Edensor: Movie Curhat (Karena butuh sebuah alur cerita untuk membuat review)
Saya orang yang setuju dengan statement "Jangan bandingkan buku dan film. Itu adalah dua media yang berbeda"
Benar. Mulai merosotnya kembali perfilman Indonesia membuat sineas berlomba-lomba memilih jalan aman. Lihat layar lebar kita dipenuhi dengan sekuel (Get Married, Tarix Jabrixx dan Kawin Kontrak) atau karya adaptasi (Jangan sampai saya membahas soal Dee dan semua film adaptasi novelnya)
Salah satu adaptasi yang paling terkenal adalah Tetralogi Laskar Pelangi.
Berangkat sekitar 5 tahun yang lalu, kita melihat bagaimana Mirles Production dan Riri Riza membahasakan secara audio visual bait-bait kata dari Andrea Hirata. Hasilnya luar biasa, bukan hanya box office tetapi menjadi sebuah legenda.
Kemudian tim yang sama menggarap Sang Pemimpi. Sekuel dari Laskar Pelangi. Hasilnya sukses besar. Menggaet aktor teater dan masyarakat asli Belitong membuat 'rasa' film ini begitu khas dan penuh unsur nostalgia.
Dua film yang sukses memunculkan pertanyaan; Apakah film ketiga akan diproduksi?
Mirles production mantap mengatakan iya. Sayang, Sang Simpai Keramat harus masuk penjara terkait perbuatan asusila.
Produksi terhenti, tapi bukan itu faktor utamanya.
Edensor, novel ketiga yang akan diangkat sebagai sebuah film ini memiliki tantangan yang sangat besar. Plot utama dari novel ini adalah bagaimana Arai dan Ikal bertahan hidup di Prancis dan mewujudkan mimpi mereka untuk menjelajah tanah Eropa.
Butuh lebih dari sekedar penerjemah bahasa untuk menjadikan film yang satu ini sesuai dengan ekspektasi. Perlu riset, perlu booked lokasi dan sebagainya. Terlebih, menurut Riri Riza, gaya Andrea Hirata dalam menulis sudah sangat sinematografis. Saya setuju, karena setiap kali masuk semakin jauh di setiap halaman bukunya, saya seolah sedang berada di sana. Melihat sendiri bagaimana sungai Seine, turut merasakan kedinginan dari Arai dan Ikal saat berada di Rusia dan lain sebagainya.
Apa mau dikata, sepertinya pihak pemberi dana sudah begitu kebelet ingin segera mengangkat film ini ke layar lebar.
"Mumpung masih diingat orang" Begitu mungkin pikirnya.
Bentrok masalah waktu pelaksanaan produksi membuat Mirles akhirnya mundur. Shock bagi semua orang. Shock terutama bagi pembela Laskar Pelangi.
Pertanyaan berikutnya muncul, siapa lantas yang menyutradarai film ini?
Kemudian muncul nama Putrama Tuta, sutradara muda yang dengan apik membuat versi baru dari Catatan Si Boy. Dengan percaya diri Mizan Production serta Tim membuat prescon, mengatakan bahwa mereka akan membuat Edensor yang berbeda dari di novel.
Fine, saya bilang. Mungkin begitu cara tim baru ini membentuk antisipasi masyarakat terhadap pergantian sutradara yang pastinya membawa nuansa baru dalam film.
Namun saya terkejut saat melihat Official Trailernya dan disana terpasang nama Benni Setiawan sebagai sutradara.
Siapa Benni Setiawan? Izinkan saya jelaskan.
Benni Setiawan adalah sutradara dari Bangun Lagi Dong Lupus. Kenapa? Anda tidak tahu ada film itu? Well congrats, you're not alone.
Benni Setiawan adalah sutradara dari 3 hari 2 dunia 1 cinta. Filmnya menang FFI lho. Begitu pula dengan dia. Well... tapi kamu masih percaya sama perhelatan FFI?
Benni Setiawan adalah orang yang diberi dana sangat besar untuk membawa satu tim ke Paris, Prancis untuk syuting film sekuel yang ternyata jauh... jauh dari harapan saya
Benni Setiawan harus sekolah sutradara lagi karena ia tidak bisa membedakan mana rasa film dan sinetron
Benni Setiawan membuat Andrea Hirata menelan ludahnya sendiri. Pada novel Sang Pemimpi, Andrea menulis betapa film Indonesia banyak sekali adegan makan. Mengulang adegan. Dalam Edensor, selama 30 menit Anda akan melihat 8746x adegan Ikal/Arai pulang kampus-buka pintu-menggantung jaket.
Benni Setiawan membuat kita yakin, bahwa Prancis hanya sebatas Eiffel, Gang sempit, dan Jembatan Cinta Pont des Art . Jangan berharap kalian akan disuguhkan dengan keagungan tanah Eropa disini. Tidak akan ada.
Benni Setiawan membuat kita bingung. Bukan, bukan bingung seperti menonton Inception. Tapi bingung dengan latar belakang waktu dari pengambilan film ini. Bukankah semua tetralogi Laskar Pelangi bercerita tentang jaman dahulu? Terus kenapa ada kamera SLR terbaru, serta iklan iPhone dan Nokia Lumia yang bocor kamera. Belu lagi perihal adegan Mathias Muchus ke Kantor Pos dimana papan nama Kantor Posnya menggunakan logo baru! Ya Tuhan! Ya Tuhan!
Benni Setiawan membawa kita pada keindahan alam Belitong yang memang sudah indah dari sananya, tidak dipoles lagi sehingga terkesan 'ndeso' nya.
Benni Setiawan bukan hanya mengobrak abrik jalan cerita. Namun juga mengubah karakter dari tokoh. Ikal menjadi lincah kebanyakan gula dan Arai menjadi si kaku yang serius. (Tolonglah.... baca novelnya sebelum kau buat filmnya, Boi)
Benni Setiawan memaksa penonton percaya bahwa Make Up Artist yang dia pilih adalah titisan Nyi Roro Kidul karena pada saat Ikal remaja dan Ikal dewasa, Mathias Muchus tidak mengalami penuaan sama sekali. Wow. Apa resepnya? SK II with Pitera essence?
Benni Setiawan tidak tahu diuntung karena bukan hanya sebuah novel yang ia punya tetapi dia punya dua film terdahulu dan penulis yang masih hidup yang merupakan tokoh utama dari kisah ini untuk dijadikan referensi.
Benni Setiawan terlalu sibuk menyutradarai sehingga ia lupa bahwa scoring filmnya itu-itu aja. Geez.
Benni Setiawan terlalu takut memakai judul tunggal Edensor dan memilih menggunakan judul Laskar Pelangi Sekuel 2 Edensor. Yang mana ini merupakan bumerang. Karena saya mempertanyakan, selain para pemain mana continuitynya dengan cerita Laskar Pelangi dan MANA EDENSORNYA FOR GOD SAKE!
Benni Setiawan tidak hadir di Gala Premiere. Dia bilang banyak kerjaan. Saya rasa, dia takut menerima angry mob.
Benni Setiawan membuat saya yakin, di sebuah tempat Mira Lesmana sedang menulis email kepada pihak Mizan dan berkata "Ojo kesusu toh mas....."
Saya tidak membandingkan film ini dengan novelnya
Saya tidak membandingkan film ini dengan prekuelnya
Saya melihat film ini sebagai objek tunggal dan saya tetap menilai ini gagal.
Kau gantung sajalah mimpi-mimpi itu, Boi.
ps: Maaf untuk mas-mas yang menonton di samping saya dan Valine. Iya kami emang berisik...... *suwun*