Belajar Konsisten
Mencoba konsisten selama beberapa minggu terakhir membuatku sadar bahwa ada pola yang memang harus diubah, dan ada kebiasaan yang harus terus dilatih sampai akhirnya menjadi bagian dari diri sendiri.
Hari ini rasanya aku tidak lagi ingin hidup dengan menunggu siapa yang akan datang, siapa yang akan pergi, atau siapa yang akan menetap. Yang ingin kubangun adalah diriku sendiri. Sebab pada akhirnya, orang akan datang dan pergi sesuai takdirnya, tetapi diri ini akan selalu bersamaku.
Kalau hidup diibaratkan sebuah rumah, aku ingin rumah itu sudah kokoh lebih dulu. Pondasinya kuat, bangunannya utuh, interiornya tertata. Kalaupun nanti ada seseorang yang datang, atau ada momen yang membutuhkan penyesuaian, yang diubah bukan lagi pondasi atau keseluruhan rumahnya. Mungkin hanya menggeser tata letak, menambah ruang, atau menyesuaikan dekorasi. Bukan membongkar semuanya dari awal, karena dasarnya sudah selesai dibangun.
Sejauh ini, rutinitas yang sedang kujalani terasa cukup intens. Tidak selalu mudah, tetapi aku ingin terus belajar bahwa konsistensi adalah bentuk ikhtiar yang paling sederhana sekaligus paling sulit. Semoga melalui proses ini Allah mengajarkanku banyak hal, dan semoga ada kebaikan-kebaikan yang sedang Allah siapkan, meskipun saat ini aku belum bisa melihatnya.
Aku percaya janji Allah itu nyata. Ketika seseorang memilih jalan yang baik dan terus berusaha bertahan di atasnya, Allah akan memudahkan langkahnya. Barangkali hadiah terbesar bukan hanya tujuan yang tercapai, tetapi juga perubahan diri yang terjadi selama perjalanan. Bahkan mungkin Allah akan memberikan sesuatu yang belum pernah kubayangkan sebelumnya.
Tentang hubungan, biarlah semuanya mengalir sesuai ketetapan-Nya. Apa lagi yang bisa dilakukan selain berharap? Namun, berharap bukan berarti memaksa Allah untuk segera memberikan jawaban, atau mengharuskan kenyataan sesuai dengan keinginanku. Berharap adalah menitipkan semuanya kepada Allah, lalu menerima apa pun yang Dia pilih sebagai jawaban terbaik.
Maka, yang perlu terus kulatih hari ini bukan lagi rasa khawatir, melainkan kesabaran. Kesabaran untuk tetap berjalan, tetap memperbaiki diri, tetap berbuat baik, dan tetap percaya bahwa tidak ada satu pun ikhtiar yang sia-sia di hadapan Allah.
Karena mungkin, ketika aku sibuk membangun diriku dengan sebaik-baiknya, Allah sedang membangun kehidupan yang selama ini aku doakan.













