ISIS (Daesh) dan Khalid bin Walid
Bukan. Maksud tulisan ini bukan dalam rangka berandai-andai kalau Khalid bin Walid masih ada hingga saat ini dan masih segar bugar buat berperang melawan ISIS maka jadinya apa.
Khalid bin Walid juga pernah terlibat pembantaian. Dengan alasan yang berbeda dengan yang dilakukan ISIS saat ini.
Sampai-sampai, Rasulullah menyatakan “berlepas tangan” dari perbuatan Khalid bin Walid.
Selow. Rasulullah bukan berusaha buat “cuci tangan” dari kejadian ini. Maksud dari tindakan Rasulullah tersebut adalah, secara kasar, “ini orang udah dikasi tau jangan membantai tawanan, eh tangan masih gatel juga”.
Kalau diumpamakan dalam kemiliteran, perihal Chain of Command, jika anak buah melakukan kesalahan, kemungkinannya ada dua: kesalahan itu memang atas perintah dari komandan, atau memang anak buahnya yang menyimpang.
Tapi, sekalipun kesalahan dilakukan anak buah atas inisiatif pribadi, bukan berarti komandan bisa lepas tanggung jawab. Tetap saja, kesalahan komandan tersebut adalah lemahnya kontrol atas anak buah, sehingga kesalahan pun terjadi.
Balik lagi ke kasusnya Khalid bin Walid. Rasulullah juga merasa bertanggung jawab. Buktinya, pasca pembantaian Bani Judzaimah, beliau mengembalikan harta mereka ditambah semacam uang santunan atas tewasnya sebagian dari Bani Judzaimah.
Masalah ISIS, emang bikin gatel juga sih. Sama kesel. Dan gemes.
Karena ISIS adalah masalah, dan setiap masalah punya akar, lantas orang-orang mencari akar masalahnya (baca: kambing hitam).
Karena ISIS bersyariat Islam, dan karena agenda yang diusungnya adalah ‘menegakkan kekhalifahan Islam yang berdasarkan hukum syariah’, lantas orang beramai-ramai mengambil kesimpulan bahwa akar masalah dari ISIS adalah Islam yang menjadi pedoman mereka.
Orang yang kayak gini nih sebenernya lucu. Dan bermasalah. Mereka belum paham Islam, dan belum paham bahwa pembantaian yang dilakukan ISIS juga pernah terjadi di masa saat Rasulullah masih ada, meskipun gak sesistematis yang dilakukan ISIS. Bedanya, saat itu, para pelaku dan yang terlibat mempertanggungjawabkan atas apa yang terjadi. Bertanggungjawab memang karena membantai tawanan itu merupakan kesalahan, baik dari segi kemanusiaan maupun dari agama Islam. Kalo sekarang, ISIS belum kena tanggung jawab aja, bukan karena umat Islam yang lain enggan buat menghukum mereka, tapi lebih karena ISIS belom kalah, dan ‘bandit-bandit’ utamanya belom ketangkep.
Toh, para penjahat Nazi diadili di Nuremberg pasca kekalahan Nazi, bukan pas Nazi masih kuat. It’s logic!
Jadi, kalo ada yang bilang membantai tawanan itu termasuk syariat Islam, bohong mereka. Entah gak tau, bego, atau denial kalo masih percaya juga.
Maaf.
Kalaupun mau menyalahkan agama, terutama Islam, karena punya potensi untuk disalahgunakan, kenapa gak nyalahin diri sendiri aja?
Toh diri kita juga punya potensi untuk disalahgunakan. Baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Baik untuk kepentingan pribadi, golongan, maupun kepentingan orang lain.
Cukup absurd?
Misalnya, ada anggota keluarga kita, sebut saja sepupu kita, membunuh seseorang, lantas siapa yang bertanggung jawab?
Tentu saja, jawabannya adalah keluarga kita!
Tentunya, dengan porsi tanggung jawab yang berbeda-beda.
Sang pelaku bertanggung jawab untuk menyerahkan diri kepada penegak hukum. Dan keluarganya bertanggung jawab untuk membantu menyerahkan sang pelaku kepada penegak hukum, serta turut meminta maaf dan mengganti kerugian yang dialami oleh korban dan keluarganya.
Bukan malah melindungi pelaku.
Karena sama-sama bertanggung jawab, apakah porsi hukuman sang pelaku akan sama dengan keluarganya yang lain? TENTU SAJA TIDAK.
Menyalahkan keluarganya karena tidak mendidik anggota keluarganya itu sah-sah saja. Tapi turut memenjarakan atau menghukum mati keluarganya itu baru keterlaluan.
Sama halnya dengan Islam dan ISIS saat ini.
Bijaksanalah.












