Tercekat!
Aku tak kunjung bisa menceritakan tentang hidupku yang layu. Aku tak berani menghadapi risiko ini sendiri. Aku tak kuasa menahan beban, tapi juga tak berani membagi beban ini pada orang lain yang hidupnya baik-baik saja untuk kemudian kurepotkan dengan hidupku yang berantakan.
Aku tak berani berucap jujur, mulutku membisu menutup luka. Aku berbohong, mengatakan bahwa semua baik-baik saja dan begitu bahagia. Tapi setiap hari, badanku penuh lebam, hatiku begitu pilu, mataku kering karena air mata yang turun tak bersisa, pikiranku kacau, tangan dan kakiku gemetar, badanku tak kuat menahan luka, apalagi hatiku.
Aku tak sanggup meminta pertolongan, padahal aku yakin seyakin-yakinnya mereka pasti akan menolongku. Aku tak ingin merepotkan orang lain karena aku yang masuk sendiri ke dalam kehidupan ini.
Mulutku tercekat, tak bisa berucap, meski hati terus berteriak, dan pikiranku memberontak. ©kurniawangunadi














