Barangkali satu-satunya peperangan hebat yang sering terjadi pada diri kita meski tersembunyi adalah peperangan antara kita dengan diri kita sendiri. Salah satunya, peperangan itu dapat terjadi ketika kita sekuat tenaga belajar untuk menjadi tuan atas perasaan kita sendiri. Di satu sisi, entah bagaimana perasaan-perasaan sangat mudah mendominasi, tapi di sisi lain, kita pun sadar diri bahwa kita harus memegang kendali.
Bukan hanya sedih, marah, kecewa, gusar, khawatir, dan segala turunannya, bahagia, cinta, dan suka cita pun tak jarang menjadi ujian tersendiri bagi kita untuk mengendalikannya. Meredakan perasaan tak jarang jadi sama tidak mudahnya dengan menghadapi perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakannya, bukan?
Sebagian orang cukup peka untuk menebak dan menamai apa-apa yang dirasakannya, “Oh, aku sedang sedih karena …” tapi sebagian yang lain justru sebaliknya: bingung atas perasaannya sendiri, “Perasaanku ini bagaimana? Aku ini kenapa?” dan seterusnya. Kamu tahu, kebingungan itulah yang tanpa disadari sering membuat keadaan menjadi lebih rumit lagi. Tak tahu sakitnya dimana dan apa yang menyebabkannya, hingga tak tahu pula bagaimana mengobatinya.
Hmm, benang-benang kusut ini rumit, ya! Tapi, ada informasi berharga di tengah-tengah kerumitan itu. Dengan cara-Nya yang tak terduga, kita sedang diperkenalkan dengan kelemahan-kelemahan kita. Kita sedang diberi-Nya satu lagi pengetahuan tentang diri kita sendiri, bahwa selemah itulah kita sebagai manusia. Tiada daya dan upaya tanpa pertolongan-Nya, termasuk dalam urusan-urusan mengendalikan perasaan. Informasi ini sekaligus juga mengabarkan sesuatu kepada kita bahwa Dialah yang Maha Besar, Maha Kuat, dan Maha Tidak Tergoyahkan, yang semoga membuat kita menjadi paham bahwa bersandar pada diri bukanlah pilihan.
Maka, sebelum menjadi tuan atas perasaan-perasaan kita, kiranya kita perlu merendahkan diri terlebih dahulu untuk mau menerima bahwa Allahlah yang menjadi tuan atas segala tuan, tempat kita menghamba dan mengembalikan segala yang tak tergenggam, termasuk perasaan.
Kau tahu, semua perasaan sifatnya sementara, sekarang sedih besok mungkin bahagia. Namun, ada yang tidak boleh sementara, yaitu terpautnya jiwa kepada-Nya.