Tulisan ringan sebelum menjelajah dunia 'Sleketep'
Sejak dulu, entah dari kapan, aku agak jijik menyebut jika aku sedang jatuh cinta. Aku tidak suka dengan julukan 'jatuh cinta' melekat dan terjadi pada diriku. Rasanya cinta adalah hal yang gak benar-benar cocok dipasangkan denganku, tidak cocok untuk aku bersanding pada hal yang berbentuk atau bernama cinta. Ada perasaan 'eneg' dan mau muntah jika aku membicarakan diriku sendiri yang jatuh cinta. Bahkan saat menulis paragraf ini pun aku merasa enggan dan sedikit jijik. Untuk menghindari aku muntah di tengah-tengah aku menulis ini, maka kata 'jatuh cinta' akan kuganti dengan 'Sleketep'. Sepertinya lebih cocok jika disebut, 'aku sedang merasakan Sleketep' dibandingkan 'aku sedang merasa jatuh cinta' ouh, kalimat kedua benar-benar buatku mual.
Sebenarnya tulisan ini hanya paragraf-paragraf mini, tanda jika nantinya (kalau aku rajin, tidak malas, tidak menunda, tidak rebahan) akan ada essay penuh, detail, dan panjang mengenai aku yang sedang merasakan Sleketep. Perasaan Sleketep ini, baru-baru ini kuakhiri sepihak dari sisiku (anggapan agar aku tidak terlihat dicampakkan) dan aku mau mereview penuh dan mendalam perasaan ini dalam bentuk essay. Biar kuabadikan pengalamanku ini dalam bentuk rapi dan baik-baik. Karena jujur saja, sepertinya setelah sekian lama, baru kali ini aku kembali merasakan perasaan ini. Kemarin-kemarin sebelum wabah Sleketep menyerang, aku hanya uring-uringan sendirian pada perasaan 'keakuan'. Meski kadang, sebagai seorang people pleasure, aku juga memikirkan sisi dan perasaan lawan bicaraku. Ah tapi mau diserang atau tidak dengan wabah ini, aku memang manusia yang selalu bingung. Pokoknya, banyak yang dipikirkan dan menumpuk. Akulah manusia ngang-ngong itu.
Lalu kapan mau kumulai penulisan essaynya? Gak tau, ini baru permulaan, anggap saja tulisan pada Tumblr ini adalah Prolog. Pada tulisan kali ini aku masih berlatih menulis dulu. Setelah sekian lama, mau kubiasakan jari dan otakku bergerak bersamaan untuk menulis kembali. Biarkan mereka bekerja sama dan seirama dahulu. Di samping itu, aku juga sedang belajar kembali cara menulis essay. Saat aku bertanya ke ChatGPT mengenai detail cara menulis essay, aku menyadari kalau aku sangat butuh hal itu. Sepertinya untuk mengurai pikiran-pikiran yang penuh di kepala ini, aku membutuhkan kebiasaan untuk menulis essay. Sepertinya juga, dari essay pikiranku bisa lebih rapi dan tidak kusut, mungkin dengan begitu essay bisa mengurai perlahan pikiranku yang ramai dan bercabang ini.
Yap, akan kucoba terlebih dulu. Mungkin dari mind mapping? Ah gak tau, pokoknya semua akan kumulai dulu dari tulisan gabut ini. Apakah tema pertama yang kuangkat tentang Sleketep ini? Bisa jadi, karena hal ini baru dan masih cukup hangat untuk jadi bahan. Semua tulisan yang rapi-rapi, akan aku bagikan melalui Medium. Pada media Tumblr ini, semua tulisan asal, acak, jauh dari kata rapi aku bagikan. Menurutku Medium adalah tempat yang agak bergengsi jika kubagikan tulisan asal-asalanku. Tapi karena hal tersebut, Tumblr adalah media yang buatku nyaman untuk berbagi apapun itu bentuk tulisannya. Berbeda dengan Medium, karena kesan yang sampai padaku, media tersebut punya 'gengsi' jadi aku cukup pilih-pilih jenis tulisan apa saja yang bisa lolos untuk aku post di sana.
Kembali lagi ke Sleketep, semoga lewat perasaan ini, aku bisa melakukan semua yang ada dalam pikiranku satu-persatu secara segera. Karena kalau perlahan-lahan, udah gak ada waktu lagi. Kemarin terlalu banyak waktu yang kutunda. Kali ini semua harus kusegerakan. Aku gak mau menyia-nyiakan perasaan ini, aku mau memanfaatkan sebaik mungkin zat oksitosin dalam tubuh untuk melakukan beberapa hal positif.
Argh, apakah aku bisa??


















