Proud to be farmer. Buyut, kakek, dan ayahku adalah petani bahkan kata kakek jauh sebelum kita lahir orangtua kita semuanya adalah petani. . Ayahku juga berkata orang tua kita dahulu adalah para petani hebat yang taat agama, mereka (para orang tua) memaksimalkan ibadah mereka dengan menggarap tanah setelah melasanakan kewajiban ibadah yang memang diperintahkan oleh agama, mereka tak pernah meninggalkan shalat, selalu mengaji barang seayat-dua ayat setelah magrib walau begitu lelahnya karena seharian beribadah dengan menggarap sawah. . Tapi, kata ayah lagi, banyak dari petani sekarang yang lemah, sedikit-sedikit meninggalkan shalat, ketika diajak mengaji di masjid setelah magrib mereka ngakunya lelah karena seharian di sawah padahal sehabis isya nongrong di pinggir jalan sambil haha-hihi sana sini, bukannya melarang kata ayah, tapi lebih baik bersilaturahim di masjid kan dari pada di pinggir jalan sambil sambil me-nyiuli orang-orang yang lewat. . Kata ayah juga banyak petani sekarang tak paham bahwa dengan menjadi petani Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk lebih mengenal dan bercengkrama dengan bentuk asli kita, tanah. Sampai sekarang banyak petani yang sudah tidak mau mengajari anaknya bertani, mereka menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya, tapi ketika mereka pulang dari mencari ilmu malah orang tuanya yang dipaksa harus sesuai dengan pemikirannya, kamu tahu kenapa begitu nak? Aku cuma menggeleng sambil berusaha nahan air mata takut-taku hal itu yang dirasakan ayah sewaktu aku pulang dari perantauan. . Begini nak, lanjut ayah, petani sekarang lupa bahwa mental petani itu perlu, mereka lupa atau mungkin memang sengaja tidak menanamkan itu pada anak-anak mereka, seolah itu adalah sesuatu yang terbelakang. Makanya nak, kamu itu kami sekolahkan tinggi-tinggi dan ketika pulang masih kami ajak ke sawah dan kebun, bukan mau menjadikanmu petani, tapi mau menguatkan kembali mental petani yang sudah ada dalam dirimu siapa tahu aja tertutup ia sama kesombongan ilmumu dari perantauan sana. . Kami masih ngajak kamu ke sawah dan kebun biar tahu kalau petani (terutama orang taua kita dulu) itu kerja totalitas, hasilnya baru diserahkan semua sama yang Maha Mengatur. . Gak kayak sekarang, seperti orang-orang disana itu, kerjanya dikit tapi mau hasilnya yang lebih, bahkan kalau bisa gak usah kerja asalkan hasil jalan terus, ya kan susah... . Alahhh ngobrol terus, hayu ke kebun kalau dah beres, makan kelapa muda kita... . Aku pun dengan sigap berkata "siap" 😊😊😊













