[KEPADA SIAPA SELAIN AKU] - Review Buku āAkuā
Pertama kali aku membaca puisinya adalah ketika SMP, di dalam mushala, ketika class meeting; lomba baca puisi.
Masih sangat kental dalam ingatan, kupegang selembar kertas bersajak lantunan lantunan syair merdu berjudul āDoaā.
ā Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
cahya-Mu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi.ā
Lalu diantara jeda, ada riuh rendah tepuk tangan di kepala. Dadaku naik turun, nafasku tidak teratur.
Aku nervous.
Kulanjutkan saja.
Pura pura acuh.
"Tuhanku
Aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing Tuhanku
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpalingā
Lega luar biasa rasa setelahnya.
Kala itu, puisi2 Chairil nampak asing untuk dicerna. Aku cuma tau 2 judul puisinya : Aku, dan Doa. Dua duanya sama2 susah dimengerti. Apakah bentuk puisi bahasa Indonesia memang seperti ini, susah dicerna?
Siapa sih Chairil Anwar itu?
Apa hebatnya?
Pertanyaanku ternyata hanya menggantung begitu saja.
Beberapa tahun setelahnya, ketika nonton film Ada Apa Dengan Cinta, salah satu yang menarik perhatian adalah buku karya Sjuman Djaya judulnya Aku.
Apasih itu? Kumpulan puisi?
Sejak detik itu aku sangat menikmati film AADC dan curious enogh karena buku Aku.
Tapi, nggak ada niat untuk baca, pun beli.
Beberapa tahun setelahnya, mungkin setelah nonton film AADC lagi, berulang, belasan kali, aku penasaran sekali!
Apasih isinya???
Cari2 online, tidak ditemukan pdf sama sekali.
Aku keburu mati penasaran. Maka tidak bisa lah beli online juga.
Beberapa waktu lalu dengan secara tidak sengaja, i found it. Di Gramedia Pejaten, Jakarta.
Buku itu cuma berisi 151 halaman, cetakan tahun 1980an. Dan isinya bukan kumpulan puisi.
Isinya adalah script film karya Sjuman Djaya yang tidak sempat naik ke lensa kita.
Ril, sebagai manusia bebas, si anak kecil bermata merah, adalah manusia bebas, lepas.
āJadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kasongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kecup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam..ā
Lihat, kan?
Betapa bebasnya dia mengatur sajak sajaknya sehingga menampilkan sosoknya seolah2 liar dan lepas.
Chairil digambarkan sebagai sosok yang nyentrik, pecinta wanita, pujangga kelas kakap, keras kepala, penuh kiasan namun lugas, dan manusia yang ingin hiduo abadi, ingin hidup 1000 tahun lagi.
Menikmati tokoh Chairil/Ril dalam buku Aku seperti sedang menikmati moziaik-mozaik film di kepala sendiri, versi imaji kita sendiri.
Tokoh tokoh yang ada, sikap2 yang menggambarkan Chairil, sajak2nya yang nyelempit di setiap cerita membikin pembaca memahami bagaimana sosok Chairil kala itu.
Ia sosok yang takut tuhan, takut kematian, tapi ingin hidup abadi tanpa mati.
Hapsah, Pai, Mirat kecil, Roosye, Ida adalah nama2 perempuan yang pernah singgah di pelupuk mata seorang Ril. Entah yang nyata, entah yang hanya sebatas khayalan saja.
Tapi ia juga seorang pejuang!
Yang jadi pesakitan ketika melihat orang orang mati di jalan, atau bergelantungan di jembatan, atau yang mati kena tembakan, atau diserang para bajingan.
Ia yang menuliskan kata2 perjuangan, yang ditempel2 dan menjadi propaganda tulis kala ā45. Yang posternya dipampang di tiap-tiap gerbong kereta.
Di Karawang, Jakarta, atau daerah daerah kecil lainnya.
Buku ini ditutup dengan syair2 terakhir Chairil.
āAngkatan 1945 harus berdiri sendiri, menjalankan dengan tabah dan berani nasibnya sendiri, menjadi pernyataan Revolusi!ā
Chairil digambarkan seperti melawan takdirnya sendiri di saat2 terakhirnya.
Ia berjalan sambil tersenyum di atas pasir putih dengan bulan bersinar lembut diatasnya, dengan seolah Ida berada disisinya. (Ida adalah perempuan khayalan yang diciptakan Chairil)
Sambil berjalan ia bilang :
āBukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masingā¦ā
Cerita juga ditutup dengan sekilas judul syairnya yang terkenal :
Ternyata betul, pujangga kita tidak pernah bermain main dengan tulisannya.
Lebih baik bermain dengan hidupnya sendiri ketimbang dengan sajak sajak yang ia tulis.
Membaca buku ini membuat pikiran saya melayang ke Indonesia 70 tahun silam. Gambaran-gambaran jelas tentang perjuangan, kematian, dan kehidupan yang begitu kental dengan belenggu dapat kita nikmati lembar demi lembarnya.
Membaca buku ini tidak rugi sama sekali, jika kalian tidak suka membaca, atau bahkan enggan menyentuh buku sastra, coba saja menengok satu dua halaman depan, tengah, atau belakang, siapa tahu buku Aku karya Sjuman Djaya ini bisa membantu membuka pikiran dan mata.