Menanti Jeda
Dan kita memasuki fase kehidupan baru hari ini. Ia memberikan ruang untuk kita memperbaiki diri setiap waktunya. Memilih peran atau meninggalkan peran adalah keputusan kita pada akhirnya.
Demikian pula pada doa, ia menanti jeda untuk terkabulnya sebuah pengharapan. Maka ketika sudah sampai pada titik ini akankah kita akan menyerah dan berbalik arah lagi?
Tidak,. Tidak boleh demikian. Hidup tetap harus berjalan. Sepatah apapun.
Dan pada doa yang sedang kita nanti, tetaplah menanti dengan prasangka-prasangka yang baik. Sebab Allah sesuai prasangka hambanya.
Menanti jeda sebuah doa, layaknya menanti jeda sebuah hujan yang turun deras. Kita menanti sebuah pengabulan doa dengan perasaan harap-harap cemas, sedikit harapnya lebih banyak cemasnya.
Sedetik ini, diri kita memasuki fase baru. Fase terbaik kita, dan semoga begitu. Maka doa-doa terbaik haruslah menjadi yang paling pertama dalam hidup kita. Kalau kita tak meminta pada-Nya, lantas mau meminta kemana lagi? Kalau kita berdiam saja, pertolongan macam apa yang akan kita tunggu?
Dan demikianlah pada menanti jeda. Ada harap, jenuh, cemas dan akhir. Dan kita bahagia, sebab kita tidak lagi merasa cemas. Karena kita paham setiap doa yang sedang kita nanti. Pada akhirnya adalah kemenangan yang terbaik.
(Perempuan dalam dekapan Tuhannya - diri kita)
Selamat pagi hati yang sedang berharap :")

















