Para Pecundang Melawan Rasa Takut
Selalu ada konotasi negatif melekat pada frasa pecundang. Persoalan yang mengemuka di masyarakat, kata pecundang memiliki makna yang multitafsir. Terkadang disematkan untuk para pembuat onar, kadang juga untuk orang yang selalu menemui kegagalan, atau mungkin untuk orang-orang yang selalu lari dari sebuah masalah. Semua penyematan itu hanya disesuaikan dengan selera pengucapnya. Penyematan frasa yang sebenarnya hanya bersifat subjektif.
Hal yang sama juga disematkan kepada Bill Denbrough dan teman-temannya sebagai para pecundang (The Losers Club) dari kota Derry. Dalam film It: Chapter 2 mereka harus kembali ke kota Derry untuk melenyapkan Pennywise si Badut yang bangkit dari hiatusnya selama 27 tahun.
Tidak dapat dipungkiri memang banyak yang merasa kecewa dengan It: Chapter 2 karena tidak sesuai dengan ekspektasi orang-orang. Karakter Pennywise yang diharapkan digali lebih mendalam, nyatanya tidak. Mungkin bisa ditaksir di Chapter 2 ini hanya mengkombinasikan 60% drama + 40% Horor. Namun hal itu tidak menjadikan film ini buruk karena sutradara Andy Muschietti tetap menampilkan horor yang tidak generik dan diperkuat oleh aspek dramatik yang tidak mudah membuat bosan.
It: Chapter 2 mengawali film dengan mengangkat tiga persoalan, yaitu mengenai homofobik, bullying, dan perlawanan. Untuk beberapa saat Adrian Mellon didapuk menjadi tokoh utama disini, ia adalah korban homofobik yang mengalami bullying di sebuah karnaval di Derry. Ia juga menjadi yang paling vokal dalam melantangkan perlawanan. Namun kisahnya tidak berlangsung lama karena ia dilempar dari atas The Kissing Bridge ke sungai oleh ketiga pelaku bullying sebelum pada akhirnya Pennywise muncul dipermukaan dan melahap jantung Adrian.
Cerita berlanjut ke petualangan The Losers Club di Derry. Bill Denbrough, yang di chapter sebelumnya bertindak ibarat pemimpin klub, kini tidak terlalu menonjol. Seluruh anggota The Losers Club diberi bobot cerita satu per satu secara adil. Dan disinilah set-up cerita dibangun dengan solid. Meskipun memang pola penuturan dari masing-masing karakter bisa dibilang cukup repetitif. Dimana mereka masing-masing akan bernostalgia dengan masa lalu yang kemudian Pennywise muncul dengan teror bertubi-tubi.
Sebagaimana nama klub mereka, semuanya diselimuti rasa takut berlebih. Label pecundang seakan-akan memang layak disematkan kepada mereka. Bahkan sejak awal sebelum mereka berkumpul, Stanley Uris sekonyong-konyong memutuskan untuk meninggalkan dunia lebih awal dan tidak ikut dalam reuni The Losers Club di Derry. Dia menyadari satu-satunya cara mengalahkan Pennywise adalah The Losers Club harus bersatu. Semantara ia adalah pecundang yang paling penakut diantara kelima temannya. Sehingga memilih untuk tidak ikut ambil bagian dan mempercayakan semuanya kepada lima temannya.Â
Betapa drastisnya rasa takut dapat mengubah keputusan seseorang. Franklin D. Roosevelt, mantan Presiden AS pernah berkata yang mungkin agak klise bahwa satu-satunya hal yang harus kita takutkan adalah rasa takut itu sendiri. Hal inilah yang kemudian coba diatasi oleh kelima anggota The Losers Club yang tersisa.
Mereka menyadari betul meskipun sudah bertambah usia tetapi mereka tetaplah para pecundang yang sama seperti 27 tahun yang lalu. Mereka dihadapkan dengan dua pilihan yang sama mengerikannya. Lari atau melawan, Pennywise tetap saja mungkin bisa dengan mudah melahap jantung mereka. Namun yang mereka pahami jalan yang terbaik adalah bersatu dan melawan. Perlu beberapa kali Mike sebagai inisiator meyakinkan teman-temannya, bahkan hingga akhir cerita.
Mereka teringat kembali kejadian nostalgia sebelumnya saat mengumpulkan artefak bagaimana mereka bisa lolos dari teror Pennywise. Diawali dari Eddie yang teringat di gudang apotek tempat biasa ia mengisi ulang inhaler, dalam keadaan takut ia mencekik balik hantu yang menerornya. Ia merasakan sebenarnya hantu itu lemah, hingga akhirnya memuntahkan cairan yang menjijikan sebelum menghilang. Hanya rasa takutnya sajalah yang membuat hantu itu menyeramkan.Â
Hal yang sama juga dirasakan oleh Bill dan Richie. Bill terbebas dari rasa bersalah atas kematian adiknya setelah menyadari bahwa semua yang terjadi hanya akal-akalan si Badut. Begitu juga Richie yang menyadari semua rasa takut yang dialaminya hanya ilusi Pennywise. Keduanya memberontak dari teror-teror yang dilakukan Pennywise.Â
Inilah mungkin yang dimaksud salah satu self-defense mechanism ala sang psikoanlisis Sigmund Freud, yaitu pembentukan reaksi. Tindakan defensif dengan cara mengganti impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan impuls kebalikannya. Seperti yang dialami Eddie, Bill, dan Richie. Semakin mereka takut maka semakin tenggelam pula mereka dalam teror Pennywise. Maka dari itu mereka masing-masing memberikan impuls yang berkebalikan untuk terbebas dari teror. Mekanisme inilah yang kemudian dijadikan senjata untuk melawan Pennywise.Â
Di awal cerita sebenarnya karakter Pennywise merupakan representasi dari bentuk bullying dengan bertubi-tubinya teror yang ia lakukan. Namun pada akhirnya ia dikalahkan oleh bullying balik yang dilakukan oleh The Losers Club. Mereka meneror dan mengintimidasi balik Pennywise dengan mengatakan hal-hal yang berlawanan dari apa yang mereka terima secara sadar. Pennywise pun terdesak dan semakin menciut hingga akhirnya jantungnya direnggut dan dihancurkan.
Perlawanan para pecundang akhirnya membuahkan hasil hinnga Derry terbebas dari teror Pennywise. Rasanya mereka tidak masalah dengan label pecundang disematkan kepada mereka sejak sekolah dasar. Kegagalan mungkin akan menjadi hal yang lumrah bagi mereka. Namun merekalah yang akan bangkit lagi setiap kali terjatuh. Seberapa banyak pun mereka jatuh, sebanyak itulah mereka akan bangkit kembali. Merekalah para pecundang dari kota Derry.
Mungkin saya bisa sedikit menukil bait favorit dalam lagu Nyanyian Perang milik Koil, yang menurut saya cukup relevan dan juga sering saya jadikan pijakan untuk melawan rasa takut. Kurang lebih seperti ini: "Badai (memang) pasti akan datang (dan jika) kita tak akan menang, (lalu) mengapa harus bimbang?" Lawan!
Ya memang agak sedikit kontradiktif. Namun yang saya pahami bait tadi berusaha mengingatkan saya untuk jangan pernah memberi ruang untuk rasa takut (pada kegagalan) dan pesimisme, jika tidak kita akan merasakan mati tergantung dalam kebimbangan.















