Mumpung masih muda, masih sehat matanya, masih kuat punggungnya, masih jernih isi kepalanya, banyak-banyaklah membaca. Siapa yang tahu nanti ketika tua ternyata kemampuan mata dan kekuatan tubuh yang semakin melemah membuat kita kesusahan untuk membaca?
Bebas membaca apapun. Yang penting dengan membaca itu setidaknya membuat otak kita ternutrisi dan tak berhenti berpikir.
Membuat pola pikir kita lebih baik. Membuat rasa penasaran kita memuncak sehingga kita bersemangat untuk menganalisisnya lebih jauh.
Tak hanya buku, kita juga harus bisa membaca alam. Gemericik air, udara dingin, kabut senja. Sampai daun gugur. Bertafakkur mencari makna-makna diantara ayat-ayat kauniyahNya. Menghubungan pelajaran-pelajaran alam dengan kehidupan sehari-hari.
Kita juga perlu membaca diri sendiri. Mengaca dengan diri sendiri, membandingkan kebaikan-kebaikan kita dengan keburukan-keburukan kita. Berkontemplasi dan mengintrospeksi diri sendiri.
Tak ketinggalan, kita juga semestinya membaca masa lalu. Membaca hari-hari yang sudah terlewati untuk agar supaya bisa diperbaiki hari ini, misalnya.
Bacalah juga lingkungan dan orang-orang yang kita temui setiap harinya. Membaca mata penuh harap dari pedagang asongan atau seorang pengamen. Membaca wajah-wajah tegar dari setiap ibu yang tak sengaja kita temui dijalan sambil beliau menggendong anaknya. Membaca ayah-ayah yang rela bermacetan, berpanasan untuk mencapai jalan jihad menafkahi keluarga. Membaca wajah antusias teman-teman kuliah yang begitu semangat dan gigih dalam belajarnya.
Sejatinya, yang paling penting untuk kita adalah membaca ayat-ayat langitNya. Membaca makna-makna hingga kita rindu untuk mengulang setiap detik yang diberikan kepada kita. Menuruti apa yang menjadi kehendakNya. Mengiyakan dengan lembut segala titahNya. Itulah sejatinya inti dari membaca.