... Nis, ayo kita keluar, lihat seberapa menakjubkannya dunia ini!
[Disclaimer! Aku mau mengulang cerita yang pernah aku alami dulu, bukan untuk playing victim, mengumbar kebencian, ataupun membuat orang lain terlihat jahat, big no! Aku hanya mau berbagi dari sudut pandangku dan memahami semua itu bagian dari kehidupan, barangkali aku pernah melakukan kesalahan yang menyebabkan orang lain have bad days atau barangkali ini tes buat diriku memahami bagaimana dunia ini bekerja. Aku harap aku selalu bisa berpikir dan menyikapinya dengan bijak.]
Aku sudah membuat daftar pertanyaan dari topik yang mau kubahas, here we go!
1) Kenapa aku jadi terkesan anti sosial?
Pada dasarnya, aku tidak ada masalah dengan bersosialisasi saat masih anak-anak. Masa TK ku dihabiskan dengan lari-larian sendiri, egois sendiri, tapi i'm literally fine when i'm alone.
Kelas 1 MIN sampai kelas tiga juga tidak ada masalah serius, aku sering istirahat sendiri membeli makanan dan menghabiskannnya, aku berbicara dengan temanku tanpa pilih-pilih, aku mengerjakan pr atau latihan sendiri, aku ke sekolah diantar mama dan pulang berjalan kaki ke rumah nenekku--yang dekat dengan sekolahku dulu--untuk menunggu Mama selesai mengajar di TK dan bermain dengan sepupuku. It's nice to remembered.
Aku bisa berbaur di sekolah meski cenderung pendiam saat pelajaran dan aku punya teman di rumah yang bisa kuajak main--sering kupaksa juga, maafkeun, ditambah sorenya aku masih ikut Mama mengajar TK Al-qur'an di Murung.
Semua kegiatan menyenangkan karena aku sering ke luar rumah dan bermain, tanpa ada hal serius yang dipikirkan.
Sampai hal lain terjadi, teman terdekatku di rumah tidak lagi menjadi teman dekatku karena suatu alasan, dia tidak mengacuhkanku lagi, aku pulang ke rumah dan menjadi sendiri.
Tak jauh beda di sekolah, aku yang dulu cukup mandiri, sekarang harus merasa tidak baik-baik saja ketika lingkaran pertemananku tidak lengkap, aku punya sejenis kelompok--adaptasi dari teman kelas yang lain juga melakukannya.
Bisa dikatakan kegiatanku setelahnya benar-benar monoton, pergi ke sekolah dengan hati tidak tenang, di sekolah pengen cepat-cepat pulang karena tertekan, di rumah sendirian karena aku tidak ikut kegiatan lain lagi. Sekolah-rumah-repeat!
Belum lagi ditambah masalah emosi dan mental yang membentukku makin terpuruk, aku yang bingung bagaimana cara membalas ucapan atau perilaku orang yang seenaknya padaku. Aku yang tidak mengerti esensi sekolah dengan benar dan syukurnya aku punya keinginan untuk memperoleh nilai yang besar--meski hanya di beberapa mata pelajaran yang kusukai.
Waktu terus berjalan dengan kepribadianku yang mulai menjauh dari peredaran sosialisasi, aku hanya sekolah dengan sekadarnya tapi karena Mama menanamkanku untuk berniat sekolah menuntut ilmu kepada-Nya, aku lebih serius--setelahnya pulang ke rumah, makan, lalu menonton TV sambil rebahan di kasur, ke pada siapa aku bisa berbicara?
Aku sendiri dengan duniaku yang sepi, terasa kosong dan menyedihkan.
Tenang saja, tidak semua hariku buruk kok, ada saatnya aku tertawa dan tersenyum bersama teman-temanku, thankyou guys.
Barangkali memang sifat alami ku yang agak pendiam? I think so, aku sering merasa tidak nyaman saat keluar rumah dan sering menghabiskan waktu di kamar sendirian, betah banget yaampun.
Masalahnya adalah aku yang tidak lagi memerhatikan bagaimana dunia luar sudah berubah seiring waktu dan mengurungku pada duniaku sendiri, it's big problem, aku tidak mau mengacaukan masa depanku dengan sikap anti sosial.
Sampai sekarang pun aku masih belum bisa tenang dan merasa sering tertekan saat di luar, harus apa aku? It's simple, sering-sering keluar rumah, belajar bersosialisasi, dan perhatikan bagaimana dunia bekerja, lalu adaptasi dirimu dengan memfilter hal-hal yang bisa diterima logika dan imanmu. Lalu, kenapa kamu masih merasakan hal yang sama meski sudah cukup tahu metodenya? It's so hard to do, i'm alone, my friend just my think, i doubt to do something--hiperbola sedikit, ya.
Bahkan, aku sering bingung terhadap apa yang kurasakan, apa aku sedang marah saat teman-temanku mengejek dan membuatku kesal lalu mempertanyakan, apa aku berhak marah atas perlakuan mereka? Bagaimana aku mengekspresikan kemarahanku dengan tepat? Apa jika aku menunjukkan kemarahanku pada mereka, mereka akan lari atau mencapku jahat, atau tidak menganggapku teman lagi? Huh, jalan mudahnya aku diam dan merasa baik-baik saja sembari menenangkan diri, mereka cuma bercanda--bullshit, nis, kamu aja yang lemah!
So pathetic when i think, what if i have sister yang bisa mengajakku bicara dan aku bisa menceritakan hari-hariku kepadanya? No one can talk to me, no one understand what i feel.
Aku kayak hidup di duniaku sendiri dengan pemikiran yang terkadang membuatku semakin buruk dan pesimis, aku terisi oleh itu untuk waktu yang lama.
Fanfic for me, aku semakin menambah timbanganku, apa itu bisa dikatakan indikasi bahagia seperti kata orang-orang? Haha, so funny!
2) Kenapa aku jadi malas beberes?
Percaya tidak dahulu saat aku masih anak-anak, aku seorang yang rajin melakukan pekerjaan rumah tanpa perlu disuruh? It's me.
Aku kecil yang pernah dapat pelajaran bahwa membantu orangtua itu dapat pahala, lalu aku berpikir apa pahala bisa bertambah jika aku melakukanya tanpa disuruh? My mom said yes. Aku memikirkan akan ada koin-koin emas yang terkumpul sebagai wujud pahala yang mengisi tabunganku.
Mulailah, aku yang mencuci pakaianku bertambah pakaian yang lain, aku yang mencuci piring, menyapu, mengepel, aku merasa senang dan sibuk dengan pekerjaan tersebut, meskipun kadang aku absen. Aku jadi anak yang rajin dan mau membantu saat disuruh orang sekitarku. Di mana titik yang membuatku berhenti? I can tell you.
Suatu hari, saat aku sedang sendirian di rumah dan baru selesai membersihkan rumah, aku sedang duduk di dapur memakan makan siangku berisi telur yang baru kugoreng serta nasi, kerupuk, dan kecap, lalu ada yang datang ke rumahku dan mengatakan, kurang lebih begini, "Wah, makan itu aja, ya. Kasihan ih kamu capek-capek, nanti tangannya jadi kasar loh, masih muda padahal," aku hanya diam sampai mereka pergi, berikutnya aku makan sembari menangis, bingung.
Bisa saja perkataan mereka tersebut dianggap bercanda, menasihati, atau yang lainnya, tapi karena ada perkataan begitu, aku menjadi mempertanyakan kepada diriku, "Kamu oke nis dengan semua ini?"
Belum lagi ada omongan tetangga yang membuatku semakin hari semakin terpuruk. Lambat laun, jadilah diriku yang hanya berdiam diri di rumah tanpa mengerjakan apapun yang dulu rajin kukerjakan--im being lazy.
Kalau ditanya 2020 sekarang bagaimana? Juni ini aku kembali merekonstruksi pola pikir dan as semangatku, aku lebih baik.
3) Kenapa aku suka insecure?
Ketidakpercayaan diriku disebabkan pola pikirku yang tidak punya acuan jelas tentang definisi percaya diri.
Aku dikenalkan orang-orang tentang beauty standar tanpa disadari dengan mengajukan kalimat yang membuatku perlahan berpikir, "Im ugly, huh," ada yang terang-terangan maupun sindiran.
Dari psikis maupun fisik aku cukup kenyang diserang, diam dan memendam adalah caraku untuk bertahan.
Omongan-omongan yang melemahkan, pastinya sedikit banyak mengubahku menjadi meragukan kemampuan diriku sendiri, aku tidak punya gambaran jelas bagaimana aku bisa berpikir untuk melawan argumen tersebut.
Aku teringat pada mata pelajaran matematika, di situ guruku memberikan pertanyaan tentang perkalian, kami berebut menjawab, sampai aku dapet giliran, "Dua lima," ucapku.
Kemudian, guruku tersebut mengoreksi jawabanku, suasana menjadi hening, "Salah jawabanmu, yang benar dua puluh lima," semenjak itu aku semakin pasif. Aku mengerti guruku mengoreksi untuk kebaikanku, tapi aku yang tidak mengerti tentang menyikapi koreksi saat aku melakukan kesalahan sewaktu dulu.
Aku tumbuh dengan ketidakpercayaan terhadap diriku dan seringkali beranggapan orang lain mempunyai opini yang benar.
Aku yang mengikuti kata orang lain dan mensenyapkan kata hatiku sendiri.
Aku yang memeluk erat pendapat orang lain dan mendorong dengan keras pendapat yang kupunya.
Aku, yang berlaku tidak adil terhadap diriku atas dasar ketidakyakinan bahwa aku bisa memiliki pendapat dan argumen yang dapat dipegang.
Lalu, ada satu hal yang menyadarkanku bahwa aku juga bisa punya pendirian. Aku yang suka menonton TV tentang berita politik dan tentang motivasi--aku inget banget dulu sering nonton Golden Ways--lalu berdebat dengan kakakku, cukup menyadarkanku banyak hal.
Kini, aku berusaha mencari jalan supaya diriku mempunyai keterampilan komunikasi yang baik ke siapa aja dengan sopan dan santun, semoga aku segera mewujudkannya, amin.