Membaca tulisan tentang seorang ibu parlemen yang menangis saat membahas perkataan so called menteri yang menihilkan kekerasan terencana pada sekelompk kaum, "semenjak lama tangisan wanita disebut sebagai kelemahan padahal itu pula wujud kepemimpinan, kemampuan berempati dan bersuara pada mereka yang tidak memiliki suara."
Sedih karena terasa terlalu dekat, empati di tempat kerja sering dianggap tidak logis. Padahal sama seperti seni yang menjadi dasar sains untuk kemudian bertransformasi jadi teknologi, kalkulasi korelasi tidak ada artinya kalau tidak menggunakan empati saat menyusun kausalitas. Sedih juga kalau ingat tiap daftar posisi managerial, terpaksa jualan empati seakan itu tokenism, padahal ya mestinya semua orang pakai empati buat ambil keputusan. Bagaimanapun masih lebih sedih lagi saat direject karena dianggap empati ini jadi barrier untuk perform.













