Mengenal Apa itu IMPOSTOR SYNDROME
Impostor syndrome (syndrome penipu) : penderita percaya bahwa mereka tidak pantas mendapatkan pencapaian dan penghargaan tinggi yang pada kenyataannya justru mereka miliki. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh psikologi klinis Dr. Pauline R. Clance dan Suzanne A. Imes pada 1978. Diperkirakan 70% orang akan mengalami setidaknya sekali fenomena ini dalam hidupnya.
• Perfeksionisme dan neurotisme
• Lingkungan yang kompetitif
• Tekanan kuat akan prestasi akademik dari orang tua
• Memasuki peran baru : memulai kuliah.
• Ketiadakmampuan untuk menilai kompetensi dan keterampilan diri secara realistis
• Mengaitkan kesuksesan dengan factor eksternal
• Ketakutan tidak bisa memenuhi harapan
1. The perfectsionis : tidak pernah puas dan cenderung terpaku pada kekurangan atau kesalahan apapun.
2. The Superhero : merasa harus memaksakan diri untuk bekerja sekeras mungkin.
3. The Expert : selalu berusaha untuk belajar lebih banyak dan tidak pernah puas dengan tingkat pemahamannya.
4. The Natural Genius : menetapkan tujuan yang terlalu tinggi untuk diri sendiri dan merasa hancur ketika tidak berhasil pada percobaan pertama.
5. The Soloist : individualistis dan lebih suka bekerja sendiri, sering menolak tawaran bantuan sebab menganggap hal itu sebagai tanda kelemahan atau ketidakmampuan.
Bagaimana mengahadapinya ?
• Share you feeling, menceritakan apa yang dirasakan kepada orang yang memiliki pemahaman dibidangnya
• Belajar mempercayai dan menerima diri sendiri
• Tuliskan pencapaian dan apa yang dikuasai : membantu menyadari kemampuan diri
• Belajar rendah hati : seimbangkan pe,ikiran antara kesombongan, kemampuan dalam suatu hal dan kerja keras
• Berhenti membandingkan diri dengan orang lain.