Semua seperti dirahasiakan, melawan rasa yang terpendam kelam. Menelan luka masam yang pahit lagi sakit. Mencari duri yang tertelan dan membiarkannya menyelam dalam. Berusaha menarik kail pancing itu kembali. Sejenak. Satu demi satu. Mencabut adiksi hati.
Sehari bermaaf - maafan tak kunjung jelas arah mata angin bergerak. Segenggam kotak pensil menulis, sepasang mata membaca, meletakkan air mata diatas buku yang bisa membawanya pada keharibaan Tuhan.
Oh Tuhan, Yang Maha Membaca, Menerka, dan memiliki buku harian, mingguan, tahunan, bahkan masa depan, ku berharap. Harapan yang baik, dari sepasang hati yang berjauhan. Entah berada pada koordinat mana dia berada, aku mendoakannya.
Oh Tuhan, jauh dan dekat adalah milikMu. Besar dan kecil adalah kuasaMu, hajatku hanyalah sebatas kotoran anak adam yang kusujudkan tiap malam. Berharap berubah menjadi seqirath balasan yang tak seimbang dariMu, pelengkap separuh imanku padaMu. Tangisku hanya untuk mencari dan mengharap ridhoMu.
Selanjutnya, semoga Engkau arahkan harap, doa, kalimat, amin, dan istiqomahku semua, pada kehendakMu. Hanya pada itu. Jalan ridho yang mengantarkanku, pada kematian yang indah.
Allahumaj'al fii Qolbi Nuurun 'ala Nuur...