😭
Am I Left Behind?
Ada sebuah penyakit, saya tidak tahu nama resminya. Tapi kita namakan saja “Sindrom Ketinggalan Balapan”.
Indikasinya begini:
• Kamu sedang belajar atau meniti karir, tapi have no idea kamu mau jadi seperti apa di ujungnya nanti.
• Kamu ngeliat figur-figur hebat di bidang kamu. Di satu sisi kamu jadi bersemangat, di sisi lain kamu jadi overwhelmed karena ngerasa banyak banget hal yang mesti kamu pelajari untuk berada pada posisi seperti mereka.
• Efek lainnya juga, mungkin kamu jadi ngerasa ketinggalan, atau bahkan ngerasa udah salah jalan selama ini.
• Lalu kamu ngerasa tahun-tahun yang sudah kamu lalui kamu habiskan begitu saja, agak sia-sia. Kesal dan menyesal rasanya.
• Terlebih, kalau figur yang kamu lihat adalah teman sebaya kamu. Ada yang udah sampai di sana, ada yang udah jadi ini, ada yang sudah menghasilkan itu. Rasanya pengen mencet tombol restart hidup–andai saja ada.
Apa yang mesti dipikirkan-dilakukan dalam kondisi begitu?
Penanganan pertama: “Ingat, hakikat yang paling hakiki tentang hidup, bahwa kita semua akan mati, lalu semua cita-cita, pencapaian, karir–betapapun cemerlangnya, akan berakhir. Tutup buku. Apa yang penting adalah amal yang kita niatkan, persembahkan, untuk Sang Pencipta.
Penganan kedua: “Ingat, semua orang berproses. Semua yang ada di puncak pernah mendaki dari bawah. Jika kita masih di bawah, santai aja. Panik tidak akan membuat kita tiba-tiba berada di puncak. Tenang. Terus bejalan, selangkah demi selangkah. Lakukan sekecil apapun upaya kamu untuk menjadi versi lebih baik dari diri kamu, setiap hari, setiap waktu.”
Penanganan ketiga: “Ingat, hidup bukan balapan. Yang lebih dahulu menjadi hebat tidak membuatnya superior secara permanen dibanding kita; suatu saat kita bisa melampauinya. Terlebih, yang di mata kita sudah hebat, barangkali payah dan berantakan dalam sekian aspek–yang mungkin kita baik di sana. Kasih sayang keluarga, pertemanan yang berkualitas, ibadah yang khusyu’–banyak sekali hal yang matters dalam hidup yang tidak perlu syarat untuk memilikinya.
Oke, sementara segitu dulu.
Tarik nafaaas, hembuskan. Ayo kita jalan lagi, selangkah demi selangkah.
It does not matter how slowly you go as long as you do not stop.
Confucius
Bismillah.
indeed :)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Karena teman yang kita anggap amat dekat pun, suatu saat akan pergi.
Entah karna studi, kerja, keluarga, pernikahan hingga yang paling tak terduga; kematian.
Tugas kita sebenarnya amatlah sederhana, namun sulit dilakukan; at taubah ayat 24.
Maka tak perlu batasi gerak teman dekat kita dengan posesif kalau lama balas chat kita padahal dia online. Mungkin dia keasikan nimbrung di grup kerjaan. Mungkin dia lagi seru balesin chat customernya sampai sampai chat kita tertimbun dengan rapi di bawah bawah.
Merasa pernah begitu dekat dengannya, kita lalu baper. Merasa tidak diprioritaskan, dia punya teman lain yang lebih seru. Hidupnya baik baik saja dan ternyata hanya kita yang masih merindu disini.
Rindu jalan bersama di tepi pantai sambil cerita random. Rindu hunting barang barang lucu sambil ngomel ngomel kenapa designnya gak pake pantone 16-1329 kan lebih artsy. Rindu cerita sambil berbusa-busa sharing tentang dahsyatnya 10 tanda kiamat besar yang di ceritain Ust Khalid karena kita abis nonton itu malemnya. Rindu cerita sambil bodo amat airmata ngalir yang penting hati plong. Rindu ketawa trus pipi kram karena liat menu french fries ditulis frenfresh. Rindu datengin pameran trus nyicipin cake yang free to take tapi gajadi beli cakenya karena simpel; kita sama sama bokek.
Semua kerinduan kecil itu amat normal dirasakan oleh; orang orang yang sulit sekali percaya pada orang lain hingga hal itu sulit membuat ia punya teman dekat.
Mungkin dalam hidupnya, mereka yang sedikit itu amat berharga hingga kenangan tentangnya dibawa selalu kemana pergi. Mungkin juga ia tahu bahwa diantara yang sedikit itu suatu saat akan jauh darinya, tidak lagi menjadikan ia teman dekat.
Tentu saja pelan pelan waktu itu mulai datang. Saat satu persatu mulai menghilang berganti dengan chat yang mulai jarang.
Room private chat dan grup sepi hingga yang tersisa hanya basa basi.
Telponan mulai terasa kaku, hingga read chat diprioritaskan entar dulu.
Akhirnya, kita tak punya hak memaksa orang untuk selalu stay, tapi kita punya pilihan memanajemen perasaan kita; untuk tetap sayang dan mendoakan, walau semua pelan pelan menghilang :)
Selamat rehat, mari move on.
@lolanyunyu 🌻
Entah kenapa weekend ini tiba-tiba sedih kalau ditanya, "kapan icha nikah?"
5 Things that Keep us Stuck in Life
1. Believing negative, unproductive and self-defeating thoughts. These include thoughts like “I could never … I’m not good enough to … I don’t deserve to … I’m useless at …”
2. Blaming others. It’s true that other people can have a huge affect on what happens to us, and where we are in life. But we give them too much power if we let them set our course, and see ourselves as victims, and act like we’ve no power.
3. Taking ourselves too seriously. It’s important to work hard and to have integrity – but we also have to laugh and enjoy ourselves as well. Also, decide to let things go, and put up with some mistakes. You’re not a perfect person and, the truth is - that’s OK!
4. Being afraid to take some risks or to live close to the edge. To have an interesting life you must leave your comfort zone and say “yes” to some new chances and opportunities. It will broaden your perspective, reduce anxiety, and provide you with new options and possibilities.
5. Being afraid of change. It doesn’t take much effort to stick with what you know. The unknown can seem daunting as we don’t know where that leads! But we grow as individuals and lead a richer life if we learn to accept changes, instead of being scared.
why don't you just admit that?
RTM: Lima Fase Adaptasi dalam Pernikahan
Sudah memasuki tahun pernikahan yang ke berapa? Sorry, tidak bermaksud membuat yang belum menikah bersedih. Aku hanya mau berbagi yang aku baca tadi waktu nyiapin presentasi untuk acara seminar Ibuku. Lagipula setelah baca ini, yang belum menikah (dan sedang ngebet ke pelaminan) mungkin akan berhenti menganggap pernikahan sebagai jalan keluar ajaib dari satu problematika dan krisis dewasa awal: kesepian.
Ketika menikah, ada banyak hal yang harus disesuaikan. You name it: dari kebiasaan kecil kayak gaya nyimpen sendal; menghadap depan atau belakang, sampai prinsip-prinsip penting kayak pengasuhan. Nah, menurut hasil observasinya Mbak Michele Weiner Davis selama jadi konselor pernikahan, ada lima tahapan adjustment yang dilalui pasangan setelah menikah.
Tahap 1–Euforia perasaan
Ini pas pernikahan baru seumur seminggu dua minggu, sebulan dua bulan. Ada perasaan semacam, “Yeay, I’m lucky! Pasanganku perfect. Baik, romantis, pengertian. Aku ngga salah nikah sama dia!” Di tahap ini, jelas pasangan saling menerima dengan mudah. Wong yang diperlihatkan baru yang enak-enaknya aja.
Tahap 2–Mempertanyakan
Di tahap ini, mulai nih ketahuan keburukan-keburukan pasangan yang bikin ngga sreg. Muncul deh bisikan2 kayak, “Ih ternyata dia orangnya ga asik. Kok dulu aku mau ya nikah sama dia?” Ada godaan untuk menyesali pilihan kita untuk menikah. Ada keraguan apakah kita menikahi orang yang tepat? Mulai nih ada guncangan. Konflik. Jedar jeder boom.
Tahap 3–Mengubah
Muncul deh kebiasaan natural manusia untuk merasa dirinya paling benar, sehingga pasangan mesti ikut cara dia, pasangan mesti berubah karena dia inginnya gitu. Titik. Tutup buku. The end. Nah akhirnya muncul tuntutan, “Kamu nggak boleh gini kalau mau kita bertahan. Kamu harus berubah!”
Berubah jadi lebih baik itu emang perlu. Tapi ngga dengan mengendalikan, merendahkan, menganggap diri sudah final, menganggap diri paling benar. Cara yang baik sih memulai dari diri sendiri. Evaluasi bersama, apa yang bikin berantem. Tidak mungkin terjadi konflik kalau kedua pihak tidak ngotot merasa yang paling benar. Jadi pasti dua pihak punya kontribusi dalam konflik.
Tahap 4–Menerima
Di tahap ini, mungkin karena proses pembelajaran dan pertambahan perspektif, pasangan mulai ngeh bahwa ada hal yang bisa diubah, tapi ada juga hal yang ngga bisa diubah dari pasangannya. Satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menerimanya plus sedikit santai, “Yaa dia emang bawel sih orangnya. Tapi gimana ya, aku terlanjur sayang…”
Tahap 5–Melanjutkan hidup bersama apa adanya
Di tahap ini, semua tuntutan2 itu sudah lapur. Tertelan oleh penerimaan, pemaafan, dan pemahaman. Penerimaan utuh atas pasangan benar-benar tercapai.
Apapun yang terjadi, kamu dan pasangan hanya ingin tetap jadi pasangan selamanya…..sampai maut memisahkan.
Perlu banyak humor dan kemampuan menertawakan masalah untuk bisa sampai ke tahap ini.
Pssst….dan kata Empunya observasi ini, hanya 50% pasangan yang bisa sampai ke tahap ini. Deziqq.
(foto dari pinterest)
Jadi happy ending dalam pernikahan itu ada? Ada. Tapi lihat dulu jalannya. Yang jelas ngga semulus yang diceritakan dongeng-dongeng. Happy ending dalam pernikahan itu lahir dari proses yang panjang. Dan mendaki. Bukan pula berupa rangkaian cerita manis setiap saat. Tapi justru melalui kekacauan, konflik, perbedaan, huru-hara, perang dunia, tapi di akhirnya pasangan tetap bisa tertawa sambil berkata, “Aku tetep sayang!”
....
Have a safe journey!

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pernikahanmu, Semoga Selalu Indah Walaupun Tak Selamanya Mudah
Alhamdulillah, kali ini dua orang teman saya ternyata berjodoh. Saya mengenal mereka berdua ketika mengikuti pelatihan Forum Indonesia Muda angkatan 16 tahun 2014.
Kala itu, Sabtu, 18 Maret 2017 di Mesjid Al-Khabii, Kopo. Rintik hujan yang lembut penuh berkah menemani suasana khidmat pengikraran janji suci itu. Semua berjalan lancar sehingga jarak yang sangat jauh diantara mereka hilang seketika, saat kata “sah” menggema di mesjid itu.
Selamat Menempuh hidup baru, @yulialatifah dan Dwi Bremani, Semoga pernikahan kalian bersemi sampai surga-Nya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan cinta-Nya pada keluarga kalian berdua.
Berikut ini adalah catatan singkat khutbah nikah mereka yang saya rangkum dengan bantuan seorang teman, Aji Nur Affifah. Yuk kita resapi bersama! Semoga bisa menjadi pembelajaran baharga untuk kita kedepannya ya.
Adakah yang galau nikah? Hehe….
Galau nikah boleh banget, asalkan dibarengi dengan semangat menuntut ilmu, terus memperbaiki diri, dan yang gak kalah penting adalah terus menjaga diri. Agar sesuatu yang fitrah ini menjadi berkah. Semangat dan selamat berjuang ya!
Begini isi khutbah nikah mereka :
Jika diambil tema besarnya, nasehat yang disampaikan kala itu mengandung sebuah tanda tanya “Bagaimana memaknai pernikahan agar cinta tak lekang oleh waktu dan terus bersemi hingga ke Surganya?”
aahh yaa, setiap hati yang bertaut karena Allah tentu saja mendamba cinta hingga surga. Namun, untuk mencapai hal itu, ada beberapa makna yang harus ditanamkan pada mitsaqon ghaliza ini. Sebelum ia bertumbuh lebih tinggi, maka fondasinya harus diperkuat terlebih dahulu, agar ketika angin menerpa lebih kuat, maka ia tak mudah rapuh dan tak gampang rubuh.
Ialah perjanjian yang kuat, perjanjian yang agung, dan perjanjian yang disaksikan langsung oleh Allah SWT, yang apabila sepenggal kalimat itu di ucapkan maka para malaikatpun akan memenuhi seisi ruangan seraya mengaminkan doa-doa yang bertebaran disana.
Jadi, apakah yang harus ditanamkan, ditumbuhkan dirawat hingga ia bersemi sepanjang waktu?
Tolong tanamkanlah beberapa makna ini didalam hatimu, ya!
Pernikahan adalah rahmat Allah, pasangan kamu adalah yg terbaik dunia akhirat. Terimalah ia dengan segala rasa penuh kesyukuran. Terimalah ia, baik kebaikannya maupun apa-apa yang tidak ada padanya. Sadarkah jika, di antara miliyaran manusia di bumi ini, tapi Allah telah memilihkan dia untuk melengkapi agamamu. Maka, janganlah biarkan dia pudar. Karena pernikahan itu amanah bagimu, hanya ia yang dititipkan Allah pada kamu. Muliakakan ia dengan sebaik-baiknya cara. Lalu berlomba-lombahlah menjadi seseorang yang mulia dengan cara memuliakan pasangan kamu.
Pernikahan adalah jembatan untuk beribadah kepada Allah SWT. Maka setiap waktu yang kamu habiskan bersamanya akan bernilai ibadah. Luruskan setiap niat yang mengawali setiap harimu, setiap langkahmu hanya untuk Allah. Menata setiap satuan tangga surga bersama dan senantiasa menanti ridha-ridha Allah.
Pernikahan adalah dakwah. Dakwah adalah merangkul dan dirangkul. Menjadikan diri sendiri sebagai teladan untuk pasangan. Kamu tak harus memberikan khutbah didepan banyak orang, karena dengan memberikan teladan yang baik dalam rumah tangga maka akan menjadi jalan dakwah bagimu. Hadirkanlah perbuatan, perkataan dan sikap yang baik, yang penuh cinta dan kasih sayang. Kemudian,berpegang teguhlah pada alqur'an dan sunnah, maka tidak akan ada perpecahan keluarga dan tidak ada perceraian diantara kalian. Dengan mengajarkan one day one ayat, one day one hadist maka rumah tangga itu akan dipenuhi cahaya dan hati akan ditumbuhi iman yang berlipat-lipat pula.
Pernikahan adalah sebuah kepercayaan dari Allah. Allah akan meminta pertanggungjawaban nanti. Untuk apa waktu yang kamu habiskan bersama, kemana tujuan kamu menempuh perjalanan berdua dan kontribusi apa yang dibangun saat bersama. Karena pernikahan adalah jalan menuju surga bersama-sama. Jadi, pastikan apa-apa kepercayaan ini dijaga dengan sebaik-baiknya.
Pernikahan adalah taklim. Ia merupakan awal dari pembelajaran. Perbedaan yang ada dalam pernikahan adalah pelajaran berharga. Setiap kejadian yg terjadi dalam pernikahan adalah bagian untuk kita menjadi manusia yg lebih baik. Sikapi perbedaan itu dengan penuh rasa cinta.
Begitulah beberapa makna tentang pernikahan yang bisa dijadikan fondasi untuk menjadi keluarga yang dirindukan surga. Pernikahan adalah rahmat, ibadah, dakwah, amanah, dan taklim.
Semangat berbenah, dan semoga diberi kesempatan untuk mengamalkannya ya!
Bandung, 22 Maret 2017
Separuh Menuju Utuh
Aamiin Allahuma Aamiin semoga Allah mampukan untuk mengamalkannya :)
Just because I said nothing doesn’t mean I didn’t notice.
Unknown (via onlinecounsellingcollege)
Investasi
Dapet dari instastory-nya founder QuranID, Archie Wirija, dimana doi juga ngecapture dari instastory seseorang (lupa, nanti ingetin aja ya kalau ada yang tau). Jadi investasi itu ada 3 tahapan: 1. Investasi diri sendiri 2. Investasi jaringan 3. Investasi materi? (Lupa yang terakhir) Tiga tahapan ini harus berurutan. Jangan langsung lompat ke no. 3 misal. Investasi diri sendiri ini maksudnya bisa berupa beli buku, ikutan workshop, dll. Intinya bagaimana kita menambah wawasan untuk diri sendiri. Investasi jaringan adalah berusaha memperluas pertemanan/perkenalan dengan siapa saja, terutama yang bisa dibilang lebih sukses dari kita. Kalau bisa sambil traktir. Tambahan: Never burn the bridge lah. Bisa jadi orang yang hari ini bikin kita ga enak, nanti malah tolong menolong. Barulah yang ketiga, investasi materi. Bisa investasi properti, emas, dsb. Jadi, misal kita mau invest properti. Hal yang dilakukan sebelumnya adalah: 1. Baca buku tentang properti 2. Ngobrol sama orang yang udah berkecimpung disitu
Aku ga suka dengan kata-kata "pura-pura bahagia", kita memang lebih baik selalu berusaha bahagia dan ga ada yang salah dengan mengusahakan hal-hal yang baik, termasuk menumbuhkan perasaan positif.
#menolakdrama
Katalog (Cerita) Jurusan
Administrasi Bisnis: @basithisme
Administrasi Publik: @justArsyad
Aerospace Enginering: @putraarri
Agribisnis: @likalulu @dhionn
Agronomi: Citra Recha Sari
Agronomi dan Hortikultura: @eskacang
Akuntansi:@nisa_1503 @gitaswasti Chairunnisya Wati
Analisis Keuangan: @meliaagustia
Antropologi: @hanyfati @hanyfati
Arkeologi: @rainiesa
Arsitektur: @rofidaamalia @satriyoan @nurimannisa Putri Besman @erstiecci
Arsitektur Lanskap: @azkaazra
Asia Pacific Studies: @istichaa116
Biologi: @amalianina
Bioteknologi: @shaadl
Desain Interior: @arifallah_
Desain Komunikasi Visual: @fadhlizaky @zuuuuuuuuul
Desain Produk: @jamikanasa
Ekonomi dan Admintrasi: @pu3agustina
Engineering Management (MRI): @dhefimaputri
Farmasi: Tika R.M. @diianbm @aldizal
Filsafat: @geacitta
Finance: @fitrisafira
Fisika: Rizqi Arbie
Fotografi: @salzooo
Geofisika dan Meteorologi: Nadita Z.S.
Geografi: @ibnubudiman
Geologi: @shukhurniawan
Gizi: @irnahera @heyitskryssy
Hubungan Internasional: @mahrangaffandi @vinavinavina
Ilmu Ekonomi: @nurulway
Ilmu dan Teknologi Kelautan: @ujangfahmee
Ilmu dan Teknologi Pangan: @RisqahF Riska Fitriawati
Ilmu Hukum: @PritaPurwanto @Cicajoli @diraelmir @n_hadiyati Muthmainnah
Ilmu Keluarga dan Konsumen: @ar_zuliany
Ilmu Perpustakaan: @dinarediwa
Ilmu Peternakan: Istijaar Akbarok
Ilmu Politik: @libloc
Kebidanan: Rafi'u @luthfitriana @anggunLD
Kedokteran Gigi: @chakidila @dokterfina
Kedokteran Hewan: @drh_dimas
Kedokteran: @dhityoprima Rizky Lavita @zhullatullah @tiaraksari @agathadinar
Kehutanan: @beningtirta
Keperawatan: @nahlajovial
Kesehatan Masyarakat: @nurbeytinst @euisRS
Kimia: @beningtirta @littlestarz92 @hayu_ni
Komunikasi: @nengsifat @Devisaufa @annisaikhsania @Ronamentari @mutiiadia
Komunikasi Broadcast: @diazmultisuspa
Kriminologi: @RidhaIntifadha
Manajemen: @ihsAntoso
Matematika: Andy Riyan
Oseanografi: @renatafarizka Hugo Samudra
Pajak: @Mayaawijaya Ashlih
Pariwisata: @reriana_
Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan: @ajengfii
Pendidikan Bahasa Inggris: @reginaMS_13
Pendidikan Bahasa dan Sastra Arab: Nur Adibatul Lutfiyyah
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia: @MirtaPrastiwi
Pendidikan Geografi: @jolayjali
Pendidikan Luar Biasa: @fatinahmunir
Pendidikan PAUD: @jazznaw
Perbankan Syariah: @widyatyaz
Perencanaan Wilayah & Kota: @rerlani
Psikologi: Arina @nanannuraini Joevarian Hudijana
Rekayasa Hayati: M.Fadhlullah
Sastra Indonesia: @Nadia_skinny @adik_apriliyadi
Sastra Inggris: @nezhafath
Sastra Jepang: @dianahermawan29
Sastra Jerman: @panduakb
Sastra Korea: @mega_yoora
Sastra Perancis: Atma Dewita
Sastra Rusia: @perdanap
Sejarah: @tyanapit
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (Bea Cukai): @fandi_moslem
Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial: Alfrojems
Sistem Informasi: @munthewahyudi @andidfatin Dyah Hayu
Sistem dan Teknologi Informasi: Azka Ihsan
Sosiologi: @aufaapriliani
SKPM: @annisaikhsania
Statistika: Resty
Teknik Bioproses: @KennyLischer
Teknik Elektro: Reka Inovan @cytianadzilah
Teknik Fisika: Hasna Afifah @arifsaNn Anugrah Sudarsono
Teknik Geodesi: @ayurinputri
Teknik Geologi: @aveliansyah @shukhurniawan
Teknik Industri: @emaselma
Teknik Informatika: @nisabrinaa @primawanSa
Teknik Kelautan: Julfikhsan
Teknik Kimia: Rizky Ayu @fauziUI
Teknik Lingkungan: @fayusriyani @akbarsyahid
Teknik Mekatronika: @putikisdhiya
Teknik Mesin: @rahimisnan
Teknik Mesin dan Biosistem: @baguskah
Teknik Nuklir: M. Rizki Oktavian
Teknik Pengairan: @vheythaa
Teknik Perkapalan:@dadi_bangun
Teknik Pertambangan: @kamil032
Teknik Pertanian: @TYulni
Teknik Sipil: @marceltirawan @ilmaalya
Teknik Sipil dan Lingkungan: @Alfandiasseysna
Teknologi Industri Pertanian: @Fatchul_Rahman @ariefalmdn
Mau tahu ‘isi’ dari sebuah jurusan? Ini dia.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Buat Apa Repot Banget Belajar Sekarang? Kayak Mau Nikah Besok Aja~
Hallo, generasi millenials! Apa kabar quarter life crisis? Semoga tidak menggalaukanmu sedemikian rupa, ya! Eh hmm, memangnya apa sih yang sering jadi sumber kegalauan anak muda zaman now? Apa lagi kalau bukan tentang masa depan? Tentu saja! Salah satunya adalah tentang pasangan hidup: siapa orangnya, bagaimana pertemuannya, kapan menikahnya, dan seterusnya. Tanpa disadari, kegalauan tentang masalah yang (di)besar(-besarkan) ini seringkali mengambil energi yang sangaaaaat besar. Padahal,
jauh dari pada kegalauan-kegalauan receh itu, ada lebih banyak hal yang lebih penting untuk digalaukan, seperti misalnya, “Apakah benar sudah siap menikah? Sudah siap menjadi pasangan? Sudah siap diamanahi Allah keturunan? Sudah siap menjadi orangtua?”
Sayang sekali, kebanyakan yang terjadi seolah seperti orang yang belajar berenang setelah langsung tenggelam ke air dan belajar setelah ujiannya memang ada, padahal semuanya akan lebih baik jika persiapan dan belajar dilakukan sebelum ujian. Begitupun dengan pernikahan dan pengasuhan, dimana kelak perempuan akan menjadi madrasah pertama sedangkan para lelaki akan menjadi kepala sekolahnya. Maka, laki-laki dan perempuan sama-sama perlu memahami persiapan pernikahan dan pengasuhan.
Mampu Menikah Bukan Sekadar Tentang Materi dan Finansial
Kepada para pemuda, Rasulullah berpesan untuk menikah jika memang telah mampu menikah. Tahukah kamu? Yang dimaksud dengan mampu dalam konteks ini bukanlah tentang kemampuan untuk bisa membayar kontrakan, cicilan kendaraan, atau biaya walimah besar-besaran. Bukan itu. Tapi, mampu disini juga berarti kesiapan mengasuh karena pernikahan berarti sebuah gerbang dimana nanti akan ada keturunan-keturunan yang dihasilkan.
Sebuah ayat pengingat dari Allah dalam Al-Qur’an pun telah membahas mengenai pentingnya kesiapan mengasuh ini untuk dipersiapkan, yaitu
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” - Q.S An-Nisa : 9
Nah tuh, hendaklah takut kepada Allah kalau meninggalkan keturunan yang lemah. Memangnya, lemah disini konteksnya apa, sih? Apakah tentang harta yang kurang cukup? Apakah tentang fisiknya yang sering sakit? Bukan, lemah disini adalah lemah dalam menghadapi tantangan zamannya.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Di ayat tersebut kita juga diperintahkan untuk berkata benar, yang ternyata tidak hanya mencakup perkataan, tapi juga perbuatan dan keputusan yang dibuat untuk anak, yang ketiganya haruslah benar. Ini berperan dalam praktik-praktik sederhana. Bagaimana kita bisa mengatakan apa yang benar kepada anak-anak kita sementara kita tidak mengetahui yang benar itu apa?
Mempelajari Ilmu Pra-Nikah Ternyata Belum Tentu Mempelajari Kesiapan Mengasuh
Pernikahan adalah tentang ibadah seumur hidup yang menghabiskan lebih dari setengah usia kita. Pasca menikah, tugas yang paling identik untuk diemban oleh sepasang suami isteri adalah mengasuh anak. Tapi, hal ini seringkali menjadi luput untuk menjadi perhatian anak-anak muda, seolah menikah selesai dengan urusan antarpasangan saja. Ini bukan sekedar asumsi atau cerita, karena data dari statistik pendaftar Parents Prouductive menggambarkan
62% anak muda mempelajari pra nikah, tapi ternyata, jumlah yang belajar dan mempersiapkan pengasuhan jauh lebih sedikit daripada itu, yaitu 21,6% saja.
Kesiapan mengasuh anak-anak muda zaman now ternyata rendah, hal ini didukung juga oleh fakta bahwa pengasuhan ini tidak ada sekolahnya. Tidak ada sekolah menjadi ibu atau ayah, padahal untuk profesi-profesi lain ada sekolahnya, bahkan untuk menjahit pun ada kursusnya. Nah, dengan akses belajar dan akses informasi yang saat ini meluas, sebenarnya tidak ada alasan yang bisa membenarkan kita untuk menunda-nunda belajar dan mempersiapkan diri.
Belajar bisa dari mana saja, tapi masalahnya, apakah kita mau melakukannya dengan menginvestasikan waktu, tenaga, dan mungkin juga uang kita?
Silahkan ditanyakan kepada masing-masing hati :”)
Memangnya, Apa yang Membuat Kita Perlu Memiliki Kesiapan Mengasuh Sejak Dini? Engga Nanti Aja Kalau Sudah Dekat ke Akad atau Kalau (Istri) Sedang Hamil?
Pertama, karena kita tentu ingin nurut kepada Allah dan menhindarkan diri dari meninggalkan keturunan yang lemah seperti yang telah dibahas dalam Q.S An-Nisa ayat 9 tadi. Berkaitan dengan hal ini, dalam sebuah kesempatan, Ibu Elly Risman pernah menyampaikan,
“Kalau sama Allah aja kamu engga takut, terus kamu mau takut sama siapa?”
Kedua, karena kita kelak akan menga/suh generasi dengan tantangan zaman yang berbeda. Sebagai generasi Y (lahir di rentang tahun antara 1980 – 1994), disadari atau tidak, kita seolah dipaksakan orangtuanya untuk sekolah setinggi-tingginya dan mendapatkan pekerjaan yang bagus, akibatnya generasi Y dapat unggul secara akademik tapi tidak siap menjadi suami/isteri dan orangtua. Padahal, generasi Y ini mengemban amanah yang sangat besar di transisi generasi karena berada di masa peralihan antara 2 generasi yang sangat berbeda. Amanah apakah itu? Amanah mengasuh digital native, yaitu anak-anak yang sudah terpapar teknologi sejak lahir, bahkan sejak di dalam kandungan.
Persepsi masyarakat dalam mengasuh adalah learning by doing. Bahayanya, hal ini justru dekatnya dengan trial and error. Padahal, pengasuhan tidak bisa diulangi lagi dan akan ada banyak penyesalan yang terjadi setelahnya jika gagal. Kalau begitu, apa yang akan terjadi jika kita sebagai generasi Y ini mengasuh anak tanpa persiapan?
Kemungkinan paling mungkin adalah kita akan mengobservasi cara pengasuhan orangtua kita dulu dan dia menggunakannya lagi untuk mengasuh anak-anak kita, padahal zaman sudah berbeda.
Tidak hanya itu, parenting is all about wiring, bahaya kan kalau ada rantai pengasuhan yang salah yang kemudian kita tularkan lagi pada anak-anak kita?
Ketiga, kesalahan pengasuhan akan berakibat pada kondisi BLAST pada anak-anak, yaitu bored-lonely-afraid/angry-stress-tired, sehingga mereka akan rentan terhadap bullying, peer pressure, konten dan value yang tidak baik, sasaran empuk pebisnis pornografi, dan budaya hidup tidak sehat.
Ada sebanyak 87 juta anak Indonesia (yang saat ini berusia 0-19 tahun) yang akan mengisi posisi pemimpin negeri ini di tahun 2045 (di usia emas sebuah negara). Siapakah mereka? Mereka adalah anak-anak kita, yang dilahirkan dari generasi kita. Bayangkan bagaimana jika mereka BLAST? Padahal, generasi yang kelak memimpin negeri ini di 2045 haruslah menjadi generasi yang BEST (Behave-Empathy-Smart-Tough), yaitu yang berbudi pekerti baik, memiliki rasa kasih sayang, punya kecerdasan emosional, cerdas, dan tangguh sejak dari rumah karena di luar banyak sekali tantangan yang dihadapi.
Kalau Begitu, Apa yang Bisa Kita Lakukan Sekarang?
Pertama, kenali diri sendiri, pahami bahwa setiap orang terlahir unik, berdamailah dengan masa lalu dan terimalah bahwa seluruh kejadian di masa lalu itu adalah bagian dari diri kita, terima kekurangan dan kelebihan, jadilah diri sendiri.
Seseorang yang tidak kenal dirinya sendiri cenderung akan mencari-cari pasangan yang sempurna untuk menutupi kekurangan dirinya. Padahal, seperti yang dikatakan ustadz Salim A Fillah, jangan menikah dengan ekspektasi, tapi menikahlah dengan obsesi, yaitu tidak mencari pasangan yang sempurna tapi kita bertekad kuat untuk menjadikan dan mendidik pasangan kita sempurna di mata Allah. Maka, carilah yang di kepalanya ada ilmu, di hatinya ada takwa, dan di tangan ada kebaikan yang kelak akan kalian lakukan berdua.
Kedua, sadari bahwa kita kelak akan menjadi orangtua. Ketiga, pilihlah calon yang terbaik, karena hak pertama anak adalah dipilihkan ayah/ibu yang terbaik untuk kita (ikhtiar untuk menjadi suami/istri terbaik). Keempat, rumuskan tujuan pengasuhan, yaitu tentang mau jadi apa anak kita, bagaimana akan mengasuhnya, keluarga kita mau jadi apa, pasangan kita mau jadi apa, dan seterusnya.
Ikat Dulu Untamu, Lalu Bertawakkallah
Semua orang terinstall untuk bisa jadi orangtua, memang begitulah fitrahnya. Tapi, jangan kemudian berleha-leha. Ikat untamu dulu, usaha dulu, belajar dulu, bersiap dulu, baru setelahnya tawakkal kepada Allah.
“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zamannya, bukan di zamanmu.” – Ali bin Abi Thalib
_____
Tulisan ini adalah resume materi Parents Prouductive sesi pertama yang diolah kembali agar lebih mudah untuk dicerna. Judul asli materi ini adalah “Menjemput Amanah Baru: Mengasah Asa, Menyemai Generasi” yang disampaikan oleh Ahmad Sa’ad Ibrahim, seorang inisiator NuParents dan edukator Parenting Era Digital.
Sampai bertemu di review-review selanjutnya. Untuk membaca tulisan parenting atau pra-nikah lainnya, klik disini.
Jangan menikah dengan ekspektasi, tapi menikahlah dengan obsesi, yaitu tidak mencari pasangan yang sempurna tapi kita bertekad kuat untuk menjadikan dan mendidik pasangan kita sempurna di mata Allah.
I once told her I wasn’t good at anything. She told me survival is a talent.
Sysanna Kaysen (via onlinecounsellingcollege)