Dulu guru SMA gue pernah bilang,
âKita bisa melatih otak dengan belajar, membaca buku pelajaran, atau mengerjakan tugas sekolah. Tapi sesekali ada hal yang lebih penting untuk dilatih, yaitu empati. Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai hal, salah satunya ialah dengan menonton film.â
awalnya sih gue ga pernah pikir panjang kalo nonton film apalagi melibatkan emosi yang lebih dalam. nonton film itu sesimpel kita milih film yang mau ditonton, menontonnya, lalu terhibur. ya udah gitu aja.
semenjak mendengar pesan dari guru gue tadi, gue mulai mengubah cara gue nonton film. prosesnya sih sama aja kayak sebelumnya, tapi ada sesuatu yang harus dirasakan dan direfleksikan antara apa yang ditonton dengan realita yang dihadapi.
setelah menonton beragam macam film dan menghayati moral value yang ada di dalamnya, gue ga bisa bohong kalau tema film favorit gue adalah yang bercerita tentang hubungan orang tua dan anak. kalau bahasa kerennya, bagi gue film jenis ini a deeply heart moving movie. sederhananya, kebanyakan kita, sedikit banyaknya, pasti mempunyai cerita tentang hubungan kita dengan Ayah, Ibu, atau keduanya. dan nilai-nilai yang ditawarkan dalam film jenis ini tersajikan dengan lumrah di kehidupan sehari-hari.
alhasil, (kalian bisa maklumi bahasa gue dalam kata-kata berikut ya, it is so emotional, haha) hati gue tersayat-sayat waktu nonton The Pursuit of Happyness begitu juga I am Sam. Di film PK (iya, film bolywood yang begitu satir terhadap agama-agama di dunia), gue malah tersentuh ketika ayahnya Jaggu tetap tepuk tangan saat penonton yang lain berhenti sesudah Jaggu selesai presentasi bukunya.
Jaggu : âand from that moment, Iâm always waving my hand to the stars and there, I believe he does the same for meâ
Penonton : (tepuk tangan, applause)
Penonton : (berhenti tepuk tangan)
Ayah Jaggu : (di barisan paling depan, tetap tepuk tangan, bahkan bersuit-suit, terus lanjut tepuk tangan lagi)
Me : (sok tegar, terisak, sok tegar lagi)
Setiap orang tua akan selalu bangga terhadap hal baik apapun yang dicapai oleh anaknya. memang mereka telah berkorban banyak untuk anaknya, tapi cukup dengan hal yang kita anggap kecil, tapi itu sudah menjadi kebahagiaan tak terkira bagi mereka, bahkan mereka ga malu-malu mengekspresikan rasa bangganya.
Atau, dari sekian banyak rumus dan penjelasan rumit fisika yang membuat meringis di film Interstellar, gue malah susah payah menahan air mata waktu si Cooper yang sudah menjelajah galaksi, tersesat di dimensi kelima, terus ketemu lagi dengan anaknya yang udah tua, Murphy.
Cooper : (pas ketemu sama anaknya yang udah tua banget) âit was me, Murph. I was your ghostâ
Murph: âI know. people didnât believe me.they thought that I wa doing it all myself. but I knew who it was. nobody believed me, but I knew youâd come back.â
Murph : âbecause my dad promised me.â
Me : that last sentence from Murph memaksa gue untuk balik lagi ke bioskop keeskokan harinya, nonton sendiri biar bisa terenyuh (baca : nangis) sepuasnya.
sesulit apapun kondisi orang tua, mereka pasti selalu mengusahakan yang terbaik untuk anaknya. kita-kita sebagai anak mungkin seringkali ga suka dengan keputusan yang mereka ambil atau apapun yang mereka berikan untuk kita, tapi itu adalah yang terbaik yang bisa mereka kasih ke kita. dan kita, seringkali ga merasakan itu.
Gue yakin masih banyak hal lain yang kalau diinget-inget lagi, tentang kita dan orang tua, bahkan bisa bikin banjir air mata karena saat itu mungkin kita ga menyadari upaya terbaik yang udah dilakuin mereka untuk kita.
Alam takambang jadi guru (Alam yang terhampar menjadi guru), pepatah minang orang-orang tua di kampung gue, dan kali ini, alam yang terkembang itu adalah film-film yang gue sebut di atas, dan gue belajar darinya.