The Story of Train
Udah tau rasanya nungguin kereta, kereta delayed, ketinggalan kereta, bahkan hampir ketinggalan kereta.
Its that story of it.
BAB 1 MENUNGGU KERETA
Menunggu adalah hal yang paling mendebarkan. Bayangin aja, kalau taktinggal makan bentar ntar keretanya udah nyampai belum yak? Bakal ketinggalan ngga ya? Something like that.
…
BAB 2 KERETA DELAYED
Waktu itu, mau piknik ke Bandung. Hmmm.. Kalau enggak delayed, satu temenku bakal ketinggalan kereta. Worth it laaa
…
BAB 3 KETINGGALAN KERETA
Notabene belum jamnya diberangkatkan, di stasiun cuma bisa meratapi kereta yang baru saja melaju. Sederet orang yang mengantri pemeriksaan identitas di pintu peron tertinggal kereta yang sama. Cuma bisa diem meratapi nasib sambil mengirim pesan singkat. Waktu itu, ada ibu-ibu yang memprovokatori sederetan orang yang tertinggal (tertinggal kereta maksudnya) yang diamankan petugas, lebih tepatnya dimarah-marahin. Akhirnya, aku memutuskan untuk membeli tiket selanjutnya atas sarannya.
That day is my first time to falling in love with a family. One of them is my friend, dari temen main sampai temen curhat. Dialah yang mengenalkanku ke keluarganya. As a friend. Aku jatuh cintanya malah pas dianter pulang, I feel they so warm, aku merasa hangat di dalamnya. When they ask to me, “Kapan main ke Jakarta?” Aku berusaha untuk meluangkan waktuku to visit them. They are a warm family. To me, they are my family without consanguinity.
But I must have a space with them and I got it.
…
BAB 4 HAMPIR KETINGGALAN KERETA
Bisa dibilang rada kesel juga sih, tapi begitulah manusia. We can’t assume an other peoples same with us. It call toleransi.
Aku ngga tau cara kerja otakku hari itu. We spending time together. Yeps, that day we spending time to-gether. Aku hari itu bukan aku yang biasanya nanyain kabar, bukan aku yang biasanya cerita ini itu. Aku hari itu, di luar ekspetasi. Like a frezzer.
I can’t tell you anything. But I wish I could. I’m waiting. But, when the times comes up. Can I tell it? The stranger (your friend) comes over and yelling us. I keep silent and make a smile. It’s not my line, it’s yours. I locked my mouth without saying anything. Aku menghargaimu, whatever it is.
Aku “rada enggak nyaman” to telling a story that day so I’m waiting. I think we spending that night on your apartement then we chit chat until the midnight, but you said to me, “ayo pulang Cibubur.” Your tone is not yours. Rasa-rasanya, you are not MY KOKO again. I feel like that.
On the way home. “Yey, I can greet mom and dad at that night”, I wish I could but I can’t. In the morning, I stole my phone (lebih ke kelupaan naroh di mana sii) on your gold time that you can’t tolerate. Sorry to do that.
When we arrived on your apartement, I feel like a disaster. Oke, aku butuh sesuatu yang bisa meredakan. Daripada kesepian di apartemen sekalian cari makan ke Atrium karena nggak ada mesin danzbase akhirnya nonton. Balik-balik ke apartement ada Mas Amos sama Mbak Aulia. Kita cerita-cerita, masa iya ada orang dalam satu ruang tanpa sekat nggak diajakin ngobrol. Maybe not my line to tell them or something like my speech is slipped? Yes I’m sorry.
Yes I cried a lotta lot, I goes to Jakarta for you tapi kamu “kabur-kaburan”. On my mind just have two question : “Something wrong with you?” “Something wrong with us?”
Then you know why my WA’s replies take a long time? I think I can cancel this ticket and go home on the early morning but I can’t cancel it. Lalu, kesempatan terbesarku adalah ketinggalan kereta then we can spend that night together. Untuk pertama kalinya waktu aku bukain pintu apartement aku berpikir demikian. Tapi, waktu aku melihat raut wajah begitu dalam. Oke I must go home now, its my time to go home.
You know when we are on the way to Senen, in my mind “Apakah ini terakhir kalinya dianter ke stasiun ya sama Koko?”
Waktu pamitan, aku udah enggak tau lagi kudu gimana. Mau ngomong juga engga bisa ngomong.
Sewaktu check-in aku gemeteran, masuk ke boarding-pass aku lupa kalau butuh ktp. Aku denger siulan kereta api yang mau diberangkatkan. The officer got angry so I run, run, and run then I slipped on the 5th stairs. An another officer blowing his flutte so I stand up, run, and run again and finally I jumped into the train.
On the porn morning, something exploded. The biggest of something crushed. IT BROKE. I just looking the sunrises, maybe It can cheers me but nothing. The tears is coming.
Dapatkah kulego kembali apa yang sudah terjadi?
















