“Bahagianya mereka yang memiliki dekapan hangat keluarga, bagi mereka indah itu bukan pada banyaknya agenda destinasi keluarga, berfoto ria dengan lebarnya tawa, atau penuhnya sosial media dengan aktivitas liburannya.”
Bagi mereka bahagia adalah saat keluarganya bisa taat pada tuntunan ilahi, selepas magrib ramai dengan tilawah Al Quran tanpa ada gangguan tv yang menyala. Sendu dan tetesan airmata bahagia mereka adalah saat satu persatu dari mereka Allah panggil dengan keadaan husnul khotimah, menyisakan senyuman pada akhir usia, saling menemani, berpelukan dengan hangat. Hati mereka yakin, bahwa mereka akan kembali berkumpul di surga.
Standar bahagianya setiap keluarga berbeda-beda, menyamakannya bukanlah solusi. Namun, jika keluarga adalah tempat berteduhnya dari hujan ujian, dan tempat untuk menghangatkan diri dari dinginnya dunia, maka jadikanlah keluargamu sebenar-benar tempat kembali yang dirindukan.
Hari ini, ayah temanku menunjukkan keluarganya adalah tempat kembali, saat dimana ia akan Allah panggil, saat itulah sendu dan syahdunya senyuman setiap dari mereka keluar, menandakan keikhlasan melepas sang nahkoda kapal. Ayah.
Jika nanti kamu telah menikah, jadikanlah keluargamu sebaik-baik tempat berteduh, jadikanlah setiap anak-anakmu bagian dari investasi akhirat tanpa henti untukmu, kala dirimu telah kehabisan bekal di akhirat, ia datang membawakan perbekalan untukmu. Anak yang sholih dan sholihah.
Karena kita semua sedang meniti jalan pulang, semoga Allah matikan jiwa dan raga kita dalam iman dan islam.