Perjalanan sekolah sampai kuliahku, terbilang mulus ya..
Pertama,TK. Sebagai anak ingusan yang tak tahu apa-apa, dimasukkan di Raudatul Atfal (RA)/BA/TK Perwanida. Itulah yang kuingat di papan sekolah pertamaku itu, tak tau persis apa kepanjangan BA.
Lalu, setelah 2 tahun di TK, padahal harusnya 1 tahun saja, karena rata-rata umur sebayaku sudah masuk SD. Tapi alasan orang tua supaya bisa baca dulu, baru masuk SD. Oke.
Sekolah Dasar. Kampungku dekat dengan SDN Surodadi, halaman sekolanya sudah jadi tempat bermain sehari-hari. Tak heran aku pengen juga sekolah disitu. Apalagi teman-teman main katanya mau masuk situ juga. Eits tunggu dulu, tapi orang tuaku berpendapat lain, mereka lebih memilih mendaftarkanku ke Madrasah Ibtidaiyah Negeri Boyolali, sekolahnya tepat di samping TK ku. Yasudah.
Madrasah ini unik seingatu, waktu kelas satu-dua, murid perempuan gak wajib pake jilbab atau pakaian panjang. Yang laki-laki pun sampai kelas enam celanannya pendek, kebayang , dulu gak risih ya, pake celana merah sependek itu, apalagi waktu kecil sering gak pakai cd. waakakak. E tapi yang perempuan, menjelang kelas lima, sudah diminta pakai baju panjang, seiring pergantian kepsek.
SMP. wow, nilai ujian akhirku waktu itu tertinggi tingkat Madrasah di Kabupaten Boyolali, katanya sih. Nilai ujian akhir sekolah Bahasa Arab...perfect, 100. gila ya. haha. Matematika ku juga masih bagus nilainya. kenapa? karena SMP, tepatnya kelas dua, matematika jadi momok.
SMP ku di SMP Negeri Satu Boyolali. katanya sekolah unggulan, alhamdulillah bisa masuk situ. Favorit gitu katanya. dengan modal NEM 43,50, aku tegolong kelas unggulan, ciie, tapi unggulan kedua. Daaan,,,momok matematika menjadi-jadi, ujian akhir matematika dapat 6 klo gak salah, tapi masih lulus lah.
SMA. gak ada pikiran lain selain SMA Negeri Satu Boyolali. Unggulan. Favorit. Alumni banyak yang jadi orang beken. Alhamdulillah masuk lagi. Meski bukan lagi masuk unggulan. Di SMA ini aku ambila jurusan Bahasa di kelas dua. Alesannya cuma menghindari terpaan pelajaran matematika yang terlalu besar. Takut nggak lulus gara-gara matematika. Jadi, ujian akhir bahasa indonesia, bahasa inggris, sama bahasa jerman. tapi matematika teteap jadi materi ujian akhir sekolah. alhamdulillah nilaiku lumayan buat modal masuk universitas.
Perjalanan masuk universitas, aku coba mulai dari PMDK Uniersitas Indonesia, gak lolos.
SPMB Universitas Padjajaran, gak masuk.
Disitu saya mulai takut, gak jelas masa depan. Tapi ternyata masih banya teman yang belum dapat kampus juga ternyata. Gak sembarang kampus, doktrin pokoknya harus negeri masih beken. Lalu Universitas Diponegoro, buka seleksi Ujian Masuk, ini buat orang-orang kaya, yang memadukan kemampuan akademis lewat tes masuk, dengan besaran sumbangan yang sanggup dibayarkan. berarti aku orang kaya? tunggu dulu, biar begitu, ternyata di kolom pendaftaran online, di bagian kesanggupan membayar, ada pilihan NOL rupiah, kenapa enggak pilih itu? yaa.. dengan bermodal keyakinan dan harapan, alhamdulillah kok ya aku masuk... seingatku aku maksimal kerjain tes, trus lebih fokus belajar soal-soal matematika. kayak gitu aja, ak masih belum puas , pengen jurusan lain di kampus lain. Tapi banyak yang bilang, Ilmu Komunikasi Undip itu idaman. apalagi masuk dengan privilese tanpa sumbangan.
Masa Kuliah, jalani dengan coba ikut beberapa kegiatan ekstra mahasiswa, pontang-panting, dan akhirnya lulus setelah lima tahun enam bulan. Pedih, anak yang gak pernah tinggal lama diluar kota, memang harus jalani berbagai dinamika, halah, yang juga membuat harus kuliah satu mata kuliah saja selama satu semester, padahal sudah ujian Karya Bidang/Skripsi. Itulah kenapa lima tahun ada ekornya enam bulan.
Enam bulan sebelum, betul-betul lulus official, sudah coba ikut seleksi kerja, belum beruntung, Tapi, kurang dari enam bulan setelah wisuda, alhamdulillah dapat kerja di state-owned television. Walau, bukan di pusatnya, tapi di Mamuju, Sulbar-yang waktu itu entah dimana.
Sekarang, saat ingin lagi meraih pencapaian baru, kuliah S2, rasanya sudah gak "semudah" dulu.
(Tulisan ini untuk mengenang dan semoga bisa memberi semangat, supaya kuliah lagi. Bukan hanya untuk sekedar gelar atau penyesuaian gaji, tapi untuk membuat diri ini lebih punya manfaat lagi, )