Mencoba Merekonstruksi tentang Bagaimana saya Belajar tentang Keislaman
Memiliki adik yang masih pelajar, membuatku berpikir ulang bagaimana dulu aku belajar tentang keislaman. Apa yang membuat akhirnya aku menemukan sesuatu yang menyenangkan tanpa paksaan tanpa doktrin dan terus merawat pertanyaan-pertanyaan itu sampai sekarang. Masalah utama anak-anak hari ini adalah banyak hal yang dirasa tidak relate dengan kehidupan mereka, prioritas yang dihadapi berbeda, dan lingkungan digital yang berbeda sama sekali.
Aku dibesarkan bukan dalam keluarga yang tak terlalu agamis. Meskipun waktu kecil, nenekku setiap hari menyetel radio Antassalam atau Dahlia Fm, malam Jum'at mendengarkan ceramah Aa Gym, radio MQ terkadang di waktu-waktu tertentu, dan tentu saja ceramah Kiyai Zainuddin MZ. Kenangan kecil itu melekat di rumah Nenek. Makanya, lagu-lagu nasyid hampir kami hafal bersama. Bisa dibilang keluarga kami adalah keluarga drama musikal. Dimana apapun dialognya selalu pakai lagu dan hanya dilakukan oleh Nenek dan Mama -- kemudian aku.
Beranjak ke usia SD dan SMP, entah bagaimana kebiasaan menyetel radio subuh-subuh pindah ke rumah. Setiap subuh, suara radio sengaja disetel Bapak atau Mama keras-keras untuk membangunkan kami. Channelnya antara dua radio saja yaitu Radio Oz yang mengisi adalah Ust. Aam Amirudin, atau Dialog Islam di Radio Garuda Fm yang diisi oleh Ust. Deddy Rahman (Allahu Yarham), Ust. Asep Permana, dan kadang ditemani oleh Kang Eris Ma'ruf. Kadang, daripada beranjak dari tempat tidur, aku lebih suka mendengarkan Ustadz menjawab pertanyaan yang masuk. Atau mendengarkan penjelasan Ustadz sebelum membuka sesi pertanyaan. Barulah aku beranjak untuk sholat.
Memasuki usia SMP, Bapak menyuruhku pindah tempat mengaji. Karena di tempatku mengaji waktu itu tak ada untuk anak SMP. Jadi, untuk pertama kalinya aku mengaji dengan "madzhab" yang berbeda. Ya, meskipun gak beda-beda amat. Diniyah Wustho dan jadi santri kalong. Aku termasuk murid yang perlu mengejar ketertinggalan dan paling bodoh rasanya. Sebab yang lain sudah dimulai dari Diniyah Ula, aku baru masuk di diniyyah wustho.
Seingatku, aku menjadi angkatan terakhir. Karena tak ada lagi santri setelah angkatanku yang mengaji malam hari. Lalu, semakin tertinggallah karena aku harus bergabung ke kelas 2, yang harusnya di kelas 1. Lama-lama, karena yang mengaji semakin menyusut, akhirnya kami bergabung ke kelas Teteh-teteh alias Guru Diniyah yang dipandu oleh Master : Ust. Tauhid.
Ada hal yang paling kuingat dan perlu kuteladani dari guru-guru kami yang mengajar waktu itu. Meskipun muridnya 2 atau 3 orang, kami akan tetap belajar. Kalau pas sendirian dan tak ada gurunya, paling nguping Ust. Tauhid di kelas sebelah. sebab suara beliau bisa menembus ruangan sebelahnya. Bagiku tak masalah, waktu itu beliau masih bekerja di perusahaan, jadi banyak konteks perusahaan yang masuk, apdet berbagai macam berita (waktu itu kasus lumpur lapindo, dan bagaimana perbandingannya di negara lain).
Pelajaran yang selalu paling menantang adalah Bahasa Arab. Saya yang dasarnya saja belum tamat, kini langsung melompat ke pelajaran kelas 2 karena teman seangkatan menghilang. waktu itu kelas diampu oleh Ust. Aceng. Selalu overthinking karena kalau belajar nahwu atau sharaf, tentu harus persiapan PR, terus selalu praktik. Apalagi kami berdua atau bertiga, tiada celah untuk mengelak. Tapi, cerita-cerita Ustadz, mengenalkan Al-Quran yang dipegangnya, mengenalkan Kamus Munawwir, cara memakainya, dan lain-lainnya itu bagi saya sangat bermanfaat meskipun sampai sekarang si Ila nih susah banget ngertinya.
Pelajaran paling menyenangkan adalah pelajaran yang diampu oleh Ust. Sayyid. Kita membahas buku Parasit Aqidah yang ditulis oleh Ust. Marzdedeq (Allahu yarham). Kisah moyang dan poyang, agama besar dan agama kecil, sampai kisah-kisah Ustadz ketika berpergian ke suatu daerah. Buku itu bisa kumiliki beberapa tahun kemudian. Dan entahlah begitu menarik. Dan masih ada beberapa guru lainnya yang cukup mewarnai waktu itu. Entah sebuah berkah di tengah kesempitan kesendirian, aku malah belajar banyak hal yang sebetulnya secara kurikulum menjadi tak sistematis.
Meskipun secara resmi aku belajar sampai kelas 3 SMP, tetapi setelah SMA masih ada pengajian ahad ke-4. Kemudian, setiap pagi masih dengan kebiasaan radio itu dan kemudian bertambah dengan Nuansa Pagi di Ardan radio bersama Kang Eko. Di sesi ini (karena acaranya pkl 04.00-05.00 wib) akan membahas tentang Sejarah Islam. Kebetulan waktu itu membahas tentang Nabi-nabi seperti Nabi Adam, Idris, Nuh (dimana referensi yang digunakan juga memakai referensi dari agama lain seperti Talmud, dan entah kitab apalagi). Dari sana juga, aku dapat berbagai referensi kitab sejarah.
Semakin hari, perbincangan di radio ini semakin menarik untukku. Ust. Deddy Rachman selalu tak segan untuk bagaimana beliau merunut dalil (seingatku begitu). Berkat beliau, aku juga tahu kitab Al-Umm dan kitab Ar-Risalahnya Imam Syafi'ie, tahu juga istilah-istilah seperti istihsan, istihsab, 'urf, dan kawan-kawannya. Satu lagi, pengetahuan umum beliau juga luas. Beliau tahu kenapa lagu rock itu ada? gosip dan polemik penyanyinya di waktu itu. Saya merasa terkesima karena pengetahuannya yang kontekstual.
Selain pagi-pagi, dialog Islam juga ada versi sorenya yang membahas mengenai issue-issue keummatan dan kenegaraan. Sering juga ada tamu yang diundang. Salahsatunya adalah Pak Herman Ibrahim. Sepertinya saya masih ingat suaranya. Kalau dipikirkan sekarang, kenapa juga saya begitu antusias untuk mengikuti jadwal-jadwal itu?
Selain radio-radio itu, aku juga membeli majalah bulanan seperti Risalah dan Percikan Iman di Bapak koran langganan. Tak jarang, saya dan Bapak koran juga sering berbincang dan mendengar cerita bagaimana Bapak ini menghadapi realitas-realitas. Tentu beliau adalah pembaca yang baik. Sebab, ia akan memilihkan berbagai majalah yang menarik untuk kubaca. Tak pernah memaksaku, tetapi menyajikan banyak sumber untuk kupilih.
Begitupun ketika kedatangan internet ke dalam kehidupanku. Ada banyak hal yang bisa kucari termasuk barangkali bisa menemukan kitab-kitab Talmud dan menelisik bagaimana Idris diceritakan dalam kitab itu. Tapi tak ketemu. Internet membuka kepenasaranku tentang bagaimana bentukan kitab Majmu' Fatawa nya Ibn. Taimiyyah. Tentu saja, isinya berbahasa Arab. Tapi, aku senang sekali.
Satu tahun selepas SMA, kupikir ini yang menjadi tali dan benang merah dari istilah-istilah random yang kudapatkan. Kajian Pemuda di Viaduct setiap hari Sabtu,memberikanku "jawaban" sementara dari yang pernah kulalui tentu juga memberikan enrichment tentang kondisi dunia melalui materi worldview Islam dari Ust. Tiar. Dan itulah awal mula bertemu dengan hermeneutika.
Lagi-lagi, sepertinya aku saja yang ketinggalan kajian Turats dan urusan tentang istinbath ahkam. Aku berasumsi bahwa peserta lain lulusan pesantren yang sudah akrab sebelumnya dengan istilah-istilah itu. Aku juga masih ingat bagaimana rempongnya aku menulis sebab tak mau lupa lagi meskipun akhirnya ya memang lupa lagi. hahaha
Sampai di konstruksi di SMA, aku belum menemukan apa yang perlu kukonstruksi untuk "membantu" adikku ini belajar. Kesenangan kami berbeda, konteksnya juga berbeda. Setidaknya inilah sebagian yang kukonstruksi dari perjalanan yang menyenangkan sekaligus membawa pertanyaan-pertanyaan yang masih belum terjawab. Tentu masih ada lanjutannya.. The next saja ya..

















