“Nun, kenapa gak jadi nerima dia?”
“dia masih menerima jabat tangan perempuan yg bukan mahramnya”
Singkat. Padat. Sangat jelas.
Mungkin kalau dijelaskan akan panjang, tapi cukup berhenti di situ saja sudah paham.
Yaaa, kalau dari makhluk spesiesku, dari sudut pandang kami, mudah untuk memahami hal itu.
Perempuan mana, yang mau merelakan dirinya yang sudah mati-matian dijaga, utk lelaki yang bahkan menjaga dirinya saja belum bisa.
“Ci, kenapa kau tolak lagi, gara2 dia Shalehah? ”
“Maksudmu? Kok shalehah??? ”
“Kan, cowok shalehah salat di rumah hehe”
“haha. Iya, itu juga sih pertimbanganya. Tapi itu bisa lah dinego. Masih bisa berpotensi menjadi Shalih, tempat tinggal dkt masjid, pelan2 supaya sadar. ”
“dia masih chit chat sama akhwat.”
Kesamaan dua cerita di atas adalah, sama - sama menceritakan pertimbangan dalam memilih calon imam yang qowwam. Nasehat para guru, ulama, murabbi pun demikian, memilih bukan berarti pilih-pilih.
Kedua cerita di atas adalah contoh salah satu cara pandang yang harus diperhatikan dalam memilih.
Perhatikan interaksinya dengan lawan jenis.
Ya, Value dari kawan pada cerita di atas dalam memilih suami yg baik adalah melihat pergaulan/interaksinya dengan lawan jenis.
Yaiya, perempuan mana yang mau merelakan kran kran cemburunya terbuka lebar.
Kalimat penyanggah : Dih. Mana ada yang sempurna. Kan bisa belajar sama-sama.
Ya, bisa. Klop itu, kalau value pasanganmu juga ‘bisa belajar sama-sama’. Tetapi yang harus diingat, value masing-masing orang berbeda. Hal yang kau anggap remeh belum tentu demikian di mata lain orang.
Bereskan dulu konsep diri. Jangan menambah PR rumah tangga yang akan di bangun nantinya.
Sepertihalnya saya, ketika Allah belum menitipkan rezeki berupa pendamping bagi saya, justru memberikan ruang beljar bagi saya, semuanya membuat berkaca, bahwasanya ada yang belum beres dalam diri saya. Dan saya berusaha mencari-cari, kemudian membereskanya. Agar tidak merugikan banyak pihak, terburu-buru mencari pembenaran yang justeru memberatkan langkah.
Sekali lagi value masing-masing orang berbeda. Tidak perlu diperdebatkan, cukup menghargai. Dan jadilah versi terbaik dari diri kamu sendiri.
Semoga kita menjadi insan yang Allah lembutkan hatinya, terbuka pintu-pintu hidayahnya, semangat belajar serta Allah mampukan untuk bisa terus menebar manfaat. Aamiin.