Yang Tak Kuberi Nama
Setiap pagi, namamu datang lebih dulu daripada mentari, membawa semangat yang diam-diam tumbuh di dalam hati. Aku tak pernah meminta hari menjadi lebih berarti, cukup melihatmu tersenyum, lalu segala terasa baik-baik saja kembali.
Kau selalu tampak begitu cakap menjalani dunia, seolah setiap langkahmu telah mengenal arahnya. Sedangkan aku hanyalah seseorang di antara keramaian, yang menyimpan kagum dalam diam dan membiarkannya menjadi rahasia.
Kita berbincang tentang banyak hal, tentang lelah yang datang tanpa sebab, tentang mimpi-mimpi yang belum sempat singgah, dan tawa yang membuat waktu berjalan lebih ramah.
Di hadapanmu, aku mampu menjadi diriku sendiri, namun anehnya, justru perasaan ini tak pernah berani kuberi nama. Aku takut satu kalimat yang terucap akan mengubah seluruh cerita yang telah kita jaga.
Maka kubiarkan semuanya tinggal sebagai diam, menetap seperti senja yang enggan tenggelam. Kupendam rindu di antara percakapan-percakapan biasa, dan kuselipkan harapan di balik tawa yang sederhana.
Sebab aku tahu, ada hal-hal yang hanya ditakdirkan untuk dikagumi, bukan dimiliki.
Seperti tanganmu yang terlihat begitu dekat dalam pandangan, namun sejauh cakrawala dalam kenyataan; harapan yang dapat kusentuh dalam angan, tetapi tak pernah benar-benar mampu kugenggam.
Dan mungkin suatu hari nanti, perasaan ini akan pergi bersama waktu yang berlalu. Namun hingga saat itu tiba, izinkan aku menyimpanmu di sudut paling sunyi
sebagai seseorang yang tak pernah kumiliki, tetapi selalu berhasil membuat hariku berarti.
















