“Kamu lebih dari aku, aku khawatir.”
Awalnya sering melihat tulisan ini di timeline, entah itu instagram atau line. Sempat berpikir, kenapa sih viral banget. Tulisannya kira-kira seperti ini.
Ngga ada tebu yang kedua kepalanya itu manis.
Kalau kamu memilih bersama dengan wanita karir yang bekerja, kamu perlu menerima bahwa ia tidak bisa di rumah membersihkan rumah.
Kalau kamu memilih bersama dengan ibu rumah tangga yang menjaga dan merawat rumah, kamu perlu menerima bahwa ia tidak menghasilkan uang.
Kalau kamu memilih bersama wanita penurut, kamu harus menerima bahwa ia bergantung padamu dan tidak mandiri.
Kalau kamu memilih bersama wanita pemberani, kamu harus menerima bahwa ia keras kepala dan memiliki pemikiran sendiri.
Kalau kamu memilih bersama wanita cantik, kamu harus menerima bahwa pengeluaran yang ia keluarkan juga banyak.
Kalau kamu memilih bersama dengan wanita hebat, kamu harus menerima bahwa ia keras dan tak terkalahkan.
Tidak ada wanita sempurna, semua itu hanya ada dalam mimpimu saja.
Sekilas membacanya pada waktu itu, kurang seberapa setuju sebenarnya.
Karena bagi saya, sejatinya seorang wanita itu haruslah seimbang dan dapat menyesuaikan.
Seperti halnya seorang wanita yang bekerja, juga tak selamanya tidak bisa membersihkan rumah. Ia hanya meninggalkan rumah beberapa jam, dan akan segera kembali pulang untuk menuntaskan kewajibannya di rumah.
Fira kok gampang banget bilang gitu, belum ngerasain kerja sih.
Iya, memang belum kerja dan punya rumah sendiri, tapi melihat ibu di rumah yang kerja dari pagi sampai sore dengan keadaan rumah selalu bersih selalu rapi sempurna, tidak ada barang berantakan sedikitpun, tanpa seorang pembantu lagi, membuat saya yakin bahwa sebenarnya semua wanita bisa seperti itu.
Semuanya hanya masalah prioritas.
Tetapi, ada sebuah pelajaran yang bisa diambil dari tulisan pembelaan viral tersebut.
Bahwa setiap keputusan memang ada konsekuensinya.
Terkadang kita pun tak sadar dengan karakter yang kita pilih dan kita jalani. Dan ternyata hal tersebut membawa konsekuensi tersendiri. Sampai suatu saat ada seseorang yang datang dan menyadarkanmu.
“Kamu terlihat mandiri dan tidak membutuhkan bantuan, aku khawatir.”
“Bagaimana bisa melihatku tampak mandiri?”
“Kamu sudah mampu berusaha mencari uang sendiri.”
“Hanya karena itu? Semua juga bisa.”
“Aku tidak bisa. Dan karena itu aku takut, bila kamu lebih mandiri, tidak membutuhkan orang lain nantinya.”
Ternyata, hanya karena satu hal kecil yang tanpa sengaja kita tampakkan di hadapan orang lain, mampu mengubah caranya memandang dan berpikir terhadap kita. Dan itu adalah termasuk konsekuensi yang harus kita hadapi dan terima.
Orang lain bisa saja salah menilai kita, namun itulah penilaiannya.
Kita bisa saja mengontrol apa yang ingin kita tampilkan di hadapan orang lain dengan pilihan-pilihan kita, tetapi kita tidak bisa mengatur bagaimana cara orang lain memandang kita. Pun sama halnya dengan tulisan pembelaan di atas tersebut.
Saya ingin mengambil contoh dari salah satu kalimatnya, dan menjelaskan mengapa saya kurang setuju.
“Kalau kamu memilih bersama dengan wanita hebat, kamu harus menerima bahwa ia keras dan tak terkalahkan.”
Bagi saya, semua wanita itu hebat apa adanya dengan caranya masing-masing. Sekalipun ia penakut, ia pasti pernah mencoba melawan rasa takutnya tersebut, hanya saja kau tidak tahu seberapa jauh ia mencoba, dan kamu memang tidak perlu tahu itu.
Karena setiap wanita pasti akan berusaha membuat dirinya terlihat hebat.
Semua wanita pasti memiliki prinsip. Dan pilihan prinsipnya itu adalah haknya. Terkadang, ketika ia teguh akan prinsipnya pasti ia akan keras dan tidak mau dirubah. Namun, ada saatnya ia lunak dan kau bisa saja merubah prinsipnya. Tergantung bagaimana caramu mencoba mengkomunikasikan dan berdialog dengannya. Pasti. Tidak ada yang tidak bisa dirubah dari sebuah pikiran.
Jangan pernah menganggap setiap wanita keras, kau hanya belum mencoba berinteraksi lebih dalam dengannya.
Ada saat wanita memang ingin selalu menang, banyak laki-laki beranggapan bahwa semua wanita semaunya sendiri dan selalu ingin menang. Ah, kau terlalu cepat beranggapan. Mungkin memang benar, bahwa perasaan “menang” itu menyenangkan, tetapi suatu saat, ia pasti akan membuatmu merasa “menang”, karena ia tak mau merasakan “menang” sendirian. Kau tau kan bahwa semua manusia itu tidak senang merasakan kesepian?
Setiap wanita itu punya rasa takut, dan kau bisa memenangkan hatinya dengan melindunginya dari rasa takutnya tersebut.
Ketika ia takut kecoa dan tikus, pasti ia akan memilih seseorang yang bisa diandalkan saat tiba-tiba bertemu makhluk tersebut. Iya, kan? Ya ngapain pilih orang yang juga sama-sama takut. Manusiawi.
-
Pada dasarnya, karakter seseorang itu tanpa sengaja terbentuk begitu saja. Ketika ia pernah dikritik manja, maka ia tak sadar akan mulai tumbuh menjadi mandiri. Ketika ia pernah dikritik penakut, maka tak sadar ia akan tumbuh menjadi pemberani.
Saya pun begitu.
Tanpa sadar, saya tumbuh apa adanya.
Ketika tidak ingin merepotkan orang lain, saya belajar untuk menyelesaikan masalah saya sendiri. Saya ingin terbiasa melakukan hal sendiri dan saya harus bisa. Karena nantinya, tidak ingin memberatkan pasangan kelak, tidak ingin menyusahkannya, tidak ingin menjadi sebuah beban pikiran baginya. Saya belajar menyetir sendiri, karena saya ingin nantinya dalam keadaan darurat membutuhkan saya untuk bisa mengemudi, saya bisa mengatasinya dan tidak kebingungan.
Intinya, setiap karakter yang terbentuk pastilah ada dasar alasannya, dan alasan saya menjadi seperti ini juga karena untuknya kelak. Kamu tidak salah dengan menjadi mandiri ataupun kuat, atau ingin menjadi wanita hebat.
Karena yang mencintaimu, tak akan mungkin menjatuhkanmu, tetapi ia akan menyeimbangkanmu.
Begitulah saya menyikapi tulisan pembelaan tersebut.
Bukan berarti ketika kita memiliki kekurangan, kita memaksa orang lain untuk menerimanya, tetapi bagaimana cara kita menutupi kekurangan tersebut dengan kelebihan lain supaya diri kita dapat diterima oleh orang lain.
Dan. Laki-laki itu menang memilih, sedangkan wanita menang menolak. Memang harus mempertimbangkan, tetapi ingatlah koin itu memiliki 2 sisi dan roda itu selalu berputar. Jangan terlalu rumit berpikir. Tetaplah bijaksana dan melakukan semua karena Allah.
Malang, 2 September 2017.
Ketika sedang berimajinasi di depan meja kasir @motivcoffee dan mendengarkan sebuah playlist.