Tadi aku membaca sebuah kutipan yang sangat menyentuh. Kurang lebih bunyinya seperti ini, "setiap tangan yang menadah ke langit, tidak akan kembali dalam keadaan kosong".
Suatu waktu, aku juga pernah membaca sebuah tulisan yang menyatakan bahwa doa itu ajaib. Berbisik di bumi, namun terdengar hingga ke penjuru langit. Sungguh, ajaib.
Lalu aku teringat pembahasan di Monday Date bersama Quran Review tentang bisikan syaitan yang membuat kita sungkan untuk berdoa kepada Allah. Begitu dahsyatnya sebuah doa, sampai-sampai syaitan saja mencoba menghalangi kekhusyukan dalam mengerjakannya.
Kemudian aku teringat firman Allah tentang seruan untuk berdoa kepada-Nya. "Berdoalah kepadaku niscaya akan kuperkenankan bagimu" [QS.40:60]. Bahkan, Allah saja tidak pernah bosan mendengar doa-doa kita. Lantas, mengapa kita bosan untuk memanjatkan doa dan meminta kepada-Nya?
Begitu luar biasanya kekuatan doa—tiga huruf sarat makna: mengubah kemustahilan menjadi sebuah keniscayaan. Jika takdir dapat diubah, maka perubahannya pun sudah ditakdirkan. Berkat kekuatan sebuah doa.
Maka, berdoalah. Sampaikan padanya apa-apa yang bahkan tak bisa terucap oleh lisan; segala hal bahkan akal saja tak sampai memikirkannya; segala hal yang hanya mampu terpatri di dalam kalbu.
Berdoalah.
















