Alif: Berani Jadi Pemula
Ada sesuatu yang menenangkan dalam kata alif,,, huruf pertama yang tegak sederhana, tapi menjadi awal dari segalanya.
Aku memilih mulai dari alif,,, bukan karena aku tak bisa, tetapi karena aku ingin benar sejak awal.
Menjadi pemula bukan aib. Itu keberanian meletakkan gengsi agar niat berjalan lebih dulu daripada nama.
Sebab di zaman di mana semua orang ingin terlihat sudah sampai, hanya sedikit yang berani mengakui bahwa dirinya baru memulai.
Ilmu tumbuh saat hati diluruskan,,, dibaca pelan, diulang sabar, disaksikan malaikat, disucikan tujuan.
Tak perlu tergesa menjadi hebat, cukup istiqamah dalam belajar, karena setiap pemahaman yang lahir dari ketenangan lebih langgeng daripada hafalan yang dipaksa oleh ambisi.
Aku belajar bahwa tatapan orang cepat berlalu. Hari ini mereka memuji, besok mungkin mencela. Yang tinggal hanyalah niat dan istiqamah, dua hal yang tak bisa dipertontonkan, tapi akan menuntun langkah bahkan di saat tak ada yang melihat.
Dan kebenaran,,, aku pelan² mengerti,,, bukan hanya soal isi yang tepat, tapi juga cara yang benar,,, waktunya lembut, dalilnya sahih, bahasanya memuliakan lawan bicara.
Sebab tidak semua benar harus diucapkan sekarang, dan tidak semua yang didengar harus disampaikan kembali tanpa adab.
Aku belajar menjelaskan setelah memahami, menyampaikan setelah menundukkan diri,,, karena hikmah tak lahir dari kepala yang penuh, tapi dari hati yang bersih.
“Aku memulai dari alif, agar setiap huruf setelahnya berjalan di bawah niat yang jernih.”
Dan mungkin memang begitu seharusnya setiap perjalanan dimulai,,, dengan rendah hati, dengan kesadaran bahwa belajar bukan perlombaan.
Sebab menjadi pemula yang jujur jauh lebih terhormat, daripada ahli yang kehilangan arah.




















