Indah, tapi belum benar, ya percuma. Benar, walaupun belum indah, itu sudah cukup.
Bukan hal yang pelik memahami hal – hal yang sebenarnya enteng untuk dipahamkan bersama, bahkan kita sudah sering mendengarnya, ada yang menuliskannya juga—ilmu. Namun, hati kita terkadang terlalu keras untuk menerima suatu kebenaran yang sejatinya belum terlihat indah sekarang. Kebathilan yang terbungkus apik itu jikalau bisa berbicara akankah ia biarkan kau menikmatinya? Aku ragu, ia tak akan biarkan begitu saja. Tak masalah sebenarnya, jika hatimu begitu dan masih kau alasankan dengan kata “berproses” atau kau akan pilih frase “disaat seperti ini apa salahnya” mungkin kau juga ingin memilih kata – kata ini “sekali – kali kan gak apa – apa” atau mungkin ada lagi kata – kata seperti ini “jangan terlalu mengkakukan sesuatu lah, ini kan biasa saja”. Saat itu mungkin belum ada yang berani berkata padamu bahwa kau lupa akan satu hal—sejatinya kebaikan itu akan menghadirkan kenyamanan, ketenangan dan ketentraman, dan sebaliknya, yang kurang baik itu akan menghadirkan kegelisahan. Sudahkah kau yakin saat menikmati “kebathilan yang terbungkus indah” itu hatimu nyaman dan tentram? Lagi – lagi aku ragu. Aku tak katakan, kau salah. Tidak! Siapa sih orang yang mau disalahkan di dunia nan fana ini? Apalagi jika orang itu sudah merasa mulai atau sudah sampai pada kata “benar” menurutnya.
Bagaimana mungkin kau bisa mensakralkan kembali Islam itu jika kau sendiri men-sekulerkannya, me-liberalkannya, meng-komuniskannya, mengaku – akukan “ikuti zaman” dan lain sebagainya. Pasti kau ingat, “Islam datang dalam keadaan diasingkan dan akan kembali dengan keadaan diasingkan”. Dalam hal ini sudahkah kau yakin akan masuk bagian “yang diasingkan”? Atau kau malah masuk golongan “yang mengasingkan”? Aku ragu lagi.
Tak banyak yang ku tahu, makanya tak banyak yang bisa ku bagi. Namun, aku hanya punya secuil hal kecil yang masih bisa ku beri saat ini walau terkadang kau buang begitu saja, terkadang tak kau hiraukan, terkadang malah kau ragukan.
Tanya hatimu, apakah perkiraan hatiku salah saat ini? Tanya lagi hatimu yang sangat kecil nan jauh di dalam sana, sudahkah kau nyaman menikmati hal tersebut? Sudahkah kau temukan landasan kuatmu untuk mengalahkan teriakan hati kecilmu saat itu?
Sekali lagi, aku tak mau kau anggap aku menghakimimu saat ini. Siapa sih yang tak menyukai keindahan yang tampak indah, apalagi bagi seorang anak pedalaman yang mengembara di kota saat ini. Aku jauh lebih mencintainya, menikmati setiap lekuk indahnya bahkan, dan aku bersahabat dengannya sebaik yang aku bisa. Kau tak perlu katakan suka strawbery jika kau suka, bukan? Kau cukup memakannya. Begitu juga halnya, ketika kau menyukai sesuatu, tak perlu teriakkan ke dunia mayamu bahwa kau menyukainya, cukup kau nikmati, jaga, dan ingatkan dirimu bahwa ini dari-Nya. Simpel toh? Hehe
Ah sudahlah, banyak bicara, banyak kata – kata yang terkuras. Aku takut dosa. Maaf, aku bukan penulis yang baik apalagi penyampai pesan yang baik—masih jauh levelku daripada mbak – mbak atau mas – mas yang baca saat ini. Tapi ketika siapapun itu yang nulis aku akan nikmati tulisannya, menyapanya dengan baik dan mencernanya dengan saringan yang canggih. Ya begitulah. Apa perlu ku katakan padamu. Aku rasa tidak perlu. Kau tak perlu tahu, aku rasa. Tapi cukup sederhana prinsipku dari dulu, cukup kau coba “Nikmati setiap ilmu yang kau dapatkan, coba resapi, dalami, dan cintai, lalu amalkan”. Karena sejatinya esensi dari menuntut ilmu, menuntut ya bukan mencarinya, adalah mengembalikannya kepada pelukan akal pikiranmu dengan cara yang diridhoi-Nya. Sesuatu yang sudah kau rasakan nikmat dalam menggapainya, maka kau akan mendengar dengan jelas teriakkan dari hatimu saat kau melakukan sebuah kesalah pahaman. Fastabiqul khairat. Ingat, jangan cuma berlomba, tapi nikmati sense dari setiap perlombaan itu. Karena sejatinya pemenang bukanlah ia yang berjalan pulang dengan piala besarnya sendirian. Tetapi adalah ia yang berjalan beriringan bersama, berpegangan tangan satu sama lain, dan menikmati setiap proses yang dijalaninya. Kita adalah pemenang itu. Jadi, mari berpegangan tangan (yang perempuan dengan perempuan dan yang laki – laki dengan laki – laki, biar aman) lalu kita nikmati esensi dari setiap lembaran proses itu.