Outlier
āBeing left-outā¦ā
Mungkin memang kalimat tersebut cukup tepat menggambarkan situasi yang sedang saya alami saat ini. Akhir-akhir ini saya sering merenung dan menganalisis banyak hal dan segala perubahan yang terjadi. Seperti berada dalam dunia baru yang memaksa saya untuk kembali beradaptasi, menyesuaikan diri dengan lingkungan yang semakin kurang familiar.
Disonansi emosi ini semakin pekat, hingga kemudian memaksa saya untuk menggunakan seluruh kapasitas thinking saya yang minor, tertatih memahami sisi feeling saya yang dominan. Satu teori klasik yang saya percayai ā dan masih menjadi rujukan para ahli psikologi perkembangan ā adalah Teori Perkembangan Sosial Erik Erikson. Salah satu fase dalam teori tersebut yang cukup dapat mengejawantahkan mengenai pertanyaan āmengapa saya merasa seperti ini akhir-akhir ini?ā adalah fase Intimacy vs Isolation. Kata Erikson, ketika kita berhasil melewati fase ini, maka kita akan menemukan pemaknaan relasi menjadi sebuah intimasi (kedekatan). Sebaliknya, jika kita gagal di fase ini, maka hasilnya adalah kita merasa terisolasi.
Saat ini, saya seperti merasa sedang terisolasi. Apakah saya sudah gagal di tahap ini?
Namun, harusnya tidak sesederhana itu menyimpulkannya. Saya tahu, sebab saya juga belajar teori ini ketika S1, meskipun saat S2 saya sudah tidak terlalu mendalami teori-teori lain yang berkaitan dengan psikologi perkembangan. But, undeniably, perasaan ābeing left-outā dalam diri saya semakin meraja,
Hingga akhirnya, saya menemukan diri saya kembali berjibaku dengan Teori Gaya Kelekatan (Attachment Styles), bagaikan akademisi yang tak pernah puas. Saya terus mencari, susah payah membuka kamar-kamar gelap tak terjamah dalam diri. Kalau dalam teori Johari Window, saat ini saya sedang berupaya mencari ākamar gelapā yang masih sulit ditemukan oleh diri saya sendiri maupun orang lain. Proses pencarian yang saya lakukan secara mandiri ini cukup menyakitkan dan melelahkan. Itu artinya saya harus siap membuka lapis demi lapis sesuatu yang asing, menghadapi kejutan yang tak terduga, dan menerimanya sebagai suatu bagian dari diri saya.
Inilah fase kontemplatif kesekian yang acapkali membuat saya kesakitan, cukup triggering. Sebab rasanya seperti memutar kembali rangkaian kilas balik kehidupan. Setiap rangkaian kejadian masa lalu meninggalkan serpihan memori yang lesap dalam alam bawah sadar.
Saya didefinisikan sebagai Fearful-Avoidant. Mudah-mudahan ini bukan self-fulfilling prophecy. Mengetahui ini, rasanya cukup menjengkelkan. Namun, saya harus menerimanya sebagai bagian dari diri saya. Serta, tetap terus berupaya untuk mengatasinya.
Itulah alasan mengapa saya merasa semakin being left-out. Ada bagian dari dalam diri saya yang terpicu ketika diri saya berhadapan dengan dinamika relasi sosial yang semakin asing. Semuanya berubah, saya merasa tertinggal di belakang, terseok mengejar, namun masih gagal menyejajarkan langkah.
Identitas diri saya masih sama, namun identitas mereka sudah berubah, bahkan bertambah.
Sebagai individu yang hidup dalam masyarakat kolektivis, tidak bisa dipungkiri bahwa tangki interaksi saya butuh untuk segera diisi. Setengah kehampaan yang menyisakan ruang kosong, berbaur dengan ambivalensi keinginan untuk menerima atau memberi.
Saat ini, rasanya seperti sedang menjalani hidup menjadi sebuah entitas statistik menyimpang, menjadi outlier. Tidak umum. Tidak senormalnya. Katanya, hidup itu menjalani fase demi fase yang telah disepakati dalam suatu konsensus kemasyarakatan. Apabila jalan hidupmu menyalahi aturan urutan dalam sebuah konsensus, kamu dianggap sebagai outlier. Namun, menurut saya, menjadi outlier itu bisa akibat dari sebuah pilihan atau keadaan. Sebab, hidup yang sedang dijalani tidak hanya mutlak terjadi dari serangkaian pilihan, namun juga dari serangkaian keadaan yang melatarbelakanginya.
Lantas, berarti memang konsekuensi menjadi outlier adalah being left-out. Sebab tidak lazim, tidak bisa menjadi bagian dari keumuman dalam sebuah kumpulan sosial. Namun, ketika berupaya memaksakan diri untuk menjadi konformis, rasanya janggal. Sulit untuk menjad fit in dalam sebuah kumpulan yang memiliki bahasa berbeda.
Kadang rasanya ingin menyalahkan diri mengapa kurang berupaya meleburkan diri dalam kelaziman sosial. Namun, saya menyadari bahwa ada hal yang telah berjalan sebagaimana adanya. Bahwa memang ada yang di luar kendali saya dan memang inilah adanya.
Lantas, bagaimana? Ini yang sampai saat ini masih harus saya cari jalan keluarnya.
Jakarta, 27 April 2025











