Kak choqi,misal disuruh milih buat nentuin masa depan. Bakalan ngikutin pilihan orang tua yg ngga sesuai sama diri sendiri atau tetep bakalan melanjutkan pilihan sendiri? Terus klo orang tua cenderung maksa ke pilihannya itu,sikap kita sebagai anak gimana biar ngga membuat orang tua kita kecewa? Terimakasih
Halo @ovitamutia18-blogā
wah, ini pertanyaan yang paling sering kita hadapi yah. saya coba jawab, untungnya, saya sudah pernah mengalami ini. ini juga sekaligus menjawab pertanyaan yang senada di inbox saya.
oiya, disamakan dulu yah, pilihan disini tidak cenderung tentang pekerjaan, tapi atas berbagai hal, yakni pemilihan pasangan, memilih rumah, cara mengurus anak, tempat tinggal, dan lain sebagainya.
MENGIKUTI PILIHAN HIDUP SENDIRI ATAU ORANGTUA?
jika ditanya, saya pingin ikut pilihan sendiri atau pilihan sendiri? ya tentu saya memilih pilihan sendiri. Kenapa? Karena orangtua tidak menjalani kehidupan yang dipilih.
Tapi tapi tapi,Ā tolong dipahami
memang orangtua tidak menjalani kehidupan yang dipilih, tapi orangtua akan mendapatkan imbas atas apa yang kita pilih.
jika kita memilih menjadi seorang pencuri, bukankah orangtua juga akan merasakan malunya?
jika kita menjadi seorang pengusaha sukses, bukankah orangtua juga akan merasakan bahagianya?
jika kita memilih tinggal di tempat yang jauh, bukankah sulit bagi orangtua jika mereka terkena masalah?
jika kita memilih calon istri yang tidak pengertian, bukankah orangtua kita juga yang akan mengalami ketidaknyamanannya?
Maka perlu dipahami, bahwa orangtua itu bukanlah penentu pilihan, tapi orangtua adalah tempat kita berdiskusi , karena mereka adalah bagian dari pilihan hidup kita.
MEMAHAMI POLA PIKIR ORANGTUA
Setiap orang tua di dunia, punya 1 prinsip yang sama. Ingin memberikan yang terbaik agar kita bahagia.
Coba ingat kembali, ketika kita masih kecil, ketika kita belum bisa mencari nafkah atau berfikir, bukankah orangtua kita harus memutar otak untuk memberikan yang terbaik bagi kita?
Bukankah orangtua kita bolak-balik mencari sekolah mana yang baik untuk diikuti?
Bukankah orangtua kita berpikir keras menentukan makanan apa yang bisa masuk ke dalam tubuh kita?
Bukankah orangtua kita memutar otaknya untuk menentukan pakaian apa yang harus kita gunakan?
Waktu kecil, kita ikut dengan semua pilihan orangtua kita, dan kita percaya, pilihan orangtua kita, adalah yang terbaik menurut mereka.
Kadang orangtua lupa, bahwa seiring waktu, anaknya tumbuh dewasa, dan sudah bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri. Orangtua masih merasa memiliki, sehingga ia berhak untuk menentukan pilihan hidup sang anak.
KENAPA KITA SERING BERBEDA PENDAPAT AKAN PILIHAN HIDUP DENGAN ORANGTUA?
seringkali, banyak anak berdebat dengan orangtua tentang pilihan hidupnya. Dan seringkali berujung dengan pertengkaran hebat, atau sang anak menjalani kehidupan tapi tanpa menikmatinya.
Padahal, kalau dipikir-pikir, tujuan orangtua menentukan pilihan hidup, adalah agar anaknya bahagia. Lalu kenapa bisa berpendapat?
Masalahnya, perbedaan pandangan terjadi padaĀ ācara mencapai kebahagiaanā tersebut. Orangtua dan kita kadang tidak paham, bahwa bagi cara mencapai kebahagiaan setiap orang itu berbeda.
Contohnya, bagi sebagian orangtua, menjadi PNS adalah kebahagiaan yang tidak terkira. Mengapa? Lihat saja, gaji tetap, resiko di PHK sangat kecil, dan asalkan loyal, mereka akan mendapatkan pensiun.
berbanding terbalik dengan anak-anak milenial sekarang, yang justru ingin memiliki waktu bebas, bisa bergaul, mencari tantangan, tidak terkukung di kantor dan diam. Urusan uang, itu bisa dikompromikan, selama hidupnya tidak mengikuti aturan baku. Itulah kebahagiaan versi sang anak. Perbedaan versi kebahagiaan inilah, yang menyebabkan perdebatan yang sengit.
Lihatlah, perdebatan antara sang anak yang ingin jadi pengusaha dan orangtua yang ingin anaknya jadi pegawai kantoran
Lihatlah, perdebatan antara sang anak yang ingin menjadi seniman dan orangtua yang ingin anaknya menjadi pegawai tetap
Lihatlah, perdebatan antara sang anak yang masih ingin melajang dan orangtua yang ingin anaknya segera menikah
Lihatlah, perdebatan antara sang anak yang ingin menikah dengan seseorang yang ia inginkan dan orangtua yang ingin menjodohkan anaknya
Lihatlah, banyak perdebatan antara anak dan orangtua, dan itu sangat sering terjadi.Ā Padahal tujuannya sama, kita ingin sama-sama bahagia. Namun akar masalahnya adalah, orangtua, ingin menjalaniĀ ābahagiaā versinya, dan kita juga ingin menjalani bahagia versi kita.Ā
Maka, satu-satunya cara untuk bisa menentukan dan tidak ada pihak yang merasa kalah ataupun menang, adalah dengan cara menyatukan pandangan.
Anak harus tahu, kenapa orangtua memilihkan pilihan tersebut bagi sang anak. Dan setelah itu, anak juga harus bisa menjelaskan kepada orangtua, kenapa ia memilih pilihan tersebut.
Orangtua harus diberi pemahaman, bahwa kondisi hidup yang kita pilih ini telah dipilih berdasarkan pemikiran yang matang dan panjang, bukan pilihan yang asal-asalan belaka.
JIKA MASIH ADA PENOLAKAN, PERBAIKI DIRI
Jika masih ada penolakan, maka ada satu hal lagi yang harus dilakukan, yakni memastikan, bahwa kita mampu menjalani pilihan sendiri.
Penolakan selalu terjadi karena orangtua tidak percaya bahwa anaknya bisa menjalani pilihan hidup yang ia pilih.
Ya, bagaimana orangtua bisa percaya kalau anaknya mau jadi pengusaha sukses, kalau di rumah, untuk bangun pagi saja susah, komunikasi dengan orangtua saja jarang, beres-beres rumah saja ogah.
Bagaimana orangtua bisa percaya kalau anaknya bisa sukses dengan dengan melajang lebih lama kalau misalnya sehari-hari saja hidupnya tidak teratur dan berantakan.
Bagaimana orangtua bisa percaya kalau anaknya mau jadi atlet bola profesional kalau sehari-hari mainnya bola bekel?
Itulah alasan terbesar, kenapa orangtua menolak pilihan hidup yang kita ajukan. Maka, jika kita sudah menjelaskan semuanya dan tidak diterima, maka saran saya, perbaiki diri, mungkin diri kita belum baik, mungkin sikap kita belum bisa membuat orangtua kita percaya. Karena sesungguhnya, orangtua tidak akan pernah khawatir akan pilihan anaknya, ketika anaknya memang sudah menampakkan kedewasaan atas kehidupannya.
Saya bicara hal ini bukan asal-asalan, tapi karena memang pernah saya alami. Bagaimana orangtua saya meminta saya untuk menjadi pegawai tetap, sedang saya yang tidak senang mengikuti keteraturan waktu, merasa terpenjara jika harus menjalani pilihan hidup tersebut.
Begitu juga terkait pemilihan pasangan, beberapa kali juga berdiskusi dengan orangtua, banyak hal-hal yang harus dipenuhi sebagai syarat.
Namun, dengan hal-hal yang saya lakukan diatas, kini, orangtua merasa tenang dan mengembalikan semua pilihannya kepada saya. Karena, dengan pilihan yang saya pilih, saya justru lebih bahagia, punya waktu untuk keluarga, tetap bisa menafkahi sendiri. Maka, apalagi yang perlu dikhawatirkan oleh orangtua? Toh anaknya sudah bahagia. Mungkin cuman satu yang masih jadi PR, menentukan pilihan pasangan yang tepat saja, orangtua belum melihat buktinya. hehehe.
inget guys, orangtua melahirkan kita bukan untuk nyari lawan debat, tapi untuk nyari teman diskusi. Hormati pandangannya, terima masukannya, bahagiakan hidupnya.
Kurang lebih begitu ovi. Salam kenal yah, izin follow tumblrmu yah.
Selamat hari minggu, selamat produktif