Kita "telanjang bulat" di hadapan diri kita sendiri.
Seseorang bisa lari dari dunia, tapi tidak bisa menghindari tatapan di cermin. Di sana, semua rahasia terungkap, kekurangan terekspos, setiap pelarian teringat, dan semua penghindaran terasa nyata. Kalau kamu cari sorot mata yang paling menghakimi, seringkali itu datang dari diri sendiri.
Tapi ironisnya, kadang seseorang justru ingin menatap dirinya sendiri dengan nyaman. Dalam bayangan itu, mereka mencari ketenangan, berharap bisa melepaskan rasa bersalah yang menekan. Mereka ingin rasa malu yang menyelubungi, memudar di langit-langit hati. Mereka ingin larut dalam tatapan yang mengenal mereka lebih dari siapa pun. Mereka ingin merasa utuh di mata yang benar-benar menerima dan merindukan mereka apa adanya. Mereka ingin menemukan pengertian di tempat yang paling mereka harapkan: di dalam diri sendiri.
Ya, manusia memiliki hubungan yang kompleks dengan ingatannya. Kita mengingat banyak hal, tapi kita juga lupa. Dan dalam banyak hal, lupa adalah anugerah. Kelupaan memberi ruang untuk bergerak maju dan melepaskan beban yang seharusnya tidak terus-menerus kita pikul.
Pilihan untuk menyimpan suatu pengetahuan, pengalaman, dan informasi, erat kaitannya dengan persepsi relevansi dari pengetahuan tersebut. Orang-orang cenderung enggan mengetahui atau menyimpan informasi yang menurut dia tidak relevan. Kesadaran relevansi ini bagus sebab orang jadi lebih efisien dalam menggunakan memorinya, tidak dibuang-buang untuk informasi yang tidak penting.
Tapi pernahkah kamu dengar tentang "pelupa yang buruk"? Mereka yang kata para ilmuwan, adalah penjaga sekaligus tahanan dari ingatan mereka sendiri?
Sebenarnya ingatan orang ini sama selektifnya dengan ingatan kita. Sama-sama menyimpan hal-hal yang menurutnya penting. Hanya saja mereka jauh lebih pandai dalam menyimpan dan mengingat kembali ingatan-ingatan tersebut.
Namanya Jill Price. Dia adalah orang pertama yang didiagnosis dengan memori autobiografi yang sangat unggul (Highly Superior Autobiographical Memory/HSAM) atau Hyperthymesia. Dia bisa mengingat kejadian 20 tahun lalu sejelas kejadian dua hari yang lalu. Masalahnya, ingatan itu tidak hanya muncul saat dia mau, tapi sering datang sendiri tanpa kendali.
Menurut Jill, ia seperti hidup dengan layar terpisah: di sisi kiri adalah masa kini, di sisi kanan adalah gulungan kenangan yang terus bergulir, masing-masing dipicu oleh munculnya rangsangan masa kini. Dengan begitu banyak kenangan yang selalu siap, hampir semua hal yang dilihat atau didengarnya bisa menjadi pemicu potensial. Dan itu bisa sangat menjengkelkan.
"Banyak orang menyebutnya sebagai anugerah, tapi saya menyebutnya sebagai beban. Saya memikirkan seluruh hidup saya setiap hari dan itu membuat saya gila."
Setelah Jill, para peneliti menemukan bahwa kondisi ini juga dialami oleh sekitar 60 orang lain di seluruh dunia. Mereka terjebak dalam labirin kenangan mereka sendiri. Jill mengatakan, semua orang punya persimpangan jalan dalam pikirannya, semacam percabangan what if yang kadang muncul, "Bagaimana jika saya mengambil keputusan yang berbeda?"
Bagi kebanyakan orang, semua itu hanya potongan-potongan samar. Mereka bisa melupakan, melepaskan, dan melanjutkan hidup. Tidak demikian bagi Jill. Ingatannya adalah peta penyesalan. Setiap pilihan yang pernah ia ambil tetap hidup di kepalanya, seperti jalan lain yang bisa saja ia lalui.
"Saya sering berpikir: bagaimana jika saya melakukan ini? Bagaimana jika saya pergi ke sana? Bagaimana jika saya memilih hal lain?"
Ringkasan keseluruhannya, ingatan dan lupa adalah dua sisi yang membentuk keseimbangan manusia. William James, salah satu pendiri psikologi modern, pernah menulis:
"Campuran aneh antara ingatan dan lupa adalah lunas yang membangun kapal mental kita. Jika kita mengingat semuanya, kita akan sama sakitnya seperti jika kita tidak mengingat apa pun." Dan mungkin itulah anugerah terbesar manusia: kemampuan untuk memilih apa yang ingin dikenang, dan merelakan apa yang sebaiknya dilupakan.
Ketika seseorang tidak bisa melupakan, pandangan dirinya menjadi tajam dan menghakimi tanpa ampun. Setiap sentuhan, aroma, suara, dan pemandangan yang familiar menyalakan kembali bara rasa malu yang lama. Orang tersebut basah kuyup oleh keringat mentalnya, kewalahan.
Dari sudut pandang ini, seseorang mulai menyadari bahwa melupakan adalah sebuah berkah. Bahwa ada keindahan dari melupakan. Melupakan adalah cara seseorang untuk bersembunyi dari diri mereka sendiri. Seseorang yang bisa melupakan akan terselubung dari tatapan mata mereka sendiri yang penuh celaan. Mereka terlindungi dari tatapan menyakitkan yang meneliti kekurangan mereka. Mereka tidak dapat mengganggu diri mereka sendiri.
Tampaknya melupakan dimaksudkan untuk melindungi seseorang dari celaan terhadap dirinya sendiri. Hal itu berfungsi sebagai tabir transparan terhadap kutukan yang paling tak terelakkan dan tak terelakkan. Allah sebagai Sattar al-Uyub, Sang Penutupi Kesalahan, tidak hanya menyembunyikan kekurangan kita dari orang lain, tetapi juga dari diri kita sendiri. Sehingga kita tidak merasa malu terhadap diri kita sendiri.
Agar kita tidak mempermalukan diri kita sendiri.
— Giza, menuliskan dan meneruskan kembali mediumnya Pak Senai Demirci, dengan sedikit tambahan elaborasi dan cross check.
A person can hide from everyone but cannot hide from themselves. They cannot avert their face from their own eyes. The man or woman looking…
Sumber tambahan:
https://www.theguardian.com/science/2017/feb/08/total-recall-the-people-who-never-forget
https://greymattersjournal.org/in-living-memory--understanding-hyperthymesia/