My Greatest Regret to My Greatest Bestfriend
Satu, dua, tiga, dan seterusnya. Angka-angka itu menjadi lebih penting, lebih bermakna saat berubah menjadi sebuah predikat. Predikat ‘yang pertama’ misalnya. Semua yang pertama bisa dipastikan memiliki kesan yang kuat yang menjadi patut untuk diingat, bahkan untuk diperingati. Semua yang pertama akan membekas, mengerak kuat, menjadi ‘core memory’ (tonton film Inside Out untuk mengerti maksudnya), entah itu sesuatu yang baik ataupun buruk.
Di usia 26 tahun ini, sudah banyak hal ‘yang pertama’ yang telah aku temui, rasakan, dan alami. Pertama kali jatuh cinta, patah hati, bertemu jodoh, pertama kali menjadi istri, merasakan kehamilan pertama, persalinan pertama, menjadi ibu, menjadi menantu, pertama kali pindah rumah dan tinggal sendiri, dan seterusnya.
Yang saat ini sangat menggangguku adalah, pertama kali aku menyadari bahwa putri pertamaku menjadi mirip sepertiku... and unfortunately, in a bad way.
Aku adalah anak pertama, perempuan satu-satunya di keluarga, yang kemudian menjadikan aku seseorang yang sangat emosional, pemarah, pendendam, kasar, dan keras kepala. So, you may find I am a MOMster, a horrible, hideous mother for no child ever.
Saat ini putri sulungku yang teramat aku kasihi menjadi gadis kecil pemarah, kasar, dan sulit diatur. Saat dia meluapkan emosinya, betapa hancurnya hatiku karena seolah aku sedang bercermin. Satu-satunya orang yang harus dan bisa disalahkan atas sikap kurang baiknya itu adalah aku, ibunya. Ibunya yang labil.
Putri pertamaku, dia adalah guru kecil dalam universitas kehidupan, yang mengajariku ilmu kedokteran, ilmu gizi, ilmu parenting, ilmu agama, dan masih banyak lagi. Putri kecilku yang cantik dan berhati lembut itu, pandangannya jernih dan berkilat cerdas, dengan sabar mendengar semua keluhanku, menerima nasihatku, dan bersabar dalam segala keterbatasanku. Gadis manisku, dia yang selalu berhasil melengkungkan senyum dan membuat perasaan menjadi lebih tenang dan riang, yang kemudian aku balas dengan bentakan, banyak omelan, dan larangan. Sahabat kecil pertamaku yang kecerdasannya selalu mengejutkanku, yang aku balas dengan wajah tidak bersahabat dan nada suara yang tidak mengenakkan.
Menyedihkan sekali mengetahui semua itu telah terjadi, telah mewujud nyata.
Dengan menuliskan ini semua, dia yang kucintai tidak akan melupakan perangai burukku. Tidak akan membuat dia lantas seketika menjadi tidak lagi sepertiku. Tapi, semoga pengakuan dan penyesalan ini menjadi titik balik bagiku, bagi siapapun yang membaca ini. Untuk kembali mencari jalan pulang, kembali ke rumah setelah tersesat amat jauh. Semoga Tuhan menunjukannya, menemaniku, menemani kita semua.
Teruntuk putri pertamaku, maafkan Mami telah berbuat buruk.
Terimakasih sayang, telah menemani Mami belajar, menemani Mami yang senang dan sedih, menerima Mami dengan segala keburukan Mami.
Pohon kurmaku yang cantik dan teduh, doakan Mami agar dapat memeliharamu menjadi sebenar-benarnya Nakhla Hafizha.
Akan banyak hal buruk yang akan kita hadapi bersama, tapi jangan khawatir, Mami selalu ada menjadi yang pertama memberimu pelukan. Mami pastikan, akan lebih banyak lagi (jauh lebih banyak) hal baik yang akan kita raih, dan Mami akan menjadi yang pertama tersenyum sambil menggenggam erat tanganmu.
Nakhla Hafizha, I love you...
Kalibata City, 14 November 2015