Indah Permatasari - Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu oleh Prof Marsigit
Filsafat merupakan olah pikir, yaitu hubungan dari semua yang ada dan yang mungkin ada, sehingga dasar dalam berfilsafat adalah berpikir. Proses berpikir dapat digolongkan ke dalam beberapa jenis, diantaranya berpikir analitik dan berpikir intuitif. Menurut Herdy (2007), bahwa pola berpikir manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan terdapat dua cara, yaitu cara analitik yang berupa penalaran induktif dan deduktif serta cara non analitik yang berupa intuisi.
Salah satu proses berpikir yang menarik bagi saya adalah pemahaman intuitif Menurut Prof Marsigit, pemahaman intuitif merupakan landasan dalam bermatematika. Pemahaman intuitif itu seperti pengetahuan tentang besar, kecil, panjang, pendek, dekat, jauh, tinggi, rendah, senang, sedih, indah, sayang, cinta, sedikit, banyak, satu, dua, lima, sama, beda, gabung, pisah, nyaman, setia, bundar, lancip, miring, lurus, lebih, kurang, ... dst.
Matematika merupakan suatu ilmu yang dianggap sulit oleh sebagian besar kalangan masyarakat. Kesulitan belajar siswa bukan semata-mata karena matematika itu sulit namun proses pembelajarannya yang kurang tepat. Dalam matematika, kita dituntut untuk berpikir bagaimana menyelesaikan suatu masalah, sehingga yang berperan disini adalah proses kognitif.
Dalam tulisan ini saya mencoba membahas salah satu proses berpikir siswa dalam matematika yaitu cara non analitik berupa ituisi. Pemahaman intuitif adalah pemahaman yang muncul secara subjektif dan dapat diterima dengan sendirinya dan diterima secara langsung tanpa perlu bukti formal. Misal pengetahuan tenatng bilangan 1, 2, 3, dst. Kita tidak mengetahui kapan, mengapa dan bagaimana kita mengetahui bilangan-bilangan itu. Kita hanya mengetahui begitu saja. pengetahuan intuitif seperti ini akan membantu siswa dalam membangun struktur pengetahuan mereka, sehingga landasan bermatematika mereka juga kuat, oleh karena itu, pengetahuan matematika SD hendaknya dibangun dengan pemahaman intuitif.
Menurut Kant matematika merupakan suatu penalaran yang bersifat mengkonstruksi konsep-konsep secara syntetik a priori dalam konsep ruang dan waktu. Pemahaman maupun konstruksi matematika diperoleh dengan cara terlebih dulu menemukan “intuisi murni” pada akal atau pikiran kita (Kant, I. dalam Marsigit, 2004).
Berdasarkan pendapat Kant tersebut, kita bisa melihat hubungan filsafat dengan matematika sangat erat. Salah satu yang dapat menjelaskan keduanya adalah pemahaman intuitif.
Salah satu penerapan intuisi dalam matematika yaitu dalam materi aritmetika. Kant (Kant, I. dalam Marsigit, 2004) berpendapat bahwa proposisi-proposisi aritmetika seharusnya bersifat sintetik agar diperoleh konsep-konsep baru. Jika hanya mengandalkan metode analitik, maka tidak akan diperoleh konsep-konsep baru. Jika kita menyebut “1” sebagai bilangan asli dan hanya sampai pada penyebutan itu, maka kita tidak memperoleh konsep baru selain dari yang telah disebut itu; dan tentunya ini bersifat analitik. Tetapi jika kita memikirkan penjumlahan 2+3=5, secara intuisi 2 dan 3 adalah konsep-konsep yang berbeda dan 5 adalah konsep yang lain pula. Jadi 2+3 telah menghasilkan konsep yang baru yaitu 5; dan hal demikian tentunya bersifat sintetik.
Jika disimak dari struktur kalimat, pernyataan “2+3=5” mempunyai “2+3” sebagai subjek dan “5” sebagai predikat. Konsep yang terkandung di dalam predikat yaitu 5, tidak terkandung di dalam konsep “2+3”, yaitu bahwa subyek tidak memuat predikat. Hal demikianlah yang menurut Kant sebagai prinsip sintetik dalam aritmetika. Dengan demikian, menurut Kant, di dalam matematika kita tidak cukup hanya mendefinisikan suatu konsep, karena mendefinisikan hanyalah bersifat analitik. Misal pernyataan “1 adalah bilangan asli terkecil”; ini hanyalah pernyataan yang hanya bersifat “Analitik” (Marsigit, 2004).
Marsigit. (2004). Peran Intuisi Dalam Matematika Menurut Immanuel Kant.
Sofia Sa’o. (2016). Berpikir Intuitif Sebagai Solusi Mengatasi Rendahnya Prestasi Belajar Matematika. Jurnal Review Pembelajaran Matematika, 1(1), 43 - 56