Pria, Angin.
Kenalkan lelaki kesayanganku, Angin. Aku bertemu Angin delapan tahun lalu, di sebuah kelas bahasa inggris, di desa kecil pulau Jawa. Jujur, hubungan kita berawal lucu-lucuan, namun berakhir cukup serius bagi laki-laki muda seperti Angin. Angin baru saja menginjaki usia delapan belas tahun saat pertama kali bertemu aku. Dan aku, empat setengah tahun lebih tua. Yaa, saat itu usiaku dua puluh dua tahun.
Angin ialah lelaki yang sedikit bicara untuk aku yang suka cerita dan banyak tertawa. Angin lebih tenang dan dingin untuk aku yang penuh ekspresi, dan bahkan begitu sukar baginya untuk menunjukkan perasaan. Entah sedih bahkanpun bahagia.
Berjalannya waktu, Angin mulai membuka diri. Aku bisa melihat senyum dan gelak tawanya. Apalagi wajah bahagianya setiap kali bercakap-cakap denganku. Angin merobohkan dinding batasan interaksi miliknya, kemudian mempersilahkan aku masuk dengan hangat.
Hari ini aku ingin bercerita bahwa betapa aku sangat bangga pada Angin. Mungkin hingga saat ini ia kesulitan untuk menunjukkan sedih dan amarah, dan lihat bagaimana cara ia lebih memilih memendam dan diam ketika kecewa. Biarpun Angin bilang tidak kenapa-kenapa. namun aku sangat paham bahwa ia mengkhawatirkan banyak hal. Baginya, mendengarkan aku dan melihat wajahku sudah menjadi bahagianya dan semangatnya dalam menjalani hari. Maka dia lebih memilih menatap dan memujiku daripada berkeluh kesah tentang hari-harinya. Tapi tentu saja akan ada saatnya ia membicarakan beberapa hal sedih meski karena paksaan berkali-kali.
Teruntuk sayangku, Angin. Sayangku.. Izinkan aku untuk memujimu malam ini. Bahwa kau tetap menjadi kebanggaanku. Untuk semua potensialmu yang berambisi menjadi pribadi yang lebih baik. Yang lebih memilih diam dan tenang meski kepalamu berantakan. Yang melihat dunia dengan pandangan berguna dan indah. Yang mengagumi aku berjuta kali hingga akupun khawatir Tuhan cemburu mendengarnya.
Terima kasih karena tetap bertahan pada masalah yang tengah kamu hadapi saat ini. Aku tahu kamu kesulitan, tapi, terima kasih karena tidak menyerah dan lebih memilih untuk mempertahankan energi positifmu saja. Terima kasih karena terus melihat dunia dengan indah. Terima kasih untuk segala fikiran-fikiran baik yang kau punya dan afirmasi yang selalu kau sebar. Terima kasih unutk memilih bertahan menghadapi dan pasang badan untuk bertanggung jawab meskipun aku tahu kau juga begitu lelah. Terima kasih untuk tetap semangat menjalani hari-hari yang berat. Jika melihat senyum dan tawaku menjadi gairah semangatmu menjalani hari, izinkan aku dengan tersenyum untuk menemanimu dan tertawa dalam lelucon lucumu. Izinkan aku untuk membanggakan semua potensi baikmu dan biarkan aku untuk terus memeluk gusarmu walaupun kau tutupi, tapi aku mengenalmu, sayang.. Aku bisa melihatmu hingga ke hatimu. Mari bersama-sama kita menjalani dunia yang dengan paksa harus kita pandang baik ini, agar hal-hal baik terus berdampingan dengan kita. Mari bersama-sama bersyukur atas segala keberkahan yang kita dapati. Mari terus-terusan memelas pada Tuhan agar kita dapati segala hal baik di hidup kita.
Aku mencintaimu dan akan selalu membersamaimu, Angin-ku.
Dari belakang Limolasan untuk pinggir Sepinggan,
Adek doktor cantik.
9-8-26. 9.30 malam.














