Api datang terlebih dahulu daripada kata.
Sebelum kita bisa berpikir panjang dan memiliki bahasa, kita belajar menaruh daging di atas bara. Daging matang lebih lunak, lebih mudah dicerna, lebih banyak tenaganya yang sampai ke raga. Ususnya memendek. Rahangnya mengecil. Tenaga yang dahulu habis untuk mengoyak yang mentah pindah ke organ yang paling lapar: otak. Kita menjadi satu-satunya yang berakal karena kita memasak.
Lalu kita menemukan bebijian.
Kita tahu bebijian bisa disimpan. Yang bisa disimpan bisa ditunggu. Yang bisa ditunggu membuat orang berhenti berpindah. Kemudian kita menancap di satu tempat, menanam, menjaga, menumpuk. Dari tumpukan itu lahir lumbung. Dari lumbung lahir milik. Dari milik lahir pagar, hitungan, pajak, dan orang yang datang merebut tumpukan orang lain.
Kota pertama tumbuh mengelilingi ladang gandum. Perang pertama sering dikira soal tanah. Walaupun alasan sebenarnya adalah tentang apa yang tersimpan di dalamnya.
Garam pernah jadi gaji. Rempah pernah jadi alasan kapal menyeberang separuh bumi, alasan satu bangsa menduduki bangsa lain, alasan orang mati di laut yang namanya tidak mereka tahu. Lada yang sekarang ada di laci dapurmu, dulu, ditukar dengan nyawa.
Cara menanak, cara mengawetkan, cara membuat yang pahit bisa ditelan, cara membuat yang beracun bisa dimakan. Tidak ada yang menuliskannya di buku. Cara itu diturunkan turun menurun dari tangan ke tangan, dari ibu ke anak, lewat aroma dan takaran yang tidak pernah ditimbang.
Dan semua itu, keseluruhan beribu tahun api dan lumbung dan kapal, datang menemui kita di tempat-tempat paling biasa dalam kehidupan.
Kita makan sewaktu ada kelahiran. Sewaktu pernikahan dirayakan. Sewaktu ada kematian. Sewaktu seseorang pulang dari jauh. Sewaktu sebuah keluarga mulai retak, tetapi masih duduk di satu meja, lalu makan dari panci yang sama seperti tidak terjadi apa-apa.
Semua itu berakhir di dapur kita sekarang.
Di panci yang sama yang dipakai ibu kita. Di sendok yang cekungnya sudah aus. Di nasi yang sudah dingin dan ditutupi piring lain, yang ditaruh di depan kita sewaktu kita pulang terlalu malam.
Sejarah sebesar itu, dan yang kita ingat hanya ibu berkata, "mangan sek, mumpung sik anget."












